Teror di Pos Polisi Cikokol

Teror di Pos Polisi Cikokol

  Jumat, 21 Oktober 2016 08:47
AKSI TEROR: Personel tim penjinak bahan peledak Mabes Polri mengamankan benda yang mencurigakan di lokasi penyerangan brutal dengan senjata tajam terhadap anggota kepolisian di Cikokol, Tangerang Kamis (20/10). Seorang pelaku teror yang diduga simpatisan ISIS melakukan penusukan terhadap Kapolsek Tangerang dan dua anggota satlantas Polres Tangerang. Kepolisian juga mengamankan barang yang diduga bom serta senjata tajam. DEMY SANJAYA / TANGSEL POS

Berita Terkait

TANGERANG – Aksi kejam jaringan teroris Negara Islam Iraq dan Syria (ISIS) kembali terjadi. Aksi itu terjadi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, Kota Tangerang, kemarin (20/10). Tiga petugas kepolisian mengalami luka parah. Sedangkan pelaku teror bernama Sultan Azianzah, tewas akibat tertembak polisi. 

Para korban aksi teror ini adalah Kapolsek Tangerang Kota Kompol Efendi, Kanit Pengendali Massa (Dalmas) Iptu Bambang Haryadi, dan Anggota lantas Bripka Sukardi. Mereka (korban, Red), ditusuk pelaku dengan senjata tajam. 

Efendi mengalami luka tusuk di bagian dada kanan, bahu dan paha. Lalu Bambang mendapatkan tusukan sebanyak dua kali, di dada serta punggung kiri. Sedangkan Sukardi ditusuk pada bagian punggung dan lengan kanan. Akibat tusukan tersebut, mereka jatuh terkapar bersimbah darah. 

”Seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis. Bripka Sukardi dievakuasi ke RSUD Tangerang. Sedangkan Kompol Efendi dan Iptu Bambang dirawat di Rumah Sakit Siloam, Lippo Karawaci, Tangerang,” kata Wakapolsek Tanggerang Kota AKP Muhammad Isa Ansori, di lokasi kejadian, kemarin.

Kondisi mereka saat ini sudah mulai membaik. Ketiganya sudah sadarkan diri dan bisa berkomunikasi dengan petugas serta pihak keluarga. Namun sejauh ini mereka belum dapat menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan polisi masih menunggu kondisi korban kembali normal. 

”Kita tunggu sampai kembali normal. Agar pemeriksaan berjalan dengan lancar, dan cepat,” ujar pria berpangkat tiga balok di pundaknya itu. 

Terkait pelaku, Sultan dilaporkan tewas saat di perjalanan menuju Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur karena mengalami pendarahan parah akibat ditembak  di bagian perut dan paha.

Usai peristiwa itu, penjagaan ketat dilakukan. Puluhan petugas bersenjata lengkap diterjunkan ke lokasi. Mereka berjaga selama 24 jam sampai kondisi sudah benar–benar aman. 

Kronologis

Peristiwa teror ini terjadi sekira pukul 07.00. Pagi itu, suasana di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, Kota Tangerang tampak ramai. Kendaraan memadati lokasi ditambah lagi ada kelompok mahasiswa yang akan melakukan aksi demonstrasi. Akibatnya kemacetan panjang pun terjadi. 

Saat itu ketiga korban sedang sibuk mengatur lalu lintas di lokasi tersebut. Meskipun macet, situasi berjalan kondusif. Seluruh kendaraan pun tertib. Tidak ada satu pun yang melanggar rambu.

Tak lama berselang, Sultan tiba di lokasi. Ia mengenakan jaket hitam dan memanggul tas besar. Seorang diri ia berjalan kaki dari arah timur menuju barat.  Sebelum mendatangi pos polisi, dia berkeliling di lokasi sekitar sepuluh menit. 

Sikapnya itu seperti orang kebingungan atau seperti sedang menunggu seseorang. ”Atau bisa jadi memantau situasi keadaan di lokasi,” kata saksi mata Jupri Iskandar. 

Tidak ada kecurigaan yang dirasakan pria berusia 32 tahun itu. Sebab dirinya tidak terlalu memperhatikan pergerakan pelaku. Pasalnya sikap pelaku dianggap bukan merupakan hal yang aneh terjadi di lokasi tersebut. ”Apalagi saya melihatnya dari kejauhan. Ya sekitar 50 meter dari TKP,” ujarnya. 

Tiba-tiba ketegangan terjadi. Ketegangan itu muncul karena pelaku menempelkan stiker bulat berwarna hitam berlogo ISIS. Melihat hal itu, polisi bernama AKP Bambang dengan tegas melarang. Larangan itu membuat Sultan naik pitam. 

Tanpa banyak bicara, ia langsung mengeluarkan sebilah golok dari balik jaket. Golok itu lantas ditusukkan ke tubuh polisi dan tepat mengenai dada korban. Peristiwa tersebut berlangsung sangat cepat. Sekitar sepuluh menit kemudian pelaku berhasil dilumpuhkan. (selengkapnya lihat grafis).

Merasa penasaran atas kejadian ini, warga pun berdatangan meramaikan lokasi. Pantauan di lapangan, percikan darah menyelimuti pos polisi. Garis kepolisian pun sudah tak lagi terbentang di lokasi kejadian. Meskipun masih dalam kondisi darurat, suasana di lokasi itu sudah berjalan normal.

Kadiv Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar menuturkan, sebenarnya ada dua indikasi dalam penyelidikan kasus penusukan tersebut, yakni pelaku tunggal alias lone wolf atau pelaku merencanakan bersama jaringannya. Semua itu didalami dari semua bukti, informasi hingga keterangan keluarga. ”Arahnya ke mana tergantung hasil penyelidikan,” paparnya.

Yang pasti, bila mempelajari kasus aksi teror terakhir, maka memang pelaku aksi lone wolf  kian sering terjadi. Seperti, pengeboman di Polres Solo dan penusukan pendeta di Medan. ”Tapi, ini hanya indikasi,” jelasnya.

Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan, aksi teror menggunakan senjata tajam yang dilakukan sendirian ini menunjukkan bahwa kekuatan kelompok teror di Indonesia memang telah menurun drastis. ”Maka, yang muncul itu aksi-aksi tunggal,” tuturnya.

Penurunan kemampuan pelaku teror ini dikarenakan beberapa sebab, yang pertama saat ini kelompok pelaku teror yang memiliki kemampuan militer itu sedang berada di wilayah ISIS. Lalu, kelompok lain yang juga memiliki kemampuan militer tidak sepaham dengan ISIS, walau mereka berada di Indonesia. ”Kan banyak yang menolak ISIS,” terangnya.

Menurutnya, dengan pelaku tunggal ini, maka dapat diindikasikan bahwa rekrutmen ISIS yang dilakukan melalui dunia maya bisa saja sangat efektif. Sehingga, muncul orang-orang yang tidak memiliki latar belakang kelompok tertentu, tapi memiliki pemahaman yang begitu radikal. 

Kondisi Korban 

Kondisi Kompol Efendi sudah mulai membaik. Operasi kecil terhadap lukanya itu telah dilakukan.  Efendi telah sadarkan diri dan berkomunikasi dengan baik kepada pihak keluarga. Meskipun begitu Efendi belum bisa bercerita banyak. Dia hanya tersenyum melihat anggota keluarganya telah datang untuk menjenguknya. Dan sebentar lagi Efendi akan dipindahkan dari IGD ke ruang rawat inap.  

”Papa di dalam sudah bisa tersenyum sama kita. Beliau hanya bilang merasa pegal saja. Perlu istirahat banyak,” kata Brilian Kamil, 23, anak sulung Kompol Efendi, di Rumah Sakit Siloam Lippo Karawaci, Kota Tangerang, kemarin. (idr)

Berita Terkait