Tersihir Golden Sunrise Di Puncak Sikunir

Tersihir Golden Sunrise Di Puncak Sikunir

  Minggu, 10 December 2017 08:30

Berita Terkait

Mengunjungi Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Udara dingin menusuk hingga ke tulang, menembus dari setiap lubang hingga ke celah terkecil rajutan benang pakaian yang dikenakan. Jarum arloji tepat menunjuk pukul empat dinihari, warga Desa Sembungan sudah bangun, dan saling menyapa dari balik awan. 

Shando Safela, Wonosobo

PAGI itu, ratusan orang dari seluruh penjuru daerah sudah mengantre di lapangan luas pinggir danau. Pengukur suhu udara menunjukkan angka 10 derajat celcius, suhu yang tentu saja sangat dingin bagi orang Indonesia yang tinggal di daerah tropis.Beberapa turis dari luar negeri, memanfaatkan perapian yang dibuat warga untuk menghangatkan tubuh.

Tepat pukul 4.30 beberapa kelompok orang, secara bertahap mulai mendaki Bukit Sikunir yang letaknya di sebelah timur Desa Sembungan. Butuh waktu 30 hingga 60 menit untuk sampai di puncak dengan jalur yang sangat menanjak. Tak hanya nyali, kesiapan fisik juga dibutuhkan untuk sampai ke atas, karena beberapa orang terlihat menyerah saat berada di pertengahan jalan.

Tepat pukul 5.30, matahari muncul secara perlahan. Dari kejauhan tampak Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan anak Gunung Sindoro. Matahari yang terbit membawa sinar berwarna kuning keemasan, seolah menyihir semua orang yang lelah menjadi segar kembali. Tak dipungkiri, penampakan matahari terbit di Puncak Sikunir ini menjadi salah satu Golden Sunrise terbaik di Indonesia.

Golden Sunrise Puncak Sikunir menjadi daya tarik wisata andalan di Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah. Selain pesona matahari terbitnya, Sembungan merupakan desa yang unik karena terletak di 2.300 meter dari permukaan laut. Desa ini menjadi desa tertinggi yang berada di Pulau Jawa. Pada jam-jam tertentu, awan menutupi desa ini hingga jarak pandang sangat terbatas. Itu sebabnya desa ini dijuluki sebagai desa di atas awan.

Masyarakat Desa Sembungan sebagian besar bekerja sebagai petani sayur. Komoditi utamanya adalah Carica. Berbagai makanan hasil olahan carica menjadi oleh-oleh khas kawasan ini. Hasil pertanian melimpah lainnya adalah kentang dan wortel. Banyak warung yang menyediakan hasil tani yang langsung dimasak dengan harga yang sangat murah. Bahkan saya sendiri mendapatkan satu piring besar kentang goreng hanya seharga Rp5.000. 

Untuk menuju Desa Sembungan, dapat ditempuh melalui Jogjakarta atau Semarang, jaraknya kurang lebih empat jam berkendara dari kedua kota tersebut. Desa ini berjarak 30 kilometer dari Wonosobo, dan lima kilometer dari kawasan wisata Dieng. Selain keindahan alamnya, situs sejarah berupa candi, dapat ditemukan disekitar Dieng dan Desa Sembungan, diantaranya situs Candi Arjuna. 

Panas bumi dan tekanan uap di sekitar desa, menjadi sumber energi bagi wilayah sekitarnya. Pembangkit Listrik Tenaga Uap milik PLN, berdiri tak jauh dari pusat pemerintahan desa. Sebuah kawah panas belerang bernama Kawah Sikidang, bahkan menjadi salah satu tujuan wisata. (*)

Berita Terkait