Tenses pada Tulisan Ilmiah

Tenses pada Tulisan Ilmiah

Minggu, 31 December 2017 08:43   45

SELAIN aspek isi masing-masing bagian, pendahuluan-metode-hasil-pembahasan-kesimpulan, aspek kebahasaan suatu artikel ilmiah juga merupakan bagian yang perlu diperhatikan. Suatu gagasan yang baik akan diterima sama baik oleh pembacanya jika disampaikan dengan jelas, lengkap dan singkat.
Salah satu unsur kebahasaan dari suatu tulisan ilmiah adalah kalimat. Kalimat merupakan ‘blok batu bata’ dari suatu ‘bangunan’ tulisan ilmiah. Agar apa yang dikomunikasikan dapat ditangkap jelas, kalimat harus lengkap dan disusun dalam ketata-bahasaan yang benar.  
Kalimat-kalimat dalam suatu artikel ilmiah harus efektif. Kalimat yang efektif adalah kalimat yang tepat mewakili gagasan penulisnya dan sanggup menimbulkan gagasan pembacanya yang tepat sama dengan yang dipikirkan penulisnya (Gorys Keraf, 1993. Komposisi, Cet IX). 
Bagi mereka yang menulis artikel dalam bahasa Inggris dan bahasa Eropa yang yang lain dikenal istilah ‘tenses’. Secara umum, ‘tenses’ dipahami sebagai suatu struktur kalimat, khususnya struktur kata kerja, yang mencerminkan ‘waktu’ yang dirujuk dalam suatu kalimat (Gramatical tenses, https://en.wikipedia.org). Pada umumnya, ‘tenses’ merujuk pada waktu: sebelum, saat, atau setelah komunikasi dilakukan.
Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih ‘tense’ yang akan dipergunakan ketika menulis artikel ilmiah. Di antaranya adalah bagian dari artikel ilmiah dan sudut pandang yang dipergunakan. 
Perlu diingatkan bahwa ‘tenses’ yang digunakan dalam tulisan ilmiah bervariasi dari satu disiplin ke disiplin ilmu pengetahuan yang lain. Akibatnya, tidak ada satu pun ‘rumus’ yang berlaku untuk semua disiplin. Disarankan agar berkonsultasi dengan jurnal sasaran penulis. Sajian berikut ini diadaptasi dari Monash: Scientific writing, 2006 (http://www.monash.edu.au), khusus bagian “Writing in Science”. Marilah kit lihat bagaian per bagian.

Bagian Pendahuluan 
Bagian pendahulan berisi informasi yang melatarbelakangi  penelitian yang dilakukan. Informasi seperti itu berupa fakta yang diterima sebagai sebuah kebenaran. Pada umumnya, bagian ini disajikan dalam bentuk ‘simple present tense’. Contoh: “Concepts of science are usually represented and developed scientists 
Dalam bagian pendahuluan juga dimuat penjelasan mengapa penelitian yang ditulis dalam artikel itu penting atau perlu dilakukan. Contoh: ‘It is hoped that the study might aswer the several chellenges issued by Glibert (1983): the evelopment of diagnostic tests for use in classroom and the divising of ways of improving classroom discourse’ 
Tense yang dipilih juga menggambarkan sudut pandang penulisnya. Bentuk ‘Present tense’ digunakan untuk memberitahu kepada pembaca bahwa temua penelitian yang dirujuknya masih benar dan relevan. Contoh: ‘The average effect size of overall remediation is 0.45 with 0.15 standard deviation (Leo Sutrisno, 1990). 
Bentuk ‘Past tense’ yang digunakan di bagian pendahuluan suatu artikel ilmiah merujuk penelitian sebelumnya menunjukkan kepada pembaca bahwa ada ‘gap’ dalam penelitian itu atau mungkin temuan penelitian itu tidak berlaku lagi.  Contoh: ‘Kulik (1984) said that there were over one thousand articles in social sciences using this meta analysis’. 
Bentuk ‘Past perfect tense’ juga dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa temuan penelitian sebelumnya itu benar walaupun penulis yang bersangkutan meragukan. Contoh: ‘Clark and Thompson (2006) have assumed that there is a clear linkage between first flowering date and mean air temperature’.
Bentuk ‘Future prefect tense’ juga dapat digunakan untuk menunjukkan keraguan penulisnya. Contoh: ‘Interaction between the testing and the treatment cannot be controlled and would tend to produce a regression toward mean (kidder, 1981; Best 1981; Cate 1985).

Bagian Metode
Bentuk ‘Simple past tense’ dalam bagian metode digunakan untuk mendeskripsikan apa yang telah dilakukan dalam penelian yang bersangkutan. 
Contoh: ‘An analysis physics textbooks revealed differences between preconception of many students and the scientists conception’ (Active voice).  ‘Structured interviews were conducted with 100 secondary school students’ (Passive voice).
Bentuk ‘Present tense’ digunakan untuk membuat narasi dari sajian yang berbentuk tabel, gambar atau diagram. Contoh: ‘Table 2.1 presents a summary of the analysis of variance of Effect Size (ES) by statistical test used’.

Bagian Hasil
Bentuk ‘Past tense’ dalam bagian hasil digunakan untuk menyajikan temuan penelitiannya. Contoh: ‘The experiment revealed tht the use of a refutation text accompanied by the organizer had a substantial effect in the reduction of the number of sub-units of the physics of sound which have not been mastered (Mean =4.24; SdD=2.17)’

Bagian Pembahasan
Bentuk ‘Past tense’ dalam bagian pembahasan digunakan untuk menunjukkan signifikansi dari temuan. Contoh: ‘The refutation text accompanied by the thematic organizer had the greatest effect in reducing the number of sub-units of instruction bout sound which not mastered by students (Mean = 5.35; SD = 2.42).’ 
Bentuk ‘Present tense’ digunakan untuk memenginterpretasi temuan. Contoh: ‘The experimental results suggests promising strategies of diagnostic-remedil techniques which could help the problems caused by a lack of well-qualified and expirienced physics techers’.

Bagian Kesimpulan
Bagian kesimpulan merupakan bagian akhir dari suatu artikel ilmiah yang berisi rangkuman temuan utama, implikasinya dan munkin juga keterbatasannya. Karena itu, berbagai bentuk ‘tenses’ perlu digunakan bersama-sama. Contoh: ‘Although the study has focus on the topic of sound, the study could be broadened to other topics of physics, or even other subjects’.
Inilah beberapa contoh penggunaan ‘tenses’ pada penulisan artikel ilmiah dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, ‘tenses’ tidak dikenal. Penunjukkan kepada waktu tertentu di dalam kalimat digunakan kata keterangan waktu (kemarin, sekarang, yang akan datang, misalnya). Untuk menghindari salah tafsir, disarankan agar kata-kata: sudah, telah, sedang dan akan digunakan untuk mempertegas perujukan waktunya. 
Selain itu, sebaiknya penulis juga menggunakan idiom-idiom yang tepat untuk menujukkan sudut pandang dan gradasi keyakinannya. Kata-kata: mungkin, cenderung, pasti, dapat digunakan dengan penuh kehati-hatian. Semoga! (*)

Leo Sutrisno