Tentang Kode, Topeng Kematian, dan Surat Cinta

Tentang Kode, Topeng Kematian, dan Surat Cinta

  Sabtu, 2 July 2016 09:30
INI FLORENCE!: Palazzo Vecchio inilah yang dilihat Robert Langdon ketika membuka mata kali pertama di Florence dalam kondisi hilang ingatan. Dalam cerita di Inferno, Langdon langsung tahu dia sedang berada di bekas ibu kota Italia (1865 – 1871) itu begitu memandang kastil tersebut. RETNA CHRISTA/JAWA POS

Berita Terkait

Florence, kota kelahiran gerakan renaisans itu, mengikuti jejak Paris dan Roma: menjadi latar novel Dan Brown. Tepatnya untuk buku keempat Robert Langdon, Inferno (2013). Wartawan Retna Christa mencoba menapaktilasi perjalanan Langdon di novel tersebut ketika berkunjung ke sana belum lama ini. 

-----

FRANCESCA, perempuan yang berdiri di belakang konter kios travel agent di dekat Stasiun Santa Maria Novella itu, mendengarkan penjelasan dari ujung telepon dengan saksama. Bibirnya mengerucut. ”Ah, si, si...,” katanya.

Dia menyudahi percakapan dengan grazie dan ciao, lalu menoleh ke arah Jawa Pos dengan wajah menyesal. ”Seperti yang kukatakan tadi, tur Inferno penuh. Ada lagi besok pagi, pukul 09.30. Kamu mau?”

Karena sudah harus meninggalkan Italia pada malam harinya, saya menolak. Francesca lalu memberikan peta Florence gratis. Plus penjelasan singkat soal tur Inferno. ”Spot paling dekat dari sini adalah Palazzo Vecchio,” katanya sambil menggambar garis antara tempat saya berdiri dan bangunan yang dimaksud.

Menjejakkan kaki di Florence rasanya seperti berkunjung ke sudut-sudut kota tua di Eropa. Di Benua Biru itu, hampir setiap kota punya old town, yang jalanannya tersusun dari batu dan bangunan-bangunannya merupakan peninggalan abad lampau. Bedanya, di Florence ini seluruhnya seperti old town. Semuanya kuno.

Meski kecil mungil, kota yang kita kenal sebagai markas klub sepak bola Fiorentina itu tidak akan habis dijelajahi dalam sehari dua hari. Dibutuhkan setidaknya dua pekan untuk menghabiskan semua spot indah dan bersejarah di sana. Para seniman besar, filsuf, keluarga Medici yang terkenal, banyak yang berasal dari Florence. Semua peninggalannya layak dikunjungi.

Karena hanya punya waktu sesiangan di Florence, Jawa Pos memilih rute jalan-jalan yang relatif singkat, tapi cukup mencakup banyak hal. Pilihannya adalah rute Inferno. Yakni menapaktilasi perjalanan Robert Langdon dalam novel Dan Brown.

Dibanding Da Vinci Code dan Angels and Demons, Inferno yang merupakan buku keempat seri Langdon memang masih kalah pamor. Tapi, begitu filmnya rilis November mendatang, tentu bakal ngehit juga. Di novel tersebut, Langdon bersama dr Sienna Brooks mengelilingi Florence dalam waktu kurang dari 24 jam. Sembari memecahkan simbol-simbol untuk menyelamatkan dunia dari seorang ilmuwan maniak (yeah, yeah...). 

Simbol-simbol yang harus dipecahkan Langdon berkaitan dengan naskah puisi The Divine Comedy karya Dante Alighieri. Tertulis dalam tiga bagian: Inferno (neraka), Purgaturio (alam antara neraka dan surga), dan Paradiso (surga). Bagian Inferno-lah yang banyak diambil sebagai clue permainan Langdon dengan si ilmuwan.

Dalam tur-tur yang diadakan travel agent, perjalanan dimulai dari Porta Romana. Namun, saya percaya semuanya harus dimulai dari Palazzo Vecchio. Kastil itulah yang dilihat Langdon ketika membuka mata kali pertama di Florence, dalam kondisi hilang ingatan. 

Hanya perlu sepuluh menit jalan kaki dari stasiun untuk menemukan bangunan tersebut. Terselip di antara ”hutan” istana megah dan katedral-katedral supercantik, benteng dengan menara setinggi 94 meter itu begitu mudah dikenali. Boleh dibilang itu landmark nomor satu Florence. ”Ini Florence!” seru Langdon ketika melihat Palazzo Vecchio. 

Istana tersebut mulai dibangun pada 1299, tapi baru benar-benar jadi pada akhir abad ke-15. Awalnya digunakan sebagai kantor oleh pemerintah komunitas setempat. Ketika Florence menjadi ibu kota Italia pada 1865 hingga 1871, Palazzo Vecchio digunakan sebagai kantor parlemen.  

Pagi itu kawasan tersebut sudah sangat ramai. Karena palazzo masih tutup, turis memilih bersantai di Piazza della Signorina, plaza kecil di depannya. Saling memotret, selfie, atau bersandar di bawah patung kura-kura raksasa dari perunggu yang merupakan lambang keluarga Medici. Di sekitarnya juga bertebaran patung terkenal. Mulai beberapa versi Hercules hingga replika patung David. 

Dalam novel, Langdon tak sempat mengagumi istana tersebut. Karena diburu pembunuh bayaran, dia melarikan diri ke apartemen Sienna Brooks. Dari situ keduanya memulai petualangan ke Porta Romana. Maka, ke sanalah saya melanjutkan perjalanan.

Dari luar, sepertinya tidak ada yang istimewa dari gerbang batu dari abad ke-14 yang panjangnya sekitar 15 meter itu. Namun, ini adalah salah satu peninggalan abad pertengahan yang terawat dengan sangat baik. Pintu besinya masih asli. Begitu pula lambang keluarga Medici yang terpahat di salah satu dindingnya.

Porta Romana menghubungkan dua bulevar (yang sebenarnya tidak besar-besar amat), yakni Viale del Poggio Imperiale dan Viale Machiavelli. Di novel, Langdon dan Sienna harus kucing-kucingan dengan polisi untuk menyeberang ke salah satu jalanan paling bersejarah di Florence tersebut. Karena gagal, mereka kabur lewat Boboli Gardens. 

Nah, inilah kekecewaan terbesar saya. Boboli Gardens, tempat Langdon memecahkan petunjuk pertama teka-teki Inferno, masih tutup. Sekelompok pengunjung yang berdesakan di pintu masuknya bergumam kecewa. ”Salah timing. Kalau Senin hanya dibuka sore,” kata seorang pengunjung. 

Ini kerugian besar. Sebab, Boboli Gardens menyimpan begitu banyak rahasia. Di kebun berbukit seluas 45 ribu meter persegi itu, tersimpan banyak artefak. Tak terhitung air mancur indah, patung-patung karya seniman ternama, dan belasan museum yang menyimpan benda-benda peninggalan zaman renaisans.

Di Boboli Gardens, Langdon memecahkan petunjuk yang mengarah ke lukisan The Battle of Marciano karya Giorgio Vasari. Langdon dan Sienna pun menuju ke tempat lukisan itu. Lokasinya di mana? Palazzo Vecchio! Oh dear… 

Itulah sebabnya tur-tur rute Inferno mengenakan charge rata-rata EUR 70 hingga 90 (antara Rp 1 juta hingga Rp 1,4 juta). Relatif mahal untuk walking tour berdurasi enam jam. Tapi, memang ada gunanya. Sebab, rata-rata lokasi yang didatangi Langdon dan Sienna memang tempat wisata. Harus pakai tiket. Termasuk Palazzo Vecchio.

Ketika Jawa Pos tiba –tepatnya kembali– ke sana, antrean di depan konter tiket sudah sangat panjang. Mereka bergerak pelan. Tidak heran juga kalau salah satu biro tur menawarkan fasilitas ”tanpa antre” dalam paket wisatanya. Antrean di sini bisa mencapai setengah jam. 

Tur Palazzo Vecchio terbagi dalam beberapa pilihan. Ada tiket untuk museum saja, ada museum plus menara, dan macam-macam lagi. ”Saya hanya ingin melihat Cerca Trova. Oh, maksud saya lukisan Battle of Marciano,” kata Jawa Pos kepada petugas konter. ”Oh ya,” buru-buru saya menambahkan, ”sama Hall of Geographical Mask.” 

Si petugas paham. ”Inferno ya?” kata dia, lalu menyarankan tiket museum only. Senang dong, paling murah soalnya. Hanya EUR 14, sekitar Rp 210 ribu. ”Ada topeng kematian Dante juga di dekat situ,” ucapnya seraya menyerahkan tiket.

Saya langsung menuju lantai 1, ke Salone dei Cinquecento, sebuah kamar superluas yang menjadi rumah ratusan lukisan terkenal. Termasuk karya-karya Da Vinci, Michelangelo, serta Vasari. Beberapa di antaranya belum selesai dan nilai historisnya malah makin tinggi. Battle of Marciano ada di sana. Nyempil di antara karya-karya agung abad pertengahan. 

Setelah melotot sejenak, tentu saja sudah nyontek dari Google, ketemu juga tulisan itu. Cerca Trova. Tertulis di salah satu panji-panji warna hijau yang dibawa beberapa tentara. Oke, satu petunjuk sudah ketemu. Lalu apa? Dalam novel, Langdon saat itu bertemu dengan pengurus museum dan mereka menuju topeng kematian Dante. 

Nah, ini juga sulit ditemukan kalau tidak bertanya. Topeng yang jadi sentral cerita itu bukannya ditaruh di hall spesial. Topeng seukuran wajah asli itu ada di andito (aula) mungil antara Apartment of Eleanor dan The Halls of Priors. Disimpan dalam lemari kaca kecil berukir, kira-kira hanya setengah meter tingginya, dan diletakkan di meja kayu panjang. 

Topeng tersebut dipercaya sebagai cetakan asli wajah Dante. Disebut topeng kematian karena memang dicetak dari wajah Dante ketika baru meninggal. Namun, sejumlah studi menyebut itu hanyalah rekaan para seniman kolega (atau suruhan keluarga Medici) yang berusaha mengabadikan wajah sang penyair. ”Serem ya kalau beneran (cetakan wajah asli, Red),” kata seorang remaja cewek setelah membaca keterangan di peta yang dipegangnya. 

Sebelum meninggalkan Palazzo Vecchio, Jawa Pos menyempatkan mampir ke Hall of Geographical Maps. Tempat grand duke keluarga Medici menyimpan barang-barang pribadi. Tiap pintu lemari dan kabinet ditutup 53 peta bagian-bagian bumi. Semuanya dilukis dengan cat minyak. 

Dan benar-benar ada pintu menuju jalur rahasia di sana. Bahkan banyak! Dalam novel, seolah-olah hanya ada satu jalur rahasia yang kemudian digunakan Langdon dan Sienna untuk kabur. ”Jalur-jalur itu dibuat untuk alasan keamanan, jika ada perang atau serangan mendadak. Duke atau anggota parlemen bisa melarikan diri lewat sana,” terang Sandra, pengurus kastil yang menjaga lantai 2. ”Jangan coba-coba masuk kalau tidak sama pemandu. Kamu tidak tahu akan muncul di mana,” ingat dia.     

Masih ada dua tempat yang harus didatangi sebelum meninggalkan Florence, yakni Gereja Dante dan Florence Baptistery. Semuanya terletak di satu kompleks sekitar Piazza Duomo dan Palazzo Vecchio. Bisa didatangi dengan jalan kaki. Dalam perjalanan ke sana, Jawa Pos melewati jalanan yang sebenarnya bersejarah buat buku ini. Via Dante. 

Jalanan itu begitu kecil, nyelempit. Di tepi jalan, berdiri rumah Dante yang kini menjadi museum. Ada patung dada Dante dari perunggu di bagian fasad samping rumah, agak tinggi dari jangkauan. Sebuah karangan bunga berdiameter 60 cm diletakkan di bawahnya begitu saja. 

Gereja Dante pun tak kalah mungil. Lebih mirip kapel sebenarnya. Gereja tersebut dipercaya sebagai tempat Dante bertemu dengan cinta pertamanya, Beatrice Portinari. Perempuan itu kemudian menjadi muse sang penyair, yang menjadi inspirasi The Divine Comedy. Cinta mereka tidak mulus, tentu saja, karena sang Beatrice cantik akhirnya menikah dengan seorang banker. 

Nah, banyak pengunjung kapel yang lantas menulis surat kepada Beatrice, meminta sang muse melindungi cinta mereka. Kertas-kertas surat para lover itu ditampung dalam keranjang kayu, rata-rata diawali dengan Dear Beatrice,… Jawa Pos tentu menulis juga. Tentang siapa? Pacar dong… 

Tempat terakhir adalah The Baptistery, tempat Langdon dan Sienna menemukan topeng Dante yang telah dicuri. Tempat itu ditemukan Langdon berkat petunjuk yang merujuk pada Gate of Paradise. Yakni gerbang timur gereja pembaptisan yang dibuat Lorenzo Ghiberti. 

Jawa Pos sempat memutari gereja berbentuk oktagon itu sampai menemukan gerbang yang terbuat dari emas murni tersebut. Ketika sampai di sana, sudah banyak turis yang berkerumun mengaguminya. Daun pintu di balik gerbang itu terdiri atas sepuluh panel yang masing-masing menggambarkan adegan Perjanjian Lama. Sangat indah dan detail. Sekaligus mengerikan. 

Pembaptisan adalah tempat terakhir yang dikunjungi Robert Langdon dan Sienna Brooks di Florence. Adegan selanjutnya, mereka bergegas ke Stasiun Santa Maria Novella dan naik kereta ke Venezia. Di novel, mereka lantas melanjutkan perjalanan ke Istanbul, Turki. Inferno mencapai klimaks di Hagia Sophia. 

Aduh, alangkah serunya kalau menapaktilasi jejak Langdon dan Sienna sampai ke sana. Dari Baptistery, saya pun ke Santa Maria Novella. Sayangnya bukan ke Venezia, lalu ke Istanbul. Tapi pulang ke Milan... (*/c9/sof)  
 

Berita Terkait