Tidak Ada Rusia di Olimpiade

Tidak Ada Rusia di Olimpiade

  Sabtu, 9 December 2017 10:00
Thomas Bach, Presiden IOC

LAUSANNE - Hak Rusia dalam ajang olahraga internasional benar-benar dilucuti. Komite Olimpiade Internasional (IOC) resmi menurunkan sanksi larangan tampil untuk seluruh kontingen Rusia dalam ajang Olimpaide Musim Dingin 2018 Pyeongchang, Korea Selatan.

Hukuman tersebut masih terkait dengan kasus doping raksasa yang diungkap Badan Anti Doping Dunia (WADA) November 2015 lalu. Dalam temuan itu, Rusia terbukti memalsukan sampel doping para atlet. Yang makin bikin heboh, aksi kotor itu disinyalir mendapat dukungan dari pihak-pihak berwenang termasuk pemerintah Rusia.

 “Keputusan ini diharapkan mampu menarik langkah paling dasar untuk episode buruk dalam dunia olahraga ini,” ucap Thomas Bach, Presiden IOC dilansir New Yor Times.

Jika pada Olimpiade Rio 2016 IOC masih setengah-setengah menjatuhkan sanksi, organisasi pimpinan Bach itu kali ini benar-benar tegas terhadap Rusia.

Bendera Rusia tidak akan tampak di Olimpaide Musim Dingin 2018 Pyeongchang, Korea Selatan yang berlangsung 9-25 Februari mendatang. Adapun para atlet Rusia yang tidak terbukti terlibat, bakal tampil dengan bendera Olimpiade.

Di ceremony pembukaan mereka akan berbaris di belakang bendera olimpiade. Jika di antara mereka meraih medali, tidak akan ada lagu kebangsaan Rusia yang berkumandang. Lagu kebangsaan Rusia bakal digantikan dengan Olympic anthem.

Bukan hanya atlet yang mendapatkan hukuman. Para pengurus kementerian olahraga Rusia yang menjadi bagian kontingen negara tersebut dalam Olimpiade Musim Dingin 2014 Sochi lalu juga dilarang terlibat dalam Olimpiade kali ini. Termasuk para pelatih dan dokter atlet.

Mantan menteri Olahraga Rusia Vitaly Mutko yang kini menjabat sebagai wakil perdana menteri dan mantan wakil menteri olahraga Yury Nagornykh juga mendapat hukuman larangan terlibat di seluruh ajang Olimpiade Musim Dingin di masa mendatang. Padahal, Mutko Minggu lalu baru saja mewakili pemerintah Rusia untuk hadir dalam drawing FIFA World Cup yang bakal diadalakan di Rusia tahun depan.

Bukan hanya itu, Rusia juga diwajibkan membayar denda senilai USD 15 juta (Rp 203 Miliar). Dalam rilis IOC, dana tersebut untuk menutup biaya penyelidikan sekaligus membangun sistem anti doping global yang lebih kuat di masa mendatang.

Pihak Rusia langsung merespon dingin keputusan IOC tersebut. Konstantin Kosachev, pimpinan parlemen Rusia bidang hubungan luar negeri menyebut langkah itu hanya bagian dari kampanye politik negara-negara barat untuk mengucilkan Rusia.

Namun, dia juga menyebut para pejabat olahraga Rusia harus bertanggung jawab penuh secara individu. “Itu karena mereka telah membiarkan hal ini terjadi di depan mata mereka,” ucap Kosachev.

Dmitry Peskov, juru bicara presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pemerintah dan seluruh pihak Rusia perlu menyingkirkan emosi untuk menanggapi keputusan IOC ini. Dia menyebu t pihkanya kini sedang menganalisis lebh lanjut terkait keputusan itu. “Kami masih membutuhkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan,” ucap Peskov dilansir ESPN. (irr)