Teror Baru Bernama Zika

Teror Baru Bernama Zika

  Jumat, 29 January 2016 08:18
Gambar dari Internet

Berita Terkait

Indonesia sedang mendapat teror baru. Serangan kali ini bukan berasal dari kelompok radikal. Melainkan virus bernama Zika yang dibawa nyamuk Aedes aegypti. Bayi yang terinfeksi bakal mengalami cacat pertumbuhan otak. Kepala mereka mengecil.

MOMOK yang sangat menakutkan dari teror ini adalah keterkaitannya dengan kelahiran bayi abnormal. Seperti yang terjadi di Brasil, Amerika Selatan, tercatat 3.893 kasus bayi dengan microchepalus sejak Oktober 2015. Ribuan bayi itu terlahir dengan pengecilan tengkorak kepala dan penciutan otak.

Kepala Sub Direktorat Surveilans dan Respons Kejadian Luar Biasa Kemenkes, Ratna Budi Hapsari mengatakan, kewaspadaan pada virus ini sudah dilakukan sejak lama. Pasalnya, sudah ada beberapa kasus diduga akibat serangan virus Zika yang terjadi di Indonesia.

’’Tapi memang, sangat jarang. Tidak pernah sampai ada kejadian luar biasa dan kebanyakan tidak sampai di rumah sakit (pengobatannya, red),’’ tuturnya saat ditemui di kantor Kemenkes, kemarin.

Virus Zika adalah anggota dari keluarga Flaviviridae dan ditularkan ke manusia oleh nyamuk Aedes aegypti. Orang yang terjangkit virus Zika akan merasakan gejala seperti sakit kepala, ruam di wajah, leher, lengan atas. Mungkin juga menyebar ke telapak tangan dan kaki, demam, dan nyeri punggung.

Virus Zika memang tidak menyebabkan kelainan berat seperti demam berdarah, meski Zika merupakan flavivirus yang berhubungan dengan demam kuning, demam berdarah, West Nile, dan virus ensefalitis Jepang. Akan tetapi, virus ini dapat menimbulkan risiko terhadap janin pada wanita hamil.

Saat ini belum ada vaksin atau obat untuk mencegah demam Zika. Orang dewasa dan terutama ibu hamil dapat melindungi diri dengan mencegah gigitan nyamuk serta menjaga kesehatan tubuh.

Sama seperti antisipasi penyakit DB, masyarakat diminta untuk terus menjaga kebersihan. Melakukan gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup dan mengubur. Kemudian, bila memiliki bagian-bagian rumah dengan genangan air, disarankan disertai dengan adanya pemakan jentik.

”Penanganannya tidak perlu dibedakan. Ini kan virus belum ada obatnya, sama dengan DB, jadi sasarannya tentu vektor penyakitnya,” jelas Ratna.

Disinggung kesiapan Kemenkes menangani wabah akibat virus ini, Ratna meyakinkan bila pihaknya siap. Hal itu bisa dibuktikan dengan penanganan penyakit DB yang kini bisa diturunkan angka kematiannya. ”Penyakit DB saja sudah bisa kita tangani. Apalagi Zika yang notabenenya lebih ringan. Saya berani jamin siap,’’ tegasnya.

Kekhawatiran pemerintah, rupanya, bukan hanya untuk warganya di dalam negeri. Namun, warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini berdomisili di negeri asing. Apalagi, WNI di Brasil yang saat ini sedang hiruk pikuk mengatas wabah tersebut. Pemerintah pun sudah mengimbau agar WNI di negara Samba itu terus berhati-hati dalam melakukan kegiatan.

”Kami melalui KBRI telah mengingatkan WNI di sana untuk lebih berhati-hati dan waspada. Kami mengharapkan komunikasi baik antar WNI maupun WNI dengan KBRI lebih intensif dengan adanya wabah tersebut,” terang juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir.

Menurut informasi yang diterima, pria yang akrab disapa Tata tersebut mengaku belum ada kabar mengenai WNI yang terjangkit virus Zika di sana. Namun, pihaknya akan terus memantau kondisi Brasil, terutama di dua pusat penyebaran wabah yakni Sao Paulo dan Rio de Janeiro.

’’Saat ini WNI yang tinggal di Brasil mencapai 345 orang,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pertama KBRI Brazil Febrizki Bagja Mukti mengaku, aktivitas sehari-hari di Brasil masih berjalan normal. Menurutnya, kebanyakan masyarakat lokal termasuk WNI di sana masih bekerja secara normal. Hanya saja, pihak pemerintah memang lebih giat untuk melakukan program sanitasi lingkungan.

’’Kalau diibaratkan seperti program DBD (demam berdarah) di Indonesia. Meski ada penyemprotan dan pembersihan genangan, tidak sampai pada tahap siaga,’’ ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, virus Zika ditemukan menginfeksi warga Jambi. Penemuan virus itu dite¬rangkan oleh Direktur Lembaga Eijkman Prof Amin Subandrio. Lembaga riset di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ini mengumumkan berhasil mengisolasi virus Zika.

Guru besar Fakultas Kesehatan (FK) Universitas Indonesia itu menceritakan keberhasilan Eijkman mengisolasi virus Zika diawali karena berhasil menemukan keberadaan virus itu. ’’Ceritanya sedikit panjang,’’ jelasnya saat dihubungi kemarin.

Amin menuturkan, pada periode Desember 2014 sampai April 2015 terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD) di Jambi. Banyak orang terserang penyakit DBD di Jambi saat itu. Kemudian, Eijkman mendapatkan kiriman 200-an sampel dari Jambi untuk diperiksa lebih dalam.

Dari hasil pemeriksaan itu, ada 103 sampel yang dinyatakan negatif DBD maupun chikungu¬nya. Setelah dilakukan penelitian lebih dalam, ternyata, ditemukan satu sampel yang positif terin¬feksi virus Zika.

 ’’Pen¬deritanya berusia sekitar 27 tahun, berjenis kelamin laki-laki,’’ kata mantan deputi di Kemenristek (sebelum berganti jadi Kemenristekdikti) itu.

Dari penelusuran lebih jauh, Amin mengatakan, si penderita yang terinfeksi virus Zika itu hanya mengalami demam ringan. Tidak sehebat demam yang dialami penderita DBD atau chikungunya. Setelah kasus di Jambi itu, Amin menegaskan belum pernah menerima laporan munculnya virus Zika di Indonesia. Dia mengatakan, Eijkman sampai sekarang terus meneliti virus dari pasien yang diduga terkena DBD maupun chikungunya.

Saat ditemukan, virus Zika dalam keadaan hidup. ’’Kita coba infeksikan ke sel lagi, dia aktif. Virus Zika-nya bisa menginfeksi lagi,’’ katanya. Dia mengatakan, hari ini ada pertemuan antara Eijkman dengan Kementerian Kesehatan yang khusus membahas surveillance dan deteksi dini keberadaan virus Zika.

Terkait dengan virus Zika yang mengakibatkan kasus mikro¬sefali, Amin belum bisa ber¬komentar lebih jauh. Sebab, virus Zika di Indonesia ditemu¬kan di tubuh orang laki-laki.

Wakil Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB Papdi) Ari Fahrial Syam menga¬takan, banyak sekali sumber literatur yang merekam sejarah kebe¬radaan virus Zika di Indo¬nesia. Dia menjelaskan, pada 1981, seorang peneliti Australia telah melaporkan ada pasien terinfeksi virus Zika setelah bepergian di Indonesia.

Laporan kasus infeksi virus Zika di Indonesia muncul lagi pada 2013. Ari mengatakan, ada warga negara Australia positif terinfeksi virus Zika setelah berkunjung ke Jakarta selama 9 hari. ’’Yang terbaru, rilis dari Eijkman, bahwa mereka berhasil mengisolasi virus Zika pada 2015,’’ terangnya.

Dosen FK Universitas Indonesia itu mengatakan, gejala virus Zika sama dengan infeksi virus pada umumnya. Yakni, pasien mengalami gejala demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung, dan kaki. Kemudian disertai nyeri otot dan sendi.

Beda gejala virus Zika dengan DBD adalah, orang yang terinfeksi virus Zika matanya memerah karena mengalami radang konjungtiva.

Perbedaan lain dengan DBD adalah, infeksi virus Zika tidak menunjukkan penurunan kadar trombosit.

Sekjen Kementerian Kesehatan Untung Seseno Sutarjo menyatakan, pihaknya akan mengkaji bersama dengan Eijkman tentang temuan virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu. Dia mengaku bahwa gejala yang ditimbulkan virus Zika ini sangat umum. ’’Cuma anget-anget saja seperti flu,’’ jelas dia.

Untung menegaskan, sampai saat ini World Health Organization (WHO) sama sekali belum mengeluarkan notifikasi resmi bahwa virus Zika secara ilmiah menyebabkan mikrosefali. Dia mengatakan, tanpa bukti ilmiah yang kuat, masyarakat dan otoritas di Brasil diduga terburu-buru mengambil kesimpulan tentang virus Zika dan dampaknya.

”Ketika ada kasus penyakit virus Zika tinggi dan ada kasus mikrosefali, kemudian dinyata¬kan ada kaitannya,’’ ujarnya. Dia sendiri sudah mengklarifikasi koleganya di WHO, namun belum ada jawaban yang resmi terkait virus Zika dan penyakit mikrosefali.

Meskipun begitu, Untung meminta masyarakat tetap waspada. Dia mengatakan, selama masyarakat bisa menjalankan hidup bersih dan mencegah penularan demam berdarah, otomatis bisa mencegah penyebaran virus Zika ini. Sebab, penularan virus Zika identik dengan DBD, yaitu melalui vektor (pembawa virus) nyamuk.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Surveilans dan Respons Kejadian Luar Biasa Kemenkes, Ratna Budi Hapsari mengatakan, kewaspadaan pada virus ini sudah dilakukan sejak lama. Pasalnya, sudah ada beberapa kasus diduga akibat serangan virus Zika yang terjadi di Indonesia.

’’Tapi memang, sangat jarang. Tidak pernah sampai ada kejadian luar biasa dan kebanyakan tidak sampai di rumah sakit (pengobatannya, red),’’ tuturnya saat ditemui di kantor Kemenkes, kemarin.

Virus Zika adalah anggota dari keluarga Flaviviridae dan ditularkan ke manusia oleh nyamuk Aedes aegypti. Orang yang terjangkit virus Zika akan merasakan gejala seperti sakit kepala, ruam di wajah, leher, lengan atas. Mungkin juga menyebar ke telapak tangan dan kaki, demam, dan nyeri punggung.

Virus Zika memang tidak menyebabkan kelainan berat seperti demam berdarah, meski Zika merupakan flavivirus yang berhubungan dengan demam kuning, demam berdarah, West Nile, dan virus ensefalitis Jepang. Akan tetapi, virus ini dapat menimbulkan risiko terhadap janin pada wanita hamil.

Saat ini belum ada vaksin atau obat untuk mencegah demam Zika. Orang dewasa dan terutama ibu hamil dapat melindungi diri dengan mencegah gigitan nyamuk serta menjaga kesehatan tubuh.

Sama seperti antisipasi penyakit DB, masyarakat diminta untuk terus menjaga kebersihan. Melakukan gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup dan mengubur. Kemudian, bila memiliki bagian-bagian rumah dengan genangan air, disarankan disertai dengan adanya pemakan jentik.

”Penanganannya tidak perlu dibedakan. Ini kan virus belum ada obatnya, sama dengan DB, jadi sasarannya tentu vektor penyakitnya,” jelas Ratna.

Disinggung kesiapan Kemenkes menangani wabah akibat virus ini, Ratna meyakinkan bila pihaknya siap. Hal itu bisa dibuktikan dengan penanganan penyakit DB yang kini bisa diturunkan angka kematiannya. ”Penyakit DB saja sudah bisa kita tangani. Apalagi Zika yang notabenenya lebih ringan. Saya berani jamin siap,’’ tegasnya.

Kekhawatiran pemerintah, rupanya, bukan hanya untuk warganya di dalam negeri. Namun, warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini berdomisili di negeri asing. Apalagi, WNI di Brasil yang saat ini sedang hiruk pikuk mengatas wabah tersebut. Pemerintah pun sudah mengimbau agar WNI di negara Samba itu terus berhati-hati dalam melakukan kegiatan.

”Kami melalui KBRI telah mengingatkan WNI di sana untuk lebih berhati-hati dan waspada. Kami mengharapkan komunikasi baik antar WNI maupun WNI dengan KBRI lebih intensif dengan adanya wabah tersebut,” terang juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir.

Menurut informasi yang diterima, pria yang akrab disapa Tata tersebut mengaku belum ada kabar mengenai WNI yang terjangkit virus Zika di sana. Namun, pihaknya akan terus memantau kondisi Brasil, terutama di dua pusat penyebaran wabah yakni Sao Paulo dan Rio de Janeiro.

’’Saat ini WNI yang tinggal di Brasil mencapai 345 orang,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pertama KBRI Brazil Febrizki Bagja Mukti mengaku, aktivitas sehari-hari di Brasil masih berjalan normal. Menurutnya, kebanyakan masyarakat lokal termasuk WNI di sana masih bekerja secara normal. Hanya saja, pihak pemerintah memang lebih giat untuk melakukan program sanitasi lingkungan.

’’Kalau diibaratkan seperti program DBD (demam berdarah) di Indonesia. Meski ada penyemprotan dan pembersihan genangan, tidak sampai pada tahap siaga,’’ ujarnya.(ric/jpg)

Berita Terkait