Terpencil dan Terancam Longsor, tapi Punya Buletin Bulanan

Terpencil dan Terancam Longsor, tapi Punya Buletin Bulanan

  Kamis, 22 September 2016 09:30
TETAP GEMBIRA: Para siswa SDK Kenalan diangkut dengan pikap untuk menuju sekolah.

Berita Terkait

 
Berkat kerja keras relawan komunitas Gerakan Mengasuh Anak Tani (Gemati), SD Kanisius Kenalan, Magelang, bisa bertahan hingga saat ini. Padahal, sekolah di perbukitan Menoreh itu sempat nyaris ditutup karena ketiadaan biaya.

 

SEKARING RATRI, Magelang

 

Lokasi menuju SDK Kenalan di perbukitan Menoreh, Dusun Wonolelo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, cukup menantang. Dari kawasan wisata Candi Borobudur, setidaknya dibutuhkan waktu berkendara 45 menit untuk sampai di sekolah terpencil tersebut.

Medan yang dilalui sangat berliku dan terjal. Di kanan kiri jalan tidak ada pagar pembatas. Perbukitan di sekitarnya juga rawan longsor. Jarang ada permukiman dan tidak ada penerangan jalan.

’’Kalau mau ke SDK Kenalan, amannya pagi atau siang. Kalau malam, jalannya gelap gulita. Berbahaya,’’ ujar Dewayani Retno Indarti, penggagas Komunitas Gemati, pekan lalu.

Belum lagi kalau musim hujan, jalan menuju ke SDK Kenalan sangat licin sehingga pengendara harus ekstrahati-hati. ’’Ini sudah lumayan bagus dibanding beberapa tahun lalu,’’ tambah Dewa –panggilan Dewayani.

Tidak sebanding dengan akses menuju ke lokasi, kondisi SDK Kenalan justru cukup baik. Ada enam ruang kelas untuk siswa kelas I hingga kelas VI. Masing-masing kelas berisi 10 siswa. Jadi, total siswa di sekolah itu 60 orang. Mereka dididik oleh 7 guru.

Selain ruang kelas, ada pendapa untuk aula dan dua ruang guru. Di bagian bawah kompleks sekolah itu, terdapat tiga kamar mandi dan sebuah kandang kambing. Kambing-kambing tersebut menjadi bahan pelajaran di sekolah.

Namun, longsor masih terus mengancam sekolah itu sewaktu-waktu. Sebab, sekolah tersebut terletak di lereng bukit. Di sisi utara gedung sekolah terdapat tebing setinggi 6 meter dengan panjang 50 meteran. Tebing tersebut pernah empat kali longsor. Apalagi pada musim penghujan, ancaman itu semakin mendebarkan.

’’Sebenarnya sudah dibuatkan tebing penahan longsor sepanjang 35 meter. Tapi, masih kurang 20 meteran lagi yang belum, ditambah sekitar 40 meter untuk tebing di atasnya,’’ papar Dewa.

 Di samping ancaman longsor, Dusun Wonolelo termasuk dalam daerah dengan pasokan air bersih yang minim. Untuk menyiasati kondisi itu, setiap siswa diwajibkan membawa air sendiri dalam botol setiap hari.

’’Air itu nanti dikumpulkan dan digunakan sesuai keperluan. Karena sumber air di sini sangat susah,’’ ungkap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Meski terletak di lereng bukit dan jauh dari permukiman, program pengembangan SDK Kenalan cukup menarik. Kegiatannya dikemas dalam komunitas Republik Anak Kenalan (RAK). Seluruh siswa dan guru SDK Kenalan diposisikan sebagai rakyat RAK. Mereka memiliki seorang presiden, lengkap dengan jajaran menterinya dalam sebuah kabinet.

Kepala SDK Kenalan Yosef Onesimus Maryono menuturkan, layaknya sebuah sistem pemerintahan, presiden dipilih oleh rakyat (penghuni sekolah). Kandidat presiden berasal dari siswa. Ada enam kandidat dari enam partai siswa. Keenam partai berasal organisasi republik anak Kenalan.

’’Organisasi republik anak Kenalan itu semacam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini,’’ kata Simus –panggilan guru ramah tersebut.

Kegiatan ekstrakurikuler di SDK Kenalan cukup beragam. Di antaranya, Basis Lintang Menoreh yang berfokus pada kegiatan literasi. Kegiatan tersebut telah memiliki produk penerbitan buletin yang diberi nama Republikana yang terbit sebulan sekali. Buletin setebal empat halaman tersebut memuat tulisan-tulisan pendek para siswa.

’’Buletin ini kami jual ke luar sekolah. Berlangganan setahun hanya Rp 5000, sedangkan untuk eceran cukup Rp 500,’’ kata Simus.

Ada pula komunitas Basis Wiji Thukul yang berfokus pada aktivitas bercocok tanam. Lalu, komunitas Blekothek yang mengajarkan kesenian, Guyub Maryam atau komunitas rohani, dan Basis Kembang Latar yang mengajarkan estetika. Mereka juga memiliki komunitas Canthang Kumandang atau paduan suara, Turangga Siswa Arga yang berfokus pada tari-tarian tradisional, dan terakhir kegiatan Pramuka.

Enam komunitas tersebut mengirimkan kandidat mereka untuk maju dalam pemilihan presiden yang berlangsung setiap semester. Dalam pemilu itu, partai-partai yang terlibat juga diperkenankan untuk berkoalisi agar calonnya menang.

’’Jika ada partai yang merasa calonnya kurang kuat, mereka bisa bergabung ke partai lain dan mendukung calon yang disepakati. Tak jarang, untuk menarik suara, partai-partai itu membagi-bagikan permen. Tapi, itu bukan politik uang, lho,’’ ujar pria 40 tahun itu, lalu tersenyum kecil.

Selain presiden, pemilu memilih wakil presiden dan enam menteri yang mengelola kerohanian, keuangan, kebersihan, kesehatan, perpustakaan, dan upacara. Menurut Simus, pesta demokrasi ala SDK Kenalan tersebut bertujuan untuk membentuk karakter anak sehingga mampu bertanggung jawab atas tugas yang diberikan guru.

’’Karena sekolah ini di desa, anak-anak sering menemui sistem komunal dalam masyarakat. Hal itu membuat anak-anak jadi berani maju bareng-bareng,’’ urainya. Untuk memperkuat pendidikan demokrasi di sekolah, ada forum anak yang mirip rapat kabinet. Forum tersebut dihadiri para guru dan seluruh siswa setiap Kamis. Dalam rapat itu dibahas sejumlah persoalan atau kasus yang terjadi di sekolah.

Misalnya kasus pencurian lombok masal yang dilakukan sekitar 30 siswa. Kasus tersebut lalu diangkat dalam forum anak untuk didiskusikan dan diputuskan hukuman yang tepat bagi para pelaku.

”Anak-anak itu waktu makan mi instan mentah pengin pakai lombok. Mereka lalu ngambil di kebun milik orang tanpa izin. Dalam forum itu akhirnya diputuskan, mereka harus membayar lombok yang mereka curi. Per lombok Rp 50. Mereka juga mesti meminta maaf kepada pemilik kebun,” lanjut alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut.

Selain forum anak, setiap bulan sekali digelar pertemuan antara guru dan orang tua. Pertemuan itu berisi kegiatan pendampingan masyarakat sekaligus pengembangan potensi orang tua anak. Guru juga akan memberikan informasi tentang kondisi anak-anak di sekolah.

”Misalnya, ada siswa yang sampai kelas V masih ngompol. Ada juga siswa yang lambat membaca. Anak-anak bermasalah itulah yang kami lakukan pendampingan,” paparnya.

Program-program sekolah yang unik itulah yang membuat para donatur atau orang tua asuh yang tergabung dalam Gerakan Mengasuh Anak Tani (Gemati) terus mendukung keberadaan sekolah tersebut. Para Gematier –sebutan orang tua asuh Gemati– itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, ada yang dari Qatar dan Singapura. Mereka dengan ikhlas hati mendonasikan sebagian uangnya untuk biaya seluruh siswa sekolah tersebut.

”Bahkan, tidak sedikit yang bersedia membiayai si siswa hingga ke jenjang lebih tinggi. Jadi tidak sebatas di SD itu saja,” jelas Dewa.

Saat ini ada 56 orang tua asuh yang setiap bulan mengirimkan dana untuk keberlangsungan SDK Kenalan. Berapa besaran dana yang mereka gelontorkan? Kata Dewa, seikhlas orang tua asuh. ”Yang penting, anak-anak bisa bersekolah dan menjalankan aktivitas pengembangan dirinya,” tutur Dewa. (*/c5/c9/ari)

 

 

Berita Terkait