Terus-terusan Disalahkan Mertua

Terus-terusan Disalahkan Mertua

  Sabtu, 28 November 2015 08:20

Bertengkar dengan mertua biasa dialami oleh banyak orang. Beragam permasalahan yang menyebabkan pertengkaran itu terjadi. Mulai dari permasalahan anak, pekerjaan rumah tangga hingga hal lain yang lebih serius. Bahkan ada pula yang merasa mertua sering menyalahkannya dari setiap permasalahan yang terjadi.Oleh : Marsita Riandini

Hubungan antara mertua dan menantu sering kali menimbulkan beragam persoalan. Kondisi ini dapat berakibat buruk pada hubungan suami istri. Menanggapi hal tersebut, Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalbar, Dr. Fitri Sukwamati, M. Psi, Psikolog mengatakan bahwa dalam rumah tangga ada beragam konflik yang bisa terjadi, termasuk halnya dengan mertua. 

Menyikapinya  tidak bisa sama ketika seseorang berkonflik dengan orang lain. Walau bagaimanapun ketika sudah menjadi mertua, artinya dia juga orang tua Anda. “Mertua itu khan hanya sebutannya saja yang berbeda. Tapi sebenarnya kalau sudah menikah, orang tua pasangan adalah orang tua kita juga,” ucapnya.

Setiap hidup manusia lanjut dia, tak selalu salah, juga tidak selalu benar. Ada masanya melakukan kesalahan. Tidak tepat saja jika seseorang merasa dirinya terus-terusan disalahkan mertunya. “Saya rasa tidak selalu mertua menyalahkan, pasti ada masa dimana menantu juga dipuji. Jangan buru-buru menganggap mertua selalu menyalahkan,” jelas Dosen di IAIN Pontianak ini.

Konflik dengan mertua akan lebih sering jika hidup serumah dengan mertua. Seringnya bertemu menjadi salah satu faktor penyebab seseorang bertengkar dengan mertua. “Sebenarnya pertengkaran dengan mertua ini banyak faktor. Salah satunya ketika dia tinggal satu rumah dengan mertua. Seringnya bertemu, akhirnya beragam konflik pun bermunculan. Masak ini tidak enak, mau ini tidak cocok, mau beli sesuatu terlalu mewah dan sebagainya,” ulas dia.

Hal lain yang menjadi penyebab pertengkaran, karena ketika menikah atau memulai pernikahan tidak mendapatkan hati dari mertua. “Ketika anaknya menikah, ada perasaan tidak nyaman yang bisa dirasakan orang tua. Ada yang namanya cemburu, ketika dia sudah membesarkan anaknya langsung diambil orang,” timpalnya.

Kadang kala ada pula mertua yang terlalu intervensi dalam hubungan rumah tangga anaknya, sehingga jika hal yang dilakukan menantunya di luar dari kemauannya,  dianggap salah, atau tidak benar. “Pada pola asuh misalnya. Banyak mertua yang sering intervensi pola asuh yang diterapkan ke cucunya. Sementara apa yang ingin diterapkan menantu dengan mertuanya berbeda. Inilah yang kemudian sering terjadi percekcokan. Apa yang dilakukan menantu dianggap salah,” bebernya.

Meskipun demikian, sebagai seorang menantu tidaklah bisa marah. Biar bagaimana pun harus ada sikap hormat dengan mertua. Fitri menyarankan, cobalah untuk mengomunikasikannya dengan baik. Pandai-pandailah mengambil hati mertua. “Kalau pandai mengambil hati mertua, tentu akan baik. Hubungan yang terjalin akan semakin akrab. Jangan tunjukan sikap malas, atau perilaku yang membuat mertua menilai itu tidak baik,” ucapnya.

Tidak membeda-bedakan mertua dan orang tua sendiri akan membuat hubungan dengan mertua pun tidak berjarak. Sebab kata Fitri, ada seseorang yang membelikan sesuatu buat orang tuanya, tetapi lupa pada mertuanya. “Kalau memang memiliki rezeki lebih, ketika membelikan sesuatu buat orang tua, belikan juga buat mertua. Mungkin terdengar sepele, tetapi in menghindari rasa cemburu juga. Kita pun akhirnya terlatih untuk menganggap mertua adalah orang tua kita,” jelasnya.

Jika dirasa intervensi orang tua diluar prinsip yang disepakati dengan pasangan, terutama dalam pola asuh, maka sampaikan hal itu dengan baik. Katakan apa yang diinginkan Anda dan pasangan terhadap tumbuh kembang anak. “Kadang orang tua tidak ingin anaknya terlalu berlebihan, tidak mau dimanjakan. Sementara mertua malah bersikap memanjakan anak. Memberikan reward yang berlebihan. Cobalah untuk komunikasikan dengan baik, agar mertua memahami itu,” pungkasnya. **