Thailand Berkabung Setahun Penuh

Thailand Berkabung Setahun Penuh

  Jumat, 14 Oktober 2016 09:30

BANGKOK – Harapan  Bhumibol Adulyadej untuk hidup hingga usia 120 tahun tak bisa kesampaian. Kemarin (13/10) Raja Thailand tersebut menghembuskan nafas terakhirnya di  Siriraj Hospital, Bangkok. Raja yang  bertahta selama 70 tahun tersebut meninggal di usia 88 tahun. Kepergian Bhumibol menjadi pukulan bagi penduduk Thailand. Sebab dia sangat dicintai oleh rakyat. Bhumibol selama ini dianggap sebagai pilar kestabilan negara.

''Yang Mulia telah meningal dunia dengan tenang di Siriraj Hospital,'' ujar pengumuman pihak istana. 

Dia meninggal pukul 15.52 waktu setempat. Proses kramasi jenazah Bhumibol diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Sebagai contoh,  kakak perempuan Bhumibol yaitu putri Galyani Vadhana yang meninggal tahun 2008 lalu. Negara berkabung selama 100 hari. Dia baru dikremasi 10 bulan setelah kematiannya. 

Istana tidak menyebutkan penyebab kematiannya. Namun kondisi kesehatannya yang terus memburuk sudah jelas sebagai penyebab. Bhumibol mengalami gagal ginjal dan akan menjalani prosedur hemodialisis dan penggantian selang untuk membantu mengeringkan cairan di tulang belakangnya pada Sabtu (8/10). Namun baru pada tahap persiapan, tekanan darah Bhumibol tiba-tiba turun drastis. Dia akhrinya harus dibantu dengan ventilator. Pada Minggu malam (9/10), pihak istana mengumumkan jika kondisi raja tidak stabil.

Sejak pengumuman tersebut, setidaknya 500-1.000 orang setiap harinya datang ke  Siriraj Hospital untuk mendoakannya. Beberapa diantaranya menginap di depan rumah sakit selama berhari-hari. Hampir seluruh warga yang datang memakai baju dan aksesoris warna merah jambu ataupun kuning. Warna merah jambu dipercaya bisa membawa nasib baik. Sedangkan warna kuning selama ini memang diidentikan dengan Bhumibol dan kerap dipakai saat perayaan hari ulang tahunnya.

Gambar profil media sosial di Thailand juga hampir semuanya serupa beberapa hari ini. Yaitu berlatar merah jambu dengan gambar hati warna kuning di tengahnya. Gambar tersebut merupakan bentuk doa dan dukungan rakyat Thailand pada Raja Bhumibol yang tengah berbaring di rumah sakit. Gambar-gambar tersebut bertuliskan Cinta Raja dan Panjang Umur Raja. Itu merupakan bentuk doa dan harapan rakyat yang tidak bisa datang langsung mendoakan. Tagar #longlivetheking juga banyak digunakan.

''Saya tahu dia (raja Red) sakit tapi saya masih tidak percaya jika hari ini tiba. Itulah kenapa saya datang kesini, saya ingin mendengar sendiri (berita kematiannya). Dia sudah seperti ayah kami,'' ujar Parichart Kaewsin sambil bercucuran air mata di depan Siriraj Hospital. 

Raja Bhumibol sudah sakit selama bertahun-tahun. Namun penduduk selalu menangis setiap membicarakan kemungkinan Thailand tanpa sang raja. Bagi sebagian besar penduduk, mereka tidak   mengenal raja  yang lain selain Bhumibol. Meski kemungkinan Bhumibol meninggal sudah ada sejak lama,  namun tetap saja berita kematiannya membuat rakyat syok. 

Beberapa kepala negara langsung menyatakan rasa belasungkawanya. Termasuk diantaranya PM India Narendra Modi, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan PM Malaysia Najib Razak. ''Raja Bhumibol Adulyadej atau Rama 9 sangat dipuja oleh rakyatnya. Rasa dukacita saya untuk keluarga dan para pemujanya,'' tulis Modi di akun Twitternya.

Pasca pengumuman kematian Bhumibol, Perdana Menteri (PM) Thailand Prayuth Chan-O-Cha mengumumkan jika Thailand akan berkabung selama satu tahun penuh terhitung sejak hari ini. Khusus untuk Pegawai Negeri Sipil dan mereka yang bekerja terkait dengan lembaga pemerintahan diminta untuk memakai baju hitam saat bekerja selama setahun kedepan. Semua hal yang berkaitan dengan hiburan harus dikurangi selama satu bulan kedepan. Bendera setengah tiang juga akan dikibarkan selama satu bulan penuh. 

Beberapa organisasi multinasional dan internasional sudah bersiap untuk mempekerjakan pegawainya dari rumah selama beberapa minggu kedepan. Perusahaan-perusahaan juga bakal membatalkan peluncuran produk baru mereka. Beberapa wahana hiburan mungkin tutup untuk sementara. 

 Prayuth juga mengungkapkan pewaris tahta telah ditentukan sejak 1972. Pemerintah akan menginformasikan parlemen terkait hal tersebut. Tidak disebutkan dengan jelas siapa pewarisnya namun Raja Bhumibol sudah menunjuk putra satu-satunya yaitu Maha Vajiralongkorn sebagai pewaris pada 1972 lalu. Dia bakal naik tahta sebagai raja yang baru. 

Putra Mahkota yang berusia 63 tahun tersebut sudah kembali ke Thailand Rabu (12/10). Dia lebih banyak tinggal di luar negeri dibandingkan di Thailand. Sebagian besar di Jerman. Tidak seperti Bhumibol, Maha tidak terlalu disukai oleh penduduk Thailand. Dia tidak mewarisi kharisma sang ayah. Penduduk Thailand menganggap Bhumibol sebagai kekuatan pemersatu bangsa.

Di lain pihak, persiapan Maha untuk menggantikan Bhumibol sudah dilakukan sejak jauh hari. Maha yang jarang tampil di publik selama dua tahun belakangan kerap menggantikan tugas-tugas ayahnya. Dia baru bisa naik tahta secara resmi setelah masa berkabung usai. Artinya  dia harus menunggu selama setahun kedepan. Ada rumor bahwa kenaikan tahtanya akan ditunda untuk menunggu raja lain yang lebih dicintai oleh rakyat.

Kematian Bhumibol juga membuat masa depan Thailand kian tidak pasti. Saat istana mengumumkan kondisinya memburuk, bursa saham ikut terpuruk. Resiko ketegangan politik pasca kematian Bhumibol juga meningkat. Hal tersebut kemungkinan bisa memicu lambatnya pertumbuhan ekonomi. Terkecuali jika suksesi berjalan mulus. 

''Kami berharap suksesi kerajaan untuk ahli waris yang ditunjuk Putra Mahkota Maha  Maha Vajiralongkorn akan stabil dan itu bakal membuat perubahan pasar karena kematian raja tidak akan berlangsung lama,'' ujar analis resiko Eurasia Group. Meski begitu, pemilu yang seharusnya digelar tahun depan mungkin bakal mundur hingga 2018 mendatang. (Reuters/AFP/sha)