Tersangka Korupsi Alkes Untan Ditahan

Tersangka Korupsi Alkes Untan Ditahan

  Rabu, 30 March 2016 09:02
DIPERIKSA : Dua tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura Pontianak usai diperiksa di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Selasa (29/3). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Kejaksaan Negeri Pontianak menahan dua dari tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes) di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Selasa (28/3). 

Keduanya adalah M Nasir, Biro Administrasi Umum dan Keuangan Rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak dan Ya’ Irwan Syahrial, Direktur Utama PT. Annisa Farma Dewi. 

Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Supriyadi, mengatakan penahanan dilakukan setelah Kejaksaan Negeri Pontianak menerima pelimpahan tahap dua dari penyidik Direktorat Reskrimsus Polda Kalbar yang dilakukan di Kejaksaan Tinggi Kalbar. “Hari ini kami menerima pelimpahan tahap II kasus Alkes RSP Untan,” katanya, kemarin.

Dengan menggunakan rompi tahanan, kedua tersangka dibawa ke Rutan Klas IIA Pontianak dengan mengunakan mobil operasional kejaksaan.  

Menurut Supriyadi, seharusnya ada tiga tersangka yang dilimpahkan tahap dua saat ini. Namun, tersangka bernama H M Amin Andika menderita sakit stroke di Jakarta, sehingga tidak bisa dihadirkan dalam proses pelimpahan tahap dua tersebut. Tersangka H M Amin Andika sendiri merupakan Direktur PT. Kasa Mulia Utama.

Dalam perkara tersebut, PT. Annisa Farma Dewi bertindak sebagai pelaksana pekerjaan, yang mana perusahaan tersebut dipinjam oleh H M Amin Andika dengan fee atau imbalan sebesar Rp 160 juta. 

Dengan menggunakan nama PT. Annisa Farma Dewi, H M Amin Andika lantas membuat paket pengadaan barang, mulai dari dokumen penawaran hingga belanja peralatan. “Dalam perkara ini, tersangka H M Amin Andika meminjam bendera PT. Annisa Farma Dewi untuk membuat paket pengadaan barang, mulai dari membuat penawaran hingga pembelanjaan barang,” katanya. 
 
Dikatakan Supriyadi, setidaknya ada tiga modus yang dilakukan tersangka. Pertama, markup atau menambah harga satuan barang dengan cara menambah 25 sampai 30 persen yang jumlahnya ada sekitar 141 item. Meskipun sebanyak 141 item, namun faktanya tidak semua barang merupakan alat kesehatan. Tetapi ada beberapa barang lain titipan Fakultas Teknik, MIPA, FKIP, dan Biro Administrasi. 

Kedua, pengaturan lelang. Untuk memenangkan lelang, tersangka Amin Andika, melalui stafnya meminta tersangka Ya’ Irwan Syahrial selaku Direktur Utama PT. Annisa Farma Dewi untuk menyiapkan dokumen perusahaan. Tersangka Amin Andika juga menghubungi Direktur Utama PT. Omega Artha Abbari dan PT. Cakra Birawa Prasaja yang dijadikan perusahaan pendamping dalam lelang. 

Modus terakhir, tersangka Amin Andika memberikan imbalan atau kickback kepada PPK dan Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.

Dijelaskan Supriyadi, dari hasil perhitungan kerugian keuangan negara BPKP, proyek pengadaan alat kesehatan di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura ini telah mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 6,9 miliar dari nilai kontrak sebesar Rp 17.5 milyar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2013. “Dana tersebut diserahkan ke PT. Annisa Farma Dewi selaku pelaksana pekerjaan 100 persen dengan tiga termin,” jelasnya.

Tersangka diduga melanggar pasal 3 jo pasal 18 Undang Undang RI No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang Undang RI No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang Undang No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. 

Terpisah, Daniel Tangkau, penasehat tersangka Ya’ Irwan Syahrial mengatakan, kliennya bukan merupakan pelaku utama dalam proyek pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak tersebut. Menurutnya, pelaku utama adalah Amin Andika, yang meminjam bendera perusahaan milik kliennya. 

“Klien saya terjebak dalam sebuah sistem. Dimana perusahaannya dipinjam dengan janji muluk-muluk Amin Andika. Ternyata inilah kejadiannya,” kata Daniel Tangkau saat ditemui di halaman Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, kemarin.

Daniel berharap, tersangka utama dalam kasus pengadaan alat kesehatan itu juga ditangkap dan ditindak. “Saya harap Amin Andika ditangkap dan ditindak. Jangan hanya tersangka yang kecil-kecil ini yang ditindak,” pungkasnya. (arf)

Berita Terkait