Tiap Hari Belanja & Dapat Untung

Tiap Hari Belanja & Dapat Untung

  Senin, 11 December 2017 10:00

Berita Terkait

Personal ShopperPersonal shopper atau jasa titip beli jadi pekerjaan yang mulai digeluti banyak orang saat ini. Tidak sulit untuk usaha ini. Modal yang dikeluarkan juga tak terlalu besar. Seorang personal shopper hanya dituntut untuk mahir dalam menggunakan sosial media, serta memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, dengan tujuan menarik minat pembeli. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Peluang pasar yang luas, serta terbiasa berbelanja sendiri menjadi alasan Bella Insyirah Yunita berkecimpung sebagai personal shopper. Wanita berhijab ini memulai usaha jasa titip (jastip) sekitar satu bulan lalu. Meski terbilang baru, respon pelanggan yang diberikan cukup baik. Walaupun jarak antara promosi dan open order terbilang pendek. 

Lulusan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) memulai menawarkan jasanya dengan melakukan promosi, baik via instagram, whatsapp, dan promosi pribadi via personal message. Dirinya juga tidak malu menawarkan jasa titip pada teman-teman terdekatnya yang mungkin tertarik memiliki barang yang diinginkan, tapi malas berbelanja. 

“Semua barang saya upload di instagram beserta diskripsi dan harga, order dengan syarat, pembayaran di muka dan H-1 pembelian. H+1 barang akan diproses untuk diantar,” ujarnya. 

Modal awal yang digunakannya memang terlihat besar, yakni Rp3 juta. Budgeting tersebut sudah meliputi biaya tiket pesawat, akomodasi, transport selama di tempat, dan modal membeli barang titipan. Walaupun sistem jasa titip yang dikelolanya harus fullpayment H-1 pembelian barang (sudah ditetapkan waktu terakhir bayar). 

Jika barang pesanan tidak ada, tapi uang sudah di transfer, Bella tetap mengembalikan uang pada yang bersangkutan. Bella mendapatkan keuntungan sekitar Rp500 ribu setiap satu batch-nya. Besar kecilnya keuntungan yang didapatkan bergantung pada jenis dan jumlah barang yang dititipkan. 

Profesi personal shopper atau jasa titip yang semakin berkembang dan jadi peluang untuk menambah penghasilan, khususnya bagi seseorang yang belum mendapatkan pekerjaan, atau berkeinginan mencari kerja sampingan. 

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan, Dr. Helma Malini, SE., MM., mengatakan personal shopper bukanlah profesi baru dan sudah berlangsung lama. Dulunya, jasa titip ini digunakan selebriti papan atas, baik lokal maupun mancanegara yang tidak memiliki waktu berbelanja. Tidak heran, personal shopper diwajibkan memiliki kemampuan dan pengetahuan fashion yang baik. 

“Seorang personal shopper saat ini dikenal sebagai sebuah profesi atau keahlian,” tuturnya. 

Pada masa itu, personal shopper mendapatkan gaji setiap bulan dan nominalnya pun terbilang besar. Namun, seiring berkembangnya zaman, hanya bermodalkan gawai, seseorang sudah bisa menjadi seorang personal shopper. Bahkan, konsep personal shopper sudah jauh berbeda, dibandingkan masa dulu. Lebih tepatnya berubah menjadi medium.

Medium disini dimaksudkan, seorang personal shopper lebih pada mempertemukan barang yang diinginkan kepada pembelinya. Terlihat sedikit melenceng dibandingkan dengan konsep personal shopper yang ada di masa sebelumnya. Hal ini juga dikarenakan di masa itu, selain harus memiliki pengetahuan yang baik, personal shopper turun langsung ke lapangan.

“Setelah mendapatkan barang yang sesuai, ia akan membelanjakan dan diantar kembali ke pembelinya,” tutur Helma.  

Sedangkan saat ini,  personal shopper lebih pada memfoto barang, menampilkannya di website, atau sosial media. Jika ada yang tertarik, personal shopper akan membelikannya. Fee akan didapatkan personal shopper ketika terjadi transaksi jual dan beli. Personal shopper juga bisa mendapatkan fee dengan menaikkan sedikit harga barang.

“Misalnya harga barang sebesar Rp200 ribu dengan fee sebesar Rp50 ribu. Sehingga, total keseluruhan menjadi Rp 250 ribu,” pungkasnya.**

 

 

Berita Terkait