Terbangkan Drone, Petakan Empat Desa

Terbangkan Drone, Petakan Empat Desa

  Selasa, 16 February 2016 11:35

SEKURA – Pesawat tanpa awak drone Gemawan memetakan empat desa di Kabupaten Sambas. Kegiatan pemetaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian sekolah desa yang dilaksanakan oleh Gemawan.

“Pemetaan tata ruang partisipatif Lembaga Gemawan bekerja sama dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Sepadu (Kecamatan Teluk Keramat), Sungai Kelambu (Kecamatan Tebas), Sekuduk dan Sulung (Kecamatan Sejangkung). Menggunakan model pemetaan partisipatif, maksudnya tim bukan hanya dari Gemawan, namun juga unsur masyarakat di masing-masing desa,” ungkap Rodian, penerbang drone Gemawan yang biasa disapa Yan Sky di sela-sela pemetaan di Dusun Sepandan, Desa Sepadu, Kecamatan Teluk Keramat, baru-baru ini.

Selain Yan Sky, tim drone Gemawan juga menurunkan Indra Haryanto, A’la Maududi, dan kepala distric officer Gemawan Kabupaten Sambas, H Iskandar. Pemetaan menggunakan wahana tanpa awak drone Gemawan, sepanjang 12 – 25 Februari 2016. Direncanakan, tugas pemetaan tersebut akan terselesaikan selama 14 hari kerja.

Ketika tim turun memetakan tata ruang desa di Desa Sepadu, mereka dibantu kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sepadu, Syahriah; Kades Sepadu Mahidin, dan Kepala Dusun Teluk Durian Yuni. Mereka juga mengajak sejumlah tokoh masyarakat setempat seperti Rohmat, Mawardi, dan Beni. Puluhan warga desa dan murid-murid sekolah yang sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka pun ikut menonton penerbangan pesawat tanpa awak Gemawan tersebut.

“Pemetaan mengunakan pesawat drone ini terlebih dahulu menentukan titik-titik menggunakan alat GIS (geograpic information system) untuk arah terbang. GIS sendiri membantu dalam manajemen tata guna lahan,” tutur Yan Sky. Dikatakannya, pemanfaatan dan penggunaan lahan ini merupakan bagian dari kajian geografi yang perlu dilakukan dengan penuh pertimbangan dari berbagai segi. Tujuannya, diungkapkan dia, untuk menentukan zonifikasi lahan, sesuai karakteristik lahan yang ada. Dijelaskan dia juga jika GIS dapat membantu perencanaan wilayah, di mana hasilnya dapat digunakan sebagai acuan pembangunan menurut kegunan-kegunaanya.

“Pemetaan tata ruang desa-desa di Kabupaten Sambas ini implementasi dari UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan UU 6/2014 tentang Desa, mengamanatkan desa harus punya tata ruang sendiri. Selanjutnya dijadikan regulasi berupa peraturan desa (Perdes) yang harus mendapat persetujuan Bupati, sebelum disahkan di desa,” kata Yan Sky.

Sementara itu, kepala BPD Sepadu, Syahrial, mengapresiasi kerja tim Gemawan dalam pemetaan tata ruang desa yang partisipatif. Melalui wahana pesawat tanpa awak ini, diakui dia, dapat dilihat gambar dan video potensi-potensi desa secara jelas. “Kita sangat bersyukur karena telah melakukan kerja sama dengan Lembaga Gemawan dan Swandiri Institute (SI), kaitan dengan masalah pemetaan dengan pesawat drone. Tata ruang desa yang partisipatif sangat membantu kita,” ungkap Syahrial.

Dia yakin, melalui pemetaan tata ruang partisipatif melalui darat dan udara ini, pemerintah desa akan lebih mudah dalam memetakan perencanaan pembangunan desa ke depan. “Alhamdulillah animo masyarakat desa sangat bagus. Sekarang tinggal bagaimana hasil ini semua menjadi momentum desa dengan pemerintah Kabupaten Sambas, ihwal penataan ruang desa kita. Semoga penataan ruang desa kita sesuai peruntukan-peruntukan yang bermanfaat dan berdayaguna kemaslahatan masyarakat desa,” doa Syarial. (har)