Tetap Semangat Usai Cuti Lebaran

Tetap Semangat Usai Cuti Lebaran

  Senin, 4 July 2016 10:12
FOTO; LINKEDIN

Berita Terkait

Berbagai aktivitas saat lebaran tentunya membuat lelah. Rasa letih ini biasanya belum hilang ketika jadwal cuti bersama berakhir. Padahal bagi mereka yang bekerja baik pegawai negeri maupun swasta harus masuk kerja dan setumpuk pekerjaan pun menunggu. Agar tetap semangat ketika kembali ke kantor, asupan makanan harus diperhatikan.

Oleh : Marsita Riandini

RASA letih pada hari pertama masuk kerja seusai cuti bersama Idulfitri kerap dirasakan Wahyu. Apalagi libur kerja itu cukup lama. “Biasanya cuti bersama lebaran itu minimal lima hari. Pertama masuk kerja rasanya agak malas,” ujar Wahyu.

Pegawai negeri berusia 34 tahun ini menuturkan tantangan terberat ketika mulai bekerja adalah rasa kantuk. Belum lagi badan terasa lemas. Ia menyadari jika hal itu terjadi, berarti ada yang tak beres pada tubuhnya.

“Biasanya karena kolesterol saya naik. Maklumlah, saat lebaran semua makanan ada. Lemak semuanya,” kata Wahyu sambil tertawa.

Keluhan serupa dijuga dilontarkan Utami. Perempuan berusia 25 tahun ini masih merasa lelah ketika harus kembali ke kantor. “Sebab sebelum lebaran kan banyak yang harus dikerjakan. Makan juga tak teratur,” kata Utami.

Selain lelah, ia  juga merasa mengantuk. “Mungkin karena terlalu banyak makan lemak, jadi oksigen dalam darah tak lancar,” ujarnya menerka-nerka.

Siapapun pasti menyambut Hari Raya Idulfitri dengan suka cita. Apalagi pada hari kemenangan itu beragam makanan pun disajikan. Ada lontong sayur, rendang, opor ayam, sambal kentang, dan lainnya. Semua makanan iu menggugah selera. Apalagi jarang ditemui pada hari biasa. Siapa pun pasti tergoda untuk mencicipinya.

Tak sedikit yang lupa dengan kondisi kesehatannya. Semua hidangan lebaran dinikmati. Padahal, mengonsumsi seluruh hidangan lebaran bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

“Makanan bersantan, berlemak, mengandung garam dan bumbu yang cukup dominan pada hari raya. Ini tentu bisa berdampak buruk, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit degeneratif seperti kolesterol, diabetes melitus, hipertensi, dan jantung koroner,” ujar ahli gizi, Ary Mursetyo S. Si. T, MPH menjawab For Her.

Pria yang bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar ini mempersilahkan mengonsumsi hidangan Idulfitri, asalkan tak berlebihan. Pola makan merupakan perilaku terpenting yang dapat memengaruhi keadaan gizi. Kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi seseorang akan menentukan asupan gizi yang masuk dalam tubuh sehingga memengaruhi kesehatan individu dan masyarakat secara keseluruhan.

“Ada baiknya dengan memperbanyak sayuran dan buah-buahan. Aneka ragam makanan sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan makanan, tentu saja tidak lupa berolahraga,” sarannya.

Saat puasa dan lebaran banyak orang justru menjadi lebih gemuk dan berat badannya bertambah. Hal itu karena pola makan yang tidak diatur setelah berbuka.

“Karena siang harinya puasa, banyak yang berpikir setelah berbuka harus banyak makanan manis. Makanan yang berkalori tinggi adalah makanan mengandung gula dan lemak,” katanya.

Setelah makan cukup banyak pada malam hari orang cenderung tidak banyak beraktivitas sehingga tidak ada kalori yang terbakar. Itu sebabnya, meskipun lebaran  Anda tetap harus menjaga pola makan yang baik. Jangan sampai, lanjut dia setelah lebaran semangat kerja hilang, akibat beragam penyakit yang bermunculan.

Itu sebabnya, saran dia tetap mengatur pola makan dengan gizi seimbang. Artinya, Anda harus mengonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan tetap memperhatikan berbagai prinsip seperti keberagaman jenis makanan, aktivitas tubuh, berat badan ideal serta faktor usia.

“Jika tidak terjadi keseimbangan gizi dalam proses metabolism maka akan terjadi ganguan keseimbangan gizi yang bermuara pada penyakit degeneratif, hiperkolesterol, hipertensi, jantung, diabetes lain sebagainya,” jelas Ari.

Makanan sangat penting bagi tubuh terutama untuk mengembangkan, mengganti dan memperbaiki sel-sel dan jaringan agar menghasilkan energi untuk tetap fit saat bergerak dan bekerja, melakukan proses pencernaan juga metabolisme, melindungi tubuh dari infeksi dari penyakit. Tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik, jika ada satu zat gizi yang hilang. Pemenuhan gizi seimbang yaitu konsumsi makanan dalam jumlah tepat, kombinasi yang aman, serta bebas dari penyakit juga zat berbahaya.

“Jika Anda tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati, maka dengan semakin banyak seseorang makan makanan sehat dan seimbang, maka ia akan semakin sehat,” katanya.

Adapun tips memenuhi gizi seimbang  yakni dengan tetap menikmati berbagai masakan yang sehat. “Tidak ada satu makanan yang mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh, kecuali ASI untuk bayi. Mengonsumsi berbagai makanan sehat berbeda akan memasok nutrisi yang penting ke tubuh kita,” pungkasnya. **

Berita Terkait