Terus Update Ilmu tentang Mata

Terus Update Ilmu tentang Mata

  Selasa, 5 April 2016 10:00

Berita Terkait

Pasien dari yang muda sampai lansia terlihat duduk di kursi antrian, saat  For Her bertandang ke Poli Mata Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadri. Saat itu sudah menunjukkan pukul 11.00 wib, tetapi pasien masih setia menunggu giliran. Begitulah hari-hari yang dijalani oleh dokter yang akrab disapa Yuli ini. Sebab itulah, dalam melayani pasien ia dibantu beberapa orang perawat. “Selain disini, saya juga praktek di Klinik BP Mata di Gang Padi, di Rumah Sakit Anugrah Bunda, dan Klinik Spesialis Mata serta THT A Yani,” jelasnya yang harus membagi waktu setiap harinya untuk melayani pasien dengan berbagai keluhan. 

Sejak tahun 2010 menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Yuli pun menjalankan profesinya sebagai dokter PTT.  “Disinilah saya mulai menerapkan ilmu. Dulu waktu jadi dokter umum tidak hanya sebagai dokter tetapi bisa sebagai teman, pemimpin juga sebagai penghibur. Dulu waktu PTT kita harus pintar nyanyi dangdut, kalau ada acara dokter harus nyanyi. Lagunya harus dangdut,” kenang wanita kelahiran Pontianak ini. 

Dokter merupakan salah satu profesi yang banyak diminati. Banyak anak yang bercita-cita kelak menjadi dokter. Tetapi berbeda dengan Yuli, yang bercita-cita menjadi seorang psikolog. “Dulu ingin menjadi psikolog. Ibu saya bilang inginkan salah satu anaknya menjadi dokter. Pun kata ibu, kalau jadi dokter juga bisa seperti psikolog memberikan saran bahkan bisa memberikan terapi kepada pasien,” ungkap alumni SMA N 1 Pontianak ini. 

Mengikuti saran sang ibu, ternyata memberikan kebahagiaan tersendiri baginya. Tahun 2002, dia mengikuti tes CPNS sebagai dokter di Kota Pontianak. Dia tidak menyangka ternyata lolos. Tahun 2004, melanjutkan sekolah mengambil spesialis mata.  “Alasannya karena saya ingin menjadi dokter mata karena saya menggunakan kaca mata. Saya ingin tahu bagaimana dengan kondisi mata saya ini, tidak lagi menggunakan kacamata. Tapi ternyata setelah belajar, tetap saja pilihannya kacamata,” jelas alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini. 

Lulus sebagai dokter spesialis mata, ada berbagai tantangan yang harus ia hadapi. Terutama ketika ditempatkan di Kota Pontianak dengan jumlah pasien yang cukup banyak. “Lulus tahun 2010, saya langsung ditempatkan di Ibu kota provinsi. Tingkat permintaan pasien sangat tinggi untuk suatu kesempurnaan. Walaupun saya selesai pendidikan dokter spesialis mata, mengharuskan saya tetap menambah terus pengetahuan tentang mata,” jelasnya. 

Wanita yang hobi membaca buku dan traveling ini pun menambah wawasan dengan mengikuti berbagai seminar dan kegiatan terkait yang diyakini dapat menambah wawasan. “Saya tetap belajar, baik baca maupun ikut berbagai seminar. Saya harus tahu ilmu terbaru di bidang saya, dan bisa melakukan hal-hal terbaru untuk mengaplikasikan ilmu saya,” ucap dia. 

Di Kota Pontianak ini, lanjut dia paling banyak pasien mengalami kelainan refraksi dan katarak.  Alhamdulillah sekarang bisa ditangani, kacamata gampang didapat, operasi katarak bisa dilakukan dengan teknik yang paling canggih. Tetapi kadang kasihan pasien dari daerah yang datang terlambat sehingga penanganan sulit,” ucapnya.  Melalui pendekatan yang baik, dirinya memberikan edukasi ke pasien. Terutama terkait tindakan yang akan dilakukan untuk pengobatan pasien. “Lewat pendekatan karena menghadapi berbagai latar belakang. Kalau dia sulit mengerti memahami bahasa kedokteran, jelaskan dengan bahasa awam,” ulasnya. 

Kadang, lanjutnya orang awam ketika mendengar kata operasi saja langsung takut. Padahal sekarang ini, operasi itu tidak menyeramkan, bisa dilakukan dengan alat yang mudah. Dengan waktu yang cepat dengan masa yang cepat dengan hasil maksimal. “Mengedukasi pasien harus menyesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien serta latar belakang pasien. Harus bisa masuk, memahami karakteristik pasien,”pungkasnya. ** 

Berita Terkait