Tidak Benar Naik Rp50 Ribu, Masih Wacana, Tarifnya Belum Diketahui

Tidak Benar Naik Rp50 Ribu, Masih Wacana, Tarifnya Belum Diketahui

  Senin, 22 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK – Belakangan ini wacana kenaikan harga rokok hingga Rp50 ribu per bungkus menjadi viral di media sosial dan perbincangan hangat di warung-warung kopi. Namun benarkah tarif cukai rokok akan naik sebesar itu pada September mendatang? Kepala Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Wilayah Kalimantan Barat Syaifullah Nasution mengatakan isu tersebut tidak benar. Menurut dia pihaknya belum mendapat arahan dari pusat perihal tersebut.

“Mungkin hal tersebut masih wacana, tetapi mungkin bukan bulan depan. Karena untuk menaikan cukai tentu perlu sosialisasi juga. Selain itu untuk tarif kami sendiri belum tahu. Kami menunggu informasi dari pusat juga. Kami di wilayah hanya menjalankan saja,” ujarnya belum lama ini.

Simpang siur kenaikan cukai ini juga membuat bingung anggota DPR RI Michael Jeno. Menurutnya dirinya tidak tahu ada wacana kenaikan cukai rokok sebesar itu. “Saya belum tahu ini infonya. Tetap memang lagi ramai. Tetapi kalau benar tentu saya akan tahu,” sebut dia.

Sementara itu pengamat ekonomi Eddy Suratman menyebut kenaikan harga rokok hingga berkali-kali lipat bisa menimbulkan dampak negatif, selain tentu saja dampak positif. Menurutnya rokok adalah salah satu industri paling padat karya di Indonesia. “Saya pernah berkunjung langsung ke salah satu pabrik, di sana ada ribuan orang dalam satu tempat sedang melinting rokok. Itu baru satu pabrik,” ujarnya.

Kenaikan cukai rokok, kata dia, akan membuat permintaan terhadap rokok berkurang. Akibatnya akan terjadi pemutusan hubungan kerja, pengurangan permintaan bahan baku dan berujung pada berkurangnya penerimaan pemerintah dari cukai dan pajak rokok. “Ada jutaan orang dari hulu sampai hilir di industri ini. Dari petani tembakau sampai pengecer rokok di warung kecil,” jelas dia.

Selain itu, inflasi akan meningkat. Pasalnya tembakau adalah salah satu kelompok pengeluaran terbesar masyarakat. Di Kalbar sendiri, kenaikan cukai rokok (walau tidak tinggi) sering menjadi penyumbang inflasi, di samping makanan, sandang, dan transportasi. Pasalnya rokok dikonsumsi oleh banyak orang. Hal ini menjadi tugas berat pemerintah untuk mengendalikan inflasi.

Kendati demikian, dia menilai ada juga dampak positifnya. Dia mengungkapkan rokok sebagian besar dinikmati oleh masyarakat menengah ke bawah, bahkan masyarakat miskin. Jika harga rokok menyentuh angka Rp50000, dia meyakini akan banyak orang yang berhenti merokok. Selain berhubungan dengan kesehatan, rokok adalah salah satu barang belanja yang menguras kas rumah tangga. “Sehingga biaya pengeluaran rumah tangga untuk membeli rokok bisa dihilangkan,” sebutnya.

Namun dia menyebut, konsumen rokok bisa jadi akan mencari barang substitusi apabila kantongnya tak mampu lagi. “Mungkin mereka bisa membeli tembakau dan dilinting sendiri. Atau mencari merek rokok yang lebih murah. Karena saya sendiri belum tahu bagaimana wacana itu, dan apa saja isinya,” ujarnya.

Hanya saja dia menyarankan kepada pemerintah, bila benar ingin menaikan cukai rokok setinggi itu hendaknya dilakukan secara perlahan. Pasalnya pasar akan terkejut jika dilakukan secara mendadak, dan bisa berdampak pada perekonomian. 

Eddy menyebut pemerintah harus melakukan kajian dan simulasi terhadap wacana tersebut. Apakah kenaikan cukai rokok itu akan menambah atau malah mengurangi penerimaan negara. “Secara logika sederhana tentu kas negara akan meningkat tajam karena cukai naik drastis. Tetapi itu tergantung jumlah permintaan setelah cukai naik. Apakah permintaannya stabil atau marah turun jauh. Bisa jadi malah pemasukan dari cukai rokok berkurang,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait