Ternyata Sumber Terjadinya Banjir

Ternyata Sumber Terjadinya Banjir

  Senin, 1 Agustus 2016 09:30
Normalisasi: Sejumlah warga di Keluarahaan Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara melakukan normalisasi tumbuhan gulma yang menutupi parit nanas, kemarin. Agus Pujianto/Pontianak Post

Berita Terkait

Untuk meminimalisir banjir saat musim hujan, masyarakat Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara melakukan normalisasi  tumbuhan gulma yang menutupi parit nanas. Sejumlah warga beranggapan, tumbuhan gulma yang menyebar hampir di sepanjang parit nanas itu dapat menahan saluran air, sehingga kerap terjadi banjir ketika debit air tinggi. 

Agus Pujianto-Pontianak

Sejak pagi, puluhan masyarakat yang dibantu BPBD Pontianak, PU dan intansi terkait berjibaku membabat lalu menarik rambatan tumbuhan liar yang hidup di parit itu. Setelah dibabat, kemudian ditarik ke permukaan parit. Camat Pontianak Utara, Kiswanta mengatakan tumbuhan liar di parit nanas yang disebut warga dengan Kumpai itu memanjang sepanjang aliran sungai yang menghubungkan Sungai Landak dan Sungai Malaya. 

“Ketika hujan deras, air kiriman dari Sungai Malaya turun melewati parit nanas. Banyaknya gulma menyebabkan aliran tak lancar, makanya di sini kerap banjir,” kata Kiswanta, Minggu (31/7). Baru-baru ini, di kawasan tersebut terjadi banjir yang menimpa belasan rumah warga. Menurut analisa Kiswanta, keadaan banjir yang kerap melanda pemukiman warganya itu berpusat dari hulu parit nanas, yaitu di Sungai Malaya. Di sana sebut dia, tumbuhan gulma menutup permukaan sungai. 

“Di sana, sekarang penuh tertutup gulma. Kalau ini tidak dibersihkan, tentu tahun-tahun ke depan juga masih banjir. Tapi kalau sungai itu juga dibersihkan, tentu tidak berdampak banjir,” ungkapnya.  Diungkapkan pula, pihaknya dan masyarakat mengaku tidak punya wewenang untuk membersihkan gulma di Sungai Malaya. Lagi pula, normalisasi yang dilakukan masyarakat masih manual. 

“Itu kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS). Kami berharap, gulma itu segera dinormalisasi, agar aliran air lancar,” harapnya. Saat ini, sepanjang 1,2 kilo meter parit nanas sudah dinormalisasi. Masih ada 500 meter gulma yang belum ditarik ke permukaan parit.Kabid Sumber Daya Air Dinas PU Kota Pontianak, Hendra Bachtiar membenarkan bahwa kawasan sungai Malaya tertutup oleh tumbuhan gulma sehingga mengakibatkan air terhambat. “Makanya kalau hujan, saluran air terhambat jadi pasang,” katanya.

`Pemerintah Kota Pontianak sendiri kata Hendra sudah menyurati Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk segera menormalisasi gulma yang menutupi kawasan sungai Malaya. “Jumat kemarin sudah disampaikan ke mereka suratnya untuk minta bantu menormalisasi sungai pakai alat berat,” sebutnya. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, Aswin Thaufiek mengatakan, masalah gulma di sungai Malaya sepanjang 7  kilo meter dimana aliran sungai 80 hingga 100 persen tertutup gulma. 

“Diharapkan, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan melakukan operasi dengan alat berat, sehingga bisa menuntaskan gulma dengan juga melakkan normalisasi sungai. Dengan begitu, debit air dari hulu ketika hujan dapat mengalir lancar,” jelasnya.

Dikatakan dia, untuk beberapa wilayah bentasan banjir, beberapa warga sudah melakukan gotong royong. Ini kata Aswin, bagian dari mitigasi kesiapsiagaan bencana. Dia juga berharap kepada masyarakat sekitar, aktif menyempatkan membersihkan gulma sebelum menjadi banyak.  “Mungkin sebelum mandi, sedikit sedikit gulmanya dibersihkan, biar tidak merambat cepat. Biar daerah pontianak bebas dari banjir,” harapnya. (gus) 

Berita Terkait