Tengkawang Khas Kalbar, Loh

Tengkawang Khas Kalbar, Loh

  Jumat, 20 May 2016 09:29
BUAH TENGKAWANG: Bisa menghasilkan minyak lemak berharga tinggi, loh. Jemur biji tengkawang hingga kering, kemudian ditumbuk dan diperas hingga keluar minyaknya.

Berita Terkait

JIKA di daerah Jawa dan sekitarnya memiliki hutan pinus, maka Kalimantan Barat akan memperkenalkan kamu dengan hutan tengkawang, salah satu tumbuhan endemik Kalbar. Mungkin di antara sobat Z Pontianak pernah mendengar tentang pohon Tengkawang. Yups, Tengkawang atau dalam bahasa latinnya (Shorea spp) adalah nama buah dari pohon genus Shorea yang menghasilkan minyak nabati. Berhubung termasuk dalam kategori tumbuhan endemik, maka pohon Tengkawang hanya terdapat di pulau Kalimantan, guys!

FYI, pohon Tengkawang juga termasuk dalam golongan kayu kelas tiga. Umumnya sih digolongkan sebagai meranti merah. Nah, ciri khas pohon Tengkawang ini tinggi besar, mempunyai banyak cabang dan berdaun rimbun. Siklus hidupnya sendiri juga terbilang unik, dimana tumbuhan ini nggak setiap tahun berbuah. Biasanya dalam sekali berbuah, pohon Tengkawang harus memakan periode antara 3 hingga 7 tahun. Dan itu juga terjadi sekitar bulan Juni hingga Agustus, lama juga yak!

Mungkin lantaran periode berbuahnya yang lama, membuat masyarakat sekitar ad jarang membudidayakan tumbuhan ini. Meski begitu, buah Tengkawang bisa menghasilkan minyak lemak berharga tinggi. Cara menghasilkan minyak terbilang simple, guys, cukup menjemur biji tengkawang hingga kering, kemudian ditumbuk dan diperas hingga keluar minyaknya. 

Selain itu, secara tradisional minyak Tengkawang juga bisa digunakan untuk memasak, penyedap makanan dan ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri pun minyak Tengkawang juga digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetik. Sedangkan di masa lalu Tengkawang juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabu, margarine, pelumas dan green butter. Ciamik!

Oh ya, di Kalimantan Barat masih banyak kok pohon Tengkawang yang dipelihara. Kebanyakan sih di kawasan hutan masyarakat yang dikenal dengan Tembawang (sebutan masyarakat Dayak). Disini pohon Tengkawang dipelihara dengan baik untuk diambil buahnya. Bahkan saat musim panen tiba, hutan ini akan ramai dikunjungi oleh masyarakat, terutama pemilik pohon.

Pelestarian hutan Tengkawang secara tradisional pun perlu diupayakan agar menjadi suatu kearifan lokal bagi masyarakat sekitar. Ingat, tanpa adanya kearifan lokal, kemungkinan besar pohon Tengkawang akan sulit dijumpai. Don’t forget to save Tengkawang, guys! (ghe)

Berita Terkait