Tersangka A Sudah Diperiksa, Kalbar Aman Beras Oplosan

Tersangka A Sudah Diperiksa, Kalbar Aman Beras Oplosan

  Selasa, 11 Oktober 2016 08:51

Berita Terkait

PONTIANAK – Sejumlah pihak meminta polisi mengusut tuntas temuan penyelewengan beras subsidi. Salah satunya disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI Daniel Johan. Dia meminta Bareskrim bergerak cepat menyelidiki penyelewengan beras subsidi tersebut. Menurutnya, praktek oplos beras subsidi itu, merupakan kejahatan luar biasa. Sebab merampas hak masyarakat. 

“Angka 1,5 juta ton (beras) itu tidak sedikit. Itu merampas hak rakyat. Kami minta Bareskrim mengusutnya sampai tuntas,” kata Daniel Johan dihubungi Pontianak Post, Senin (10/10).

Daniel juga mendesak Bareskrim untuk menuntaskan penyelewengan beras subsidi hingga ke akar-akarnya. Dengan begitu, siapa saja yang turut memuluskan praktik oplos beras ini bisa diungkap. “Penyelidikan kita minta jangan berhenti pada menyelamatkan beras. Tapi ungkap siapa saja yang terlibat,” pintanya. 

Ditanya bagaimana dengan indikasi di Kalbar, Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, sepengatahuan dia selama melakukan kunjungan dan keliling Kalbar, sementara ini masih aman. “Saya belum tahu pasti. Sejauh ini, Kalbar masih oke-oke,” ungkapnya. 

Akan tetapi, kendati masih stabil, Daniel meminta Bulog juga ikut menelusuri praktik yang merugikan rakyat ini. Menurutnya, Bulog memiliki tanggungjawab penuh. Sebab bulog punya rekanaan perusahaan untuk pendistribusian. 

“Yang ketahuan di pasar induk. Kita lagi meminta bulog untuk menelusuri hal ini, agar kita semua tahu, siapa-siapa yang terlibat,” tegas Daniel. 

Daniel menyatakan, Bulog memiliki tanggungjawab penuh terkait penyimpanan dan distribusi beras subsidi. Karena itu, ingat dia, institusi tersebut tidak bisa seenaknya lepas tangan. ”Ikut telusuri siapa saja yang bermain, lalu ungkap,” kata politisi PKB tersebut.

”Kami akan sampaikan pada rapat pimpinan persoalan ini. Kami terbuka untuk meningkatkan pengusutan soal beras tersebut menjadi pansus, tapi kita lihat dulu perkembangannya,” kata Daniel. 

Urai Praktik Pengoplosan

Kasus dugaan pengoplosan beras bersubsidi kian pelik. Bareskrim masih berupaya untuk mengurai alur praktik pengoplosan hingga distribusi beras subsidi. Tersangka pengoplos beras subsidi berinisial A telah diperiksa. 

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Brigjen Agung Setya menuturkan bahwa saat ini penyidik fokus untuk mengurai tahapan penggelontoran beras bersubsidi. ”Kami cek setiap tahapnya,” ujarnya.

Diawali dengan pengoplosan beras bersubsidi dengan beras Palem Mas. Pemilik 400 ton beras subsidi berinisial A telah diperiksa. ”Dia sudah pulang dari luar negeri. Dari dia, kami sangat yakin bahwa PT DSU yang menjualnya,” paparnya.

Lalu, apakah PT DSU mendapat dari Bulog atau masih ada perusahaan lain? Dia menuturkan bahwa pengembangan kasus masih belum sampai kesana. Hingga saat ini, penyidik masih dalam tahap pengoplosan beras subsidi. ”Sebab, masih ada tiga truk beras milik A yang belum terdeteksi,” jelasnya.

Menurutnya, Bareskrim ingin mendapatkan semua beras bersubsidi yang telah dioplos tersebut. Sehingga, beras subsidi nantinya bisa dikembalikan pada negara. ”Kami masih fokus ksana,” jelasnya.

Ada sejumlah gudang yang harus diperiksa. Sebab, kemungkinan besar terdapat beras bersubsidi yang disimpan. ”Kami akan pastikan validitas datanya, dimana gudangnya,” terangnya.

Yang juga penting, saat ini Bareskrim telah memeriksa saksi ahli untuk mengkonstruksikan kasus beras bersubsidi oplosan tersebut. ”Apa yang disebut saksi ahli belum bisa diungkapkan ya,” tuturnya.

Yang pasti, nantinya pejabat Bulog akan diperiksa untuk mengetahui proses penjualan beras subsidi tersebut. Menurutnya, semua pihak harus diklarifikasi untuk masalah tersebut. ”saat ini sudah ada 10 saksi, dari pelaku pengoplosan hingga saksi ahli,” jelasnya.

Soal 300 ton yang sempat hilang, apakah sudah ditemukan? Dia mengakui bahwa hingga saat ini belum diketahui dimana penyimpanan ratusan ton beras itu. ”Kami belum tau, apakah sudah terjual ke masyarakat atau masih disimpan,” paparnya.

Sebelumnya, Bareskrim mengungkap pengoplosan beras bersubsidi seberat 400 ton. Dari kasus itu diketahui terdapat penggelontoran beras bersubsidi seberat 1,5 juta ton yang diprediksi tidak sesuai fungsinya. Beras subsidi itu ditujukan untuk menstabilkan harga beras, tapi beras dijual saat kondisi masih biasa. (idr)

Berita Terkait