Terancam Punah, Dosen Arizona Mengidentifikasi

Terancam Punah, Dosen Arizona Mengidentifikasi

  Minggu, 27 March 2016 10:56
Kucing Bakau

Berita Terkait

Beberapa waktu lalu, Tim Sampan Kalimantan bersama pria asal India, Aswin Naidu yang juga sebagai Dosen di Universitas Arizona, Amerika Serikat, sebagai ahli perkucingan (wild research and conservasion), melakukan penelitian keberadaan kucing bakau di wilayah Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya. Tujuannya untuk mengidentifikasi populasi kucing bakau secara berkelanjutan. 

MIRZA, Sungai Raya
 

AKTIVITAS Sampan Kalimantan yang ikut mencari jejak kucing bakau bersama dosen asal India, Benny Ramadhani, mengungkapkan, keberadaan kucing bakau saat ini masuk fase krisis terancam punah. “Tahun 2008 sampai 2010 masih masuk terancam punah. Kurun waktu beberapa tahun belakangan keberadaan kucing bakau menjadi krisis terancam punah,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Pertemuan Sampan Kalimantan dengan peneliti kucing, berawal dari perkenalan satu orang Tim Sampan dengan Aswin Naidu, yang diketahui sebagai peneliti kucing di salah satu universitas di negara adidaya. Dari perkenalan itu, teman Sampan menjelaskan wilayah dampingan Sampan Kalimantan dan menjelaskan sebaran kucing di sana khususnya jenis kucing bakau. Tertarik cerita tersebut, Aswin beserta beberapa orang teman asal India datang untuk melakukan penelitian sebaran kucing bakau di wilayah Batu Ampar, khususnya di Desa Tanjung Harapan.

Dia menjelaskan sebaran kucing terbesar ada di wilayah Asia. Ternyata besarnya populasi di benua itu justru menjadi ancaman bagi habitat kucing. Menurut data yang berhasil di dapat Benny, populasi kucing semakin berkurang sejak tahun 2013. Terus berkurang dikarenakan beberapa jenis kucing jadi hewan buruan dan di jual oleh penadah.

Selain itu alih fungsi kawasan seperti untuk indutri berbasis hutan dan lahan, pemanfaatan hutan seperti ilegal loging sampai kejadian bencana abrasi atau erosi dan kebakaran hutan turut memicu berkurangnya populasi kucing. “Kucing bakau hewan karnivora. Mereka biasa memakan hewan peliharaan masyarakat seperti anak ayam. Tak jarang kucing di bunuh karena kucing sering memangsa hewan peliharaan masyarakat,” ungkapnya.

Ketika survei dilakukan tim memilih lokasi bentang pesisir Padang Tikar, Batu Ampar hingga ke Desa Tanjung Harapan. Dalam 7 hari ekpedisi pencarian jejak kucing bakau, tim identifikasi menemukan jejak kaki kucing sampai kotoran di beberapa tempat. Namun di beberapa wilayah dengan stuktur tanah keras, tim sulit menemukan bekas tapak, yang tertinggal hanya kotorannya.
“Selain mencari jejak dan kotoran kucing bakau, kami juga memasang kamera di tiga tempat jadi lokasi temuan jejak dan kotoran. Kamera itu bisa tahan hingga 6 bulan, namun tiap satu minggu selalu kita cek. Kita sudah koordinasi dengan masyarakat setempat perihal ini,” ungkapnya. (*)
 

Berita Terkait