Tetap Sehat di Tanah Suci

Tetap Sehat di Tanah Suci

  Jumat, 19 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

Suhu di Tanah Suci selama bulan haji diperkirakan mencapai lebih dari 50 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi calon haji. Selain dehidrasi, juga rentan terhadap tertularnya berbagai penyakit, terutama yang berhubungan dengan gangguan pada telinga, hidung juga tenggorokan.

Oleh : Marsita Riandini

Menunaikan ibadah haji ataupun ibadah umrah memerlukan kondisi fisik yang prima. Calon haji harus waspada sedari awal, sebab ada berbagai penyakit yang mudah menyerang. Menerapkan pola hidup sehat sangat berguna untuk menjaga kebugaran tubuh selama beribadah. Berbagai tips sehat bisa dijalani para calon haji untuk menghindari serangan berbagai penyakit. 

“Ibadah haji ataupun umrah melibatkan fisik semua. Itu sebabnya setiap jemaah harus bisa menjaga pola hidup sehat selama di Tanah Suci, agar ibadah berjalan lancar,” ujar 

dr. Eva Nurfarihah, M. Kes, Sp. THT-KL kepada For Her. 

Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini menuturkan keluhan berbagai penyakit sebenarnya bisa timbul sejak calon haji masih di tanah air, saat dalam perjalanan, selama proses beribadah, bahkan sampai pulang ke tanah air. 

“Saat naik pesawat take off atau landing bisa muncul gangguan di telinga. Seperti telinga terasa nyeri, penuh, pendengaran tertutup dan dirasakan bisa terus bahkan masih dirasakan walaupun  sudah turun dari  pesawat. Apalagi didalam pesawat lumayan lama,” ungkapnya. 

Keluhan tersebut bisa muncul bila ada gangguan pada tuba eustachi. Tuba Eustachius adalah organ pada telinga tengah yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring (termasuk rongga mulut). Tuba Eustachius berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara antara luar tubuh dengan bagian telinga tengah. 

“Tuba Eustachius  merupakan saluran sempit yg nenghubungkan telinga dengan rongga mulut dan hidung. Misalnya pada orang yang sedang batuk dan pilek. Ingus atau dahak dapat masuk ke tuba menyebabkan cairan tersebut terdorong ke dalam telinga  karena tekanan tinggi saat take off atau landing,” jelas Eva.

Telinga akan terasa nyeri karena tekanan tersebut, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai gendang telinga pecah. “Bila terjadi akan terasa nyeri sekali, telinga berdengung bahkan pendengaran berkurang,” katanya. 

Cuaca yang panas dan udara kering, serta jutaan manusia berada di sana dapat mempermudah penularan penyakit seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan demam. “Sampai ada istilah yang tidak batuk dan pilek saat ibadah haji hanya unta saja. Tidak jarang pula karena udara kering menyebabkan mukosa hidung ikut kering. Akibatnya mukosa menjadi tipis karena iritasi dan mudah berdarah. Timbul mimisan atau epistaksis, hidungnya berdarah,” katanya. 

Antisipasi dalam Perjalanan

Perjalanan ke Tanah Suci memakan waktu lama. Jika menggunakan pesawat udara dapat menyebabkan berbagai gangguan selain nyeri telinga karena tekanan udara yang tinggi dalam kabin. “Udara dalam kabin yang cenderung dingin dan kering juga mengakibatkan hidung kering dan perih,” kata dokter di RS Mitra Medika Pontianak ini.  

Pada orang yang memiliki alergi hidung (rinitis  alergi khronis) akan cenderung kambuh. Gunakanlah masker kain yang disemprot air bersih atau dibasahi sedikit air selama perjalanan agar udara yang dihirup cenderung lembab.  

“Di Tanah Suci gunakanlah selalu masker kain  lembab seperti di dalam pesawat tadi. Selain mencegah agar mukosa hidung tidak kering dan berdarah, juga dapat mencegah tertularnya beragam penyakit melalui udara karena begitu banyaknya manusia,” sarannya yang menambahkan jika memang mengharuskan untuk mengonsumsi obat alergi, maka sebaiknya minumlah obat tersebut sebagai antisipasinya.

Bila sedang sakit flu atau rhinitis alergi kambuh dapat menggunakan obat semprot hidung yang berisi dekongestan (penghilang sumbat hidung) begitu Anda memasuki kabin pesawat, sebelum pesawat mengudara (take off), dan sekitar 1 jam sebelum pesawat mendarat (landing). Tujuannya, agar tuba eustachius tetap terbuka sehingga tidak timbul rasa nyeri ataupun telinga tersumbat selama penerbangan yang bisa berlanjut sampai terkumpulnya cairan di ruang telinga tengah (otitis media effusi).  

“Mengunyah permen karet, meminum air dengan sedotan akan membantu kenyaman  karena gerakan mengunyah dan menelan dapat mencegah dan menghilangkan rasa nyeri pada gendang telinga, karena kedua gerakan ini akan menyamakan tekanan dalam rongga mulut dan ruang telinga tengah,” pungkasnya. **

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait