Terbang Empat Menit, Sayap Kalstar Terbakar

Terbang Empat Menit, Sayap Kalstar Terbakar

  Sabtu, 16 April 2016 09:00
DIPERIKSA; Pesawat Kalstar nomor penerbangan KD 931 di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, beberapa menit setelah terbang balik karena kerusakan mesin.

Berita Terkait

BANJARBARU – Landasan pacu di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mendadak mencekam kemarin (15/4) sekitar pukul 12.00 Wita. Petugas pemadam kebakaran dan regu SAR bandara terlihat ramai di runway 10. Mereka sibuk mengevakuasi para penumpang pesawat Kalstar rute Banjarmasin–Kotabaru yang mendarat darurat.

Pesawat dengan nomor penerbangan KD 931 tersebut memutuskan balik atau RTB (return to base) ke bandara. Keputusan itu diambil pilot setelah mengetahui adanya kerusakan (engine fire) di mesin 1 sebelah kiri pesawat hingga terbakar. Padahal, pesawat sudah empat menit terbang dari Bandara Syamsudin Noor.

Bukan hanya di landasan pacu yang ramai. Di luar pagar bandara, pengguna jalan yang melintas di Jalan A .Yani penasaran. Mereka ingin melihat proses evakuasi. Akibatnya, timbul kemacetan cukup panjang.

Sementara itu, penumpang Klastar yang sudah dievakuasi ke terminal Bandara Syamsudin Noor terlihat tegang. Muhammad, salah seorang penumpang, mengaku masih gemetar lantaran kejadian yang baru dialami. ”Kami semua panik dan trauma,” katanya.

Dia sangat bersyukur pesawat dapat kembali ke landasan pacu dengan selamat setelah bagian kiri pesawat terbakar. ”Ketika pesawat terbang, tiba-tiba bagian kiri pesawat mengeluarkan asap dan terbakar,” katanya.

Tidak hanya terbakar, pesawat terbang dalam kondisi miring. Para penumpang pun panik. ”Pesawat sudah miring, untung tidak jatuh,” tambah Muhammad.

Penumpang Kalstar lainnya, Ahmad Nor, mengaku tak ingin melanjutkan penerbangan karena khawatir kejadian terbakarnya mesin pesawat kembali terulang. ”Ini saja saya sangat bersyukur bisa selamat, kapok sudah kalau disuruh naik pesawat lagi,” katanya.

Ahmad menuturkan, ketika pesawat Kalstar yang ditumpangi terbang dalam kondisi miring, dirinya selalu teringat anaknya yang saat ini berada di Kotabaru. ”Dari tadi saya teringat dengan anak saya. Saya tidak ingin meninggalkan dia,” ujar dia sembari memperlihatkan foto sang anak di ponselnya. Ahmad rencananya bertolak ke Kotabaru dengan menggunakan alat transportasi darat. ”Mungkin besok (hari ini, Red) saya naik bus saja,” ujarnya.

Sementara itu, GM Angkasa Pura I Banjarmasin Handy Heryudhitiawan mengungkapkan, pesawat dengan nomor registrasi PK-KSC tersebut mengangkut 34 penumpang. ”Seluruh penumpang aman. Tidak ada korban jiwa,” ungkapnya.

Namun, empat penumpang harus dilarikan ke Rumah Sakit Siaga, Banjarmasin. Sebab, mereka mengalami trauma. Juga, keseleo lantaran terpeleset ketika dievakuasi keluar dari pesawat. ”Penumpang memang harus cepat keluar dari pesawat sehingga ada yang keseleo. Tiga ibu dan satu bapak dilarikan ke rumah sakit,” tutur Handy.

Dia memastikan, empat penumpang tersebut tak mengalami luka serius. Pihak Angkasa Pura I dan Kalstar juga senantiasa mendampingi para korban di rumah sakit. ”Kondisi semuanya stabil,” katanya.

Disinggung mengenai penyebab kerusakan mesin 1 hingga mengeluarkan api, Handy mengaku belum mengetahuinya. Sebab, harus ada investigasi oleh KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) terlebih dahulu. ”Kami sudah melaporkan kejadian ini ke KNKT untuk segera melakukan investigasi,” tuturnya.

Handy menambahkan, karena kejadian tersebut, bandara ditutup 15 menit. Akibatnya, tiga pesawat mengalami keterlambatan, yaitu Lion Air jurusan Banjarmasin–Surabaya, Garuda rute Banjarmasin–Jogjakarta, dan Wings rute Banjarmasin–Kotabaru. ”Pukul 12.00 Wita, teknisi Kalstar minta waktu untuk memeriksa engine,” tambahnya.

Sementara itu, PTS Distrik Manajer Airnav Banjarmasin Karno mengungkapkan, ketika kapten pilot atas nama Richard J.G. mengontak tower, pesawat Kalstar baru terbang empat menit. ”Saat itu kami langsung berkoordinasi dengan PT Angkasa Pura I guna melakukan evakuasi,” ungkapnya.

Pihaknya tak mengetahui pasti pesawat sudah berada di ketinggian berapa lantaran yang terpenting adalah menyelamatkan para penumpang. ”Kondisi saat itu lagi emergency. Jadi, yang kami prioritaskan adalah keselamatan penumpang,” ujar Karno. (ris/c10/kim)

 

Berita Terkait