Tepis Isu Negatif Sawit

Tepis Isu Negatif Sawit

  Minggu, 1 Oktober 2017 09:00
MENJANJIKAN: Budidaya sawit dinilai menjanjikan peningkatan pendapatan. Karena itu, Politeknik Negeri Sambas menggelar pelatihan dan pendampingan teknis budidaya sawit bagi masyarakat. ISTIMEWA

Berita Terkait

SAMBAS  –  Banyak isu negatif tentang kelapa sawit yang beredar di masyarakat. Isu itu misalnya; sawit boros air, sawit memerlukan pupuk yang banyak, tanah akan tandus bila ditanami sawit dan sebagainya. Padahal, kenyataan di lapangan sangat berbeda.

“Tanah menjadi tandus akibat sawit hanyalah sebuah mitos, yang muncul akibat persaingan dagang minyak nabati dari komoditas lain seperti kedelai yang merupakan komoditas impor,” kata Heriyansyah didampingi Dian Sari dari Politeknik Negeri Sambas (Poltesa) melalui siaran pers, kemarin.

Dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya seperti kedelai, kelapa, jagung, dan lain-lain, ternyata, diungkapkan dia jika kelapa sawit justru sangat hemat air dan hemat pupuk. Karena itu, dia menegaskan, tidak ada alasan untuk anti terhadap sawit.

Semakin banyaknya pabrik pengolahan tandan buah segar (TBS)  menjadi crude palm oil (CPO) di Kabupaten Sambas, diakui dia, telah membuka peluang usaha budidaya sawit. Usaha ini, menurutnya, menjanjikan peningkatan pendapatan bagi petani. 

Demi membantu masyarakat, melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Poltesa menggelar pelatihan dan pendampingan teknis budidaya tanaman kelapa sawit. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Lumbang, Kecamatan Sambas, dimulai bulan Juli dan berakhir pada Oktober 2017.  

Menurut Heriyansah dan Dian Sari selaku pelaksana kegiatan, untuk lahan 1 hektare, bisa menambah pendapatan petani berkisar antara Rp1,2 juta – Rp3 juta per bulan jika harga TBS sebesar Rp1.200 perkilogram.  “Jika harga TBS naik, maka pendapatan petani pun semakin meningkat,” ujarnya. (r)

Berita Terkait