Terapkan Kantong Plastik Berbayar

Terapkan Kantong Plastik Berbayar

  Minggu, 21 February 2016 11:15
HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SEBANYAK 17 persen sampah berbahan plastik jadi penyumbang tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Batu Layang, Pontianak. Parahnya, meski bertahun-tahun di timbun, sampah plastik masih utuh. Untuk menekan sampah plastik, perhatian serius pun dilakukan pemerintah pusat dengan menerapkan kantong plastik berbayar, di 23 Kota seluruh Indonesia.

 

MESKI Kota Pontianak tidak termasuk kota yang ditunjuk, inisiatif pengurangan pemakaian kantong kresek sebagai penyumbang sampah juga dilakukan pemerintah Kota Pontianak. Kebijakan tersebut diluncurkan bersamaan dengan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh tepat di hari Minggu ini, 21 Februari. Kota-kota yang akan diberlakukan diantaranya, Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon dan Papua.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Pontianak, Sri Sujiarti mengungkapkan, 17 persen sampah plastik merupakan penyumbang sampah di TPA Batu Layang. Di jelaskan dia, pada dasarnya plastik yang beredar di masyarakat merupakan plastik yang sulit di olah. Bahkan sulit hancur. “Plastik bisa hancur antara 100-500 tahun ke depan. Di TPA, ada sampah plastik dari tahun 1997 sampai sekarang keadaannya masih utuh,” terangnya kepada Pontianak Post beberapa hari lalu.

Baru-baru ini pemerintah pusat membuat kebijakan pendistribusian plastik yang gampang diolah. Plastik olahan itu dapat hancur dalam waktu 1-2 tahun. Pencanangan pempus tidak itu saja, saking serius dalam hal pengurangan jumlah sampah plastik, mereka (pempus) juga canangkan pemberlakukan plastik berbayar di 23 kota seluruh Indonesia.

Nanti distribusi plastik berbayar melalui retail atau toko-toko moderen. Contohnya, kita beli barang, plastik yang digunakan juga mesti dibayar, “Selama ini kita langsung di beri plastik ketika membeli beragam barang. Di 23 kota yang telah ditentukan itu nanti masyarakat mesti membayar plastik,” katanya.

Di Pontianak lanjutnya, volume sampah terus bertambah tiap tahun. Salah satu penyumbang adalah sampah plastik. Di hari peduli sampah nasional, pihaknya akan membuat gebrakan demi pengurangan penggunaan plastik. Gerakan itu ia namakan “diet tas kresek”. Dalam pelaksanaan nanti, pihaknya akan merebut tas kresek dan mengganti dengan tas daur ulang, berbahan kain serta lainnnya yang dibuat bank sampah. “Zaman dulu ibu-ibu belanja selalu membawa tas belanja. Nah kita akan membudayakan ini kembali, supaya mereka tidak menggunakan tas kresek yang sulit di olah,” jelasnya.

Sampai sekarang limbah plastik sulit untuk di olah. Pemerintah telah lakukan upaya untuk pengolahan sampah. Di pusat, pendapat presiden justru bersimpangan tentang sampah. RI satu ingin ke depan sampah bukan lagi jadi ancaman tetapi jadi potensi bagi pembangunan daerah dan pusat. Caranya dengan mengubah limbah sampah jadi energi, diantaranya sumber listrik dan bio gas.     

Saat ini secara infrastuktur tempat sampah di Pontianak belum maksimal. Namun tahun ini pemkot berencana membangun bank sampah di Purnama ujung. Nanti pihaknya akan mengelola limbah sampah jadi sumber biogas dan kompos. Untuk percobaan, limbah sampah akan di ambil di tiga pasar tradisional, yaitu Pasar Kemuning, Mawar dan Flamboyan. “Kita sudah ada peralatannya. Untuk pemilahan akan dilakukan dari pasar. Kita akan siapkan kontainer berbeda warna untuk penempatan organik dan non organik,” katanya. 

Tahun 2015 lalu, pemkot juga di tunjuk menjadi salah satu daerah yang diusulkan untuk mengolah sampah jadi energi. Saat ini tengah menunggu peraturan presiden. Potensi untuk mengubah sampah jadi sumber energi tentu saja bisa dilakukan. “Saya yakin Pontianak dapat melakukannya,” katanya yakin.

Dipaparkan dia, akhir-akhir ini penambahan sampah mengalami kenaikan. Menurutnya bertambah penduduk salah satu penyebab bertambahnya volume sampah tiap harinya. Berdasarkan SNI, satu manusia bisa menghasilkan 2,7 liter sampah per hari. “Nah, karena penduduk terus bertambah, sampah ikut bertambah,” terangnya.

Untuk mengetahui volume sampah, pihaknya masih mengggunakan meter kubik, itu karena sekarang ini belum memiliki timbangan sampah. Dipaparkan, satu dam sampah maksimal dapat menampung 6,5 meter kubik sampah. Sedangkan satu container dapat menampung 6 meter kubik sampah. “Total per hari jumlah sampah yang diangkut ke TPA ada 1400 meter kubik. Untuk total sebulan tinggal dikalikan saja,” jelasnya.

1400 meter kubik itu lanjut dia belum kesemua sampah terangkut. Perkiraan dia, sampah yang terangkut baru 80 persen. Sisa sampah yang belum terangkut berasal dari sampah liar yang bertebaran di tiap titik di Kota Pontianak. “Tugas Dinas Kebersihan melakukan pengambilan sampah tiap hari di tiap TPS lalu menuju ke TPA. Untuk sampah liar, kita selalu lakukan sosialisasi ke camat lurah dan masyarakat,” ujarnya.

Jika ada temuan sampah liar di kelurahan di wilayah kecamatan Pontianak, maka pihak camat atau lurah melaporkan ke Dinas Kebersihan. Nanti tebaran sampah liar akan dibersihkan dan di angkut untuk di buang ke TPA. Tidak sampai di sini, pihaknya memasang plang dengan meminta camat dan lurah melakukan pengawasan di tempat itu agar ke depan tidak lagi menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pembuangan sampah liar.

Meski sudah di tempatkan TPS di banyak titik, buktinya sampah liar kerap ditemukan petugas. Jumlah TPS di Pontianak kurang lebih ada 130. Melalui beberapa pertimbangan, Dinas Kebersihan terpaksa menutup 3 TPS karena beberapa alasan. Penyebabnya karena mengganggu lalu lintas serta berdekatan dengan sekolah. Diantaranya TPS jalan Wan Sagaf, Pasar Mawar dan di Sungai Sebedang wilayah Sungai Jawi. Meski TPS di tutup, pihaknya telah mengarahkan masyarakat untuk membuang sampah di beberapa titik yang tak jauh dari tiga TPS tersebut.

Ia mengungkapkan, ke depan pemkot tidak akan menambah jumlah TPS. Bahkan ke depan penempatan TPS akan diarahkan per kecamatan. Dalam penempatan tidak lagi menggunakan bahu jalan seperti di beberapa TPS. “Mungkin tahun ini kita akan mencoba menerapkan. Kalau penempatan TPS yang paling minim ada di Pontianak Tenggara,” ujarnya.

Untuk kondisi TPA menurutnya perlu dilakukan perbaikan infrastruktur sampai ke bagian belakang. Karena sekarang TPA hanya di gunakan di bagian depan. Bangunan yang ada lanjutnya kini kondisinya rusak dan terkesan tenggelam dikarenakan TPA berdiri di lahan gambut. Beberapa waktu lalu konsultan telah mengecek keadaan sekitar, mungkin ke depan akan ada perbaikan.

Limbah sampah ketika sampai di TPA disebutkan dia, tidak lagi di olah menjadi sumber energi. Namun ke semua sampah itu akan di kubur agar proses pembusukannya sempurna. Pihaknya juga mengajukan perda persampahan. Mudah-mudahan tahun ini bisa selesai dan dapat mengatasi masalah persampahan di Pontianak.

 

Sama halnya dengan di kota Pontianak, hingga saat ini sampah masih menjadi persoalan yang mendapat perhatian khusus Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk bisa diatasi. Apalagi hingga sekarang tingkat kepedulian sebagian masyarakat Kubu Raya masih minim untuk membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kubu Raya, Encep Mulyadi menyatakan hingga saat ini  total sampah yang ada di Kubu Raya mencapai 150 kubik perhari. “Jumlah atau volume sampah bisa meningkat hingga 200 kubik perhari saat musim buah atau musim perayaan hari-hari besar,” katanya.

Jika  volume sampah kian meningkat, bidang kebersihan harus bisa bekerja ekstra dalam mengangkut dan membersihkan setiap sampah yang berserakan. “Ironisnya, meski sudah ditentukan jadwal pembuangan sampah, hingga sekarang masih ada saja oknum warga yang tak disiplin dalam membuang sampah pada tempat dan waktu yang disediakan,”  terangnya.

Berbatasan langsung dengan Kota Pontianak menurutnya juga menjadi persoalan tersendiri bagi peningkatan jumlah volume sampah, apalagi Encep sempat mendengar ada keluhan beberapa petugas lapangan yang menemukan oknum warga Kota Pontianak  yang membuang sampah di Kubu Raya begitu juga sebaliknya.

“Saya pribadi belum pernah menyaksikan langsung ada warga tetangga yang membuang sampah di Kubu Raya begitu juga sebaliknya, tetapi wajar saja hal ini terjadi karena Kubu Raya berbatasan langsung dengan Kota Pontianak. Menurut saya yan seharusnya dilakukan adalah terus memberikan edukasi dan sosialisasi bagi masyarakat agar bisa lebih disiplin  dalam membuang sampah pada waktu dan tempat yang disediakan sehingga petugas kebersihan bisa lebih mudah dan cepat dalam mengangkut sampah-sampah tersebut,” paparnya.

Untuk  menekan volume sampah, hingga saat ini pemerintah daerah setempat terus memberikan sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat untuk lebih disiplin dalam membuang sampah tempat waktu dan pada tempat yang telah disediakan.

Selain itu kata Encep, saat ini pihaknya sedang menyiapkan sanksi tegas bagi masyarakat yang tidak disiplin dalam membuang sampah.

Pada dasarnya Pemkab Kubu Raya yelah memiliki Perbup nomor 31 tahun 2014 entang penanganan dan penyelenggaraan pengelolaan sampah dan Perda nomor 9 tahun 2013 tentang penggelolaan sampah. Pada kedua aturan yang telah dibuat itu sebenarnya telah memuat berbagai atuaran mengenai tata cara pembuangan sampah bahkan waktu pembuangan sampah juga telah ditentukan. Namun diakuinya hingga sekarang tingkat kesadaran sebagian masyarakat masih kurang  disiplin dalam membuang sampah

“Untuk menertibkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat, kedepan kami sedang merancang dan menyiapkan sanksi tegas bagi masyarajat yang masih belum disiplin dalam memnbuang sampah,” ucapnya.

Sanksi yang dimaksud menurutnya, kedepan jika setelah dilakukan sosiasliasai dan edukasi masih ditemukan masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya maka akan diberikan sanksi kurungan selama enam bulan dan denda setinggi-tingginya Rp50 juta.

“Sanksi ini akan kami implementasikan jika sosialisasi termasuk edukasi sudah optimal dilakukan,” tegasnya.

Disinggung soal jumlah armada pengangkut sampah, kata Encep saat ini armada pengangkut sampah yang dimiliki Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan Kubu Raya saat ini berjumlah sekitar 22 unit yang terdiri dari 8 amrol dan 14 unit dum truk. Sedangkan jumlah petugas kebersihan yang ada sebanyak 170 orang yang bertugas sebagai pengangkut, penjaga Tempat Pembuangan Sementara (TPS), membersihkan jalan hingga menjaga Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Total TPS yang kami miliki sekitar 20 TPS yang tersebar hampir disetiap titik penjuru ibu kota kabupaten dan yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak.

“TPS ini akan terus kami optimalkan keberadaannya dengan harapan masyarakat bisa lebih diisplin dalam membuang sampah dan mengantisipasi agar masyarakat tidako membuang sampah ke Kota Pontianak,” ungkapnya.  (iza/ash)

Berita Terkait