Terus Berenang di Pantai yang Kotor agar Warga Sungkan

Terus Berenang di Pantai yang Kotor agar Warga Sungkan

  Selasa, 26 April 2016 09:30
MELESTARIKAN LINGKUNGAN: Para anggota KBC melakukan fun dive di perairan Tidore (foto kiri). Modul karang yang dibuat KBC dan ditanam di Pulau Maitara. KBC FOR MALUT POS/JPG

Berita Terkait

Sebuah komunitas penyelam Tidore berhasil menyulap pantai yang dulu tempat pembuangan sampah menjadi destinasi wisata. Tak hanya mengurusi sampah, tapi juga menanam karang.    

Ika Fuji Rahayu, Tidore 

LAHIR dan besar di Kotamabopo, Rio Timara Alting masih ingat betul bagaimana dulu wajah pantai di kampungnya itu. Kotor. Penuh timbunan sampah. 

Sejak 1980-an, warga setempat memang menjadikan pantai di Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Maluku Utara, tersebut tempat penampungan segala barang yang tak dikehendaki. Maklum, ketika itu Tidore belum punya sistem pengelolaan sampah.  

”Kami anak-anak pun harus berenang dan bermain-main di pantai yang kotor itu,” ujar Rio.

Tapi, itu dulu. Kisah lama. Kini Kotamabopo adalah salah satu pantai andalan wisata Tikep. Jadi lokasi renang favorit anak-anak. Karangnya terjaga.  Didominasi karang jenis Acropora, Foliose, dan hard coral, Kotamabopo juga cocok buat penikmat bawah laut pemula. 

Sebab, sekitar 10 meter dari bibir pantai saja, pemandangan bawah lautnya sudah sangat memanjakan mata. Konturnya datar. Dengan kedalaman 1 hingga 1,5 meter.

Dibutuhkan waktu tak sebentar dan upaya tak ringan untuk membuat Kotamabopo sampai bisa dinikmati seperti sekarang ini. Rio bersama kawan-kawannya yang kini tergabung dalam Kotamabopo Batobo Club (KBC) termasuk yang berada di garda depan. 

Mereka memulainya pada awal 2000-an. ”Saat itu saya dan teman-teman sudah sama-sama dewasa dan mulai sadar untuk berbuat sesuatu bagi pantai ini,” kata Rio yang juga humas KBC. 

Yang membuat mereka sedih, ketika itu pemerintah di wilayah yang kaya cengkih dan pala tersebut seperti tak peduli. Karena itu, mereka pun bertekad untuk bertindak sendiri. Sebagai langkah awal, Rio dkk tiap hari tetap ber-batobo alias berenang di kawasan pantai yang kotor tersebut. 

Itu dilakukan agar warga setempat jadi sungkan buang sampah di sana. Tiap hari Rio dkk juga memunguti semua sampah yang ada. Perlahan, upaya mereka tersebut membawa hasil. Volume sampah terus berkurang. 

Langkah lain, secara persuasif mereka juga meminta para pemilik speedboat memindah lokasi parkir mereka. ”Sebab, selama ini mereka juga ikut mencemari pantai dengan membuang bahan bakar sembarangan,” kata Rio. 

KBC sendiri baru berdiri di sela-sela perjuangan membersihkan Kotamabopo itu. Persisnya pada 2010. Dua tahun kemudian, kedelapan anggotanya sepakat mengambil lisensi sebagai penyelam.

Setelah lisensi sudah di tangan, kelompok yang diketuai Abdul Razak itu pun melangkah lebih jauh. Mereka mengadakan konservasi karang. Kotamabopo menjadi area pertama yang digarap. 

Karang-karang yang ditanam diambil dari Tanjung Rum. Program tersebut terbilang sukses. Itu terbukti dengan dipanennya karang-karang tersebut setelah satu tahun pertama. 

Konservasi juga dilakukan di Pantai Akesahu. ”Di Pantai Akesahu sirkulasi airnya kurang bagus sehingga kemungkinan berhasilnya kecil. Tapi tak apa. Setidaknya kami sudah mencoba terlebih dulu,” terang Rio.

Dana konservasi berasal dari hasil patungan anggota KBC. Juga bantuan beberapa organisasi lingkungan. Salah satunya Walhi (Wahana Lingkungan Hidup). 

Dari Kotamabopo dan Akesahu, KBC kini memfokuskan perhatian ke Maitara. Pulau Uang Seribu itu merupakan titik transit tamu-tamu yang menyelam di sekitar Tidore. Sayang, perhatian pemerintah terhadap pulau mungil tersebut masih minim. ”Rata-rata tamu mengeluh kalau ke Maitara. View-nya indah, tapi fasilitasnya buruk. Ini yang ingin kami ubah,” ujar Rio.

Kebetulan, sirkulasi arus di Maitara amat baik untuk penanaman modul karang. Bersama mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) dan Universitas Negeri Surakarta yang tengah KKN (kuliah kerja nyata), KBC juga membangun tag name Maitara Island. 

”Minggu lalu penanaman karang sekaligus peresmian tag name tersebut. Tiap bulan akan kami cek perkembangan karang yang dibuat dalam bentuk apartment fish itu,” jelas Rio lagi.

Kerja keras Rio, Abdul Razak, dan kawan-kawan itu pun semakin membuka mata warga setempat yang notabene adalah tetangga atau kerabat mereka sendiri. Tanpa diminta, mereka turut mendukung penuh upaya pemulihan citra Kotamabopo. Dari tempat pembuangan sampah menjadi destinasi wisata. 

Tentu saja dampaknya juga dirasakan KBC. Mereka sekarang juga berperan sebagai event organizer trip bahari. Mereka juga sempat menjalin kerja sama dengan sebuah stasiun televisi swasta nasional. Wujudnya, promosi wisata Tikep tayang dalam tiga segmen: wisata laut, darat, dan kuliner.

Wisata lautnya berupa menyelam di Tanjung Soa Sio melihat pecahan guci-guci peninggalan kapal karam Spanyol. Spanyol yang memburu cengkih dan pala memang sudah menginjakkan kaki di Tidore pada 1512. 

Bagi Rio dan kawan-kawan di KBC, semua yang mereka lakukan itu merupakan cara ”protes” paling ampuh untuk mengingatkan pemerintah setempat tentang potensi Tidore. ”Di sekitar Tidore dan Maitara ini masih bisa ditemukan hiu. Itu menunjukkan bahwa rantai makanan di sini masih amat baik. Jadi, tidak berlebihan jika semua pihak harus urun rembuk menjaganya,” tutur dia. 

Sentilan tersebut rupanya didengar duet Wali Kota Ibrahim dan Wakil Wali Kota Muhammad Senin. Kebetulan, Senin juga penggemar selam. Saat peringatan hari jadi Tikep 12 April lalu, dia ikut menyelam bareng para anggota KBC. ”Visi KBC sinkron dengan misi pemkot yang ingin menjadikan Tidore sebagai kota maritim dan destinasi wisata. Terutama wisata bahari,” ujar Senin ketika itu. 

Karena itu, Senin menjanjikan Pemkot Tikep selalu membuka diri terhadap program-program yang dihelat KBC maupun kelompok pro lingkungan lainnya. ”Semua ini demi kebaikan Tidore,” tuturnya. 

Janji Senin itu jelas kabar baik bagi KBC dan warga di sana. Juga untuk ”warga” yang tinggal di bawah laut Tidore. Mulai Nemo fish, angel fish, lion fish, hiu, hingga koral mereka yang berwarna-warni. (*/JPG/c9/ttg)    

 

 

Berita Terkait