Temukan Dokumen Gafatar, Polri Deteksi Instruksi Musadeq Nyatakan Perang

Temukan Dokumen Gafatar, Polri Deteksi Instruksi Musadeq Nyatakan Perang

  Minggu, 7 February 2016 08:57
PENINGGALAN GAFATAR : Barang milik pengikut Gafatar di Kamp Gafatar di Benua Kayong Kabupaten Ketapang. Barang berupa buku dan atribut keanggotaan Gafatar ini diduga sengaja dikubur oleh pemiliknya di samping kamp sebelum mereka dievakuasi. (Polda Kalbar for Pontianak Post)

Berita Terkait

PONTIANAK- Puluhan buku pedoman, dokumen, serta atribut keanggotaan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar)‎ kembali ditemukan oleh tim gabungan Polri/TNI dan Muspika Benua Kayong Desa Sukamaju Kabupaten Ketapang. Buku, dokumen  dan atribut keanggotaan Gafatar tersebut diduga sengaja dikubur oleh pemiliknya sebelum dievakuasi di daerah asal.

Juru bicara Polda Kalbar AKBP Arianto mengatakan, barang-barang yang diduga milik pengikut Gafatar ini ditemukan setelah warga dan tokoh masyarakat Kecamatan Benua Koyong Kabupaten Ketapang mencurigai adanya dua bekas galian tanah yang terletak di samping kamp pengikut Gafatar di desa itu.  Dari kecurigaan itu, oleh warga masyarakat dan disaksikan oleh aparat, bekas galian tanah tersebut kemudian digali dan ditemukan sejumlah bungkusan plastik di dalamnya. “Tadi sore sekitar pukul 15.00, Muspika Benua Kayong kembali menemukan barang-barang yang diduga milik pengikut Gafatar. Totalnya ada 17 bungkusan plastik,” kata Arianto kepada Pontianak Post, kemarin.

 Di lokasi bekas galian pertama, setidaknya ditemukan sebanyak 12 kantong plastik. Sedangkan galian kedua ditemukan lima kantong plastik. “Kantong plastik tersebut akhirnya dibuka dan ditemukan sejumlah barang bukti milik pengikut gafatar. Diantaranya buku ajaran atau pedoman, dokumen, dan atribut keanggotaan,” katanya.

 Menurut Arianto, barang bukti tersebut diduga sengaja dikubur oleh pemiliknya untuk menghilangkan jejak sebelum dilakukan evakuasi  Barang-barang yang ditemukan diantaranya  baju Gafatar, rompi Gafatar, kaos lambing atau bertuliskan Gafatar. (lengkap lihat grafis).

 “Barang bukti ini diamankan di Makodim Ketapang untuk dilakukan pendataan dan selanjutnya diserahkan oleh Kades Sukabaru Kec Benua Kayong kepada Kasat Reskrim Polres Ketapang untuk proses lanjut,” beber Arianto.

 Sebelumnya pada Selasa (2/2) juga ditemukan sejumlah barang barang milik pengikut Gafatar di beberapa lokasi di Dusun Parit Timur Desa Sukamaju Kecamatan Muara Pawan. Diantaranya 8 buah flash disk, 1 buah hard disk, 1 buah buku berjudul kebenaran Al-Quran, 1 buah buku berjudul Al-Qiyadah Al-Islamiyah, 1 buku jus 29, 2 buah buku tafsir watagwil, 1 buah buku Taleiyah Kristen, 1 buah  buku nenyikap tabir pemisa jesus kristus dari sejarah. Lokasi temuan kedua ditemukan  2 buah buku Teologi Abraham, 2 buah buku kewajiban menghormati hari ketuju,  1 buah buku pendidikan dasar orang tua, 1 buah buku Millah Abraham,1 buah buku ruhul qudus yang turun kepada Al'masin Al' Malu'ud, 1 buah buku ruhul qudus eksistensi dan esensi Al-Qur'an, 1 buah buku Memahami dan menyikapi tradisi Al-Qur'an, 1 buah buku perjanjian, 2 buah buku Jus 29, 1 buah buku DPP Gafatar, 1 buah buku teladan 25 nabi dan rasul.
Dilokasi selanjutnya ditemukan 1 buah buku memahami makna kerajaan Allah, 1 buah buku jus 29, 1 buah buku Millah Abraham, 8 buah buku catatan pengurus gafatar,1buah buku Memahami Makna kerajaan Allah, dan 1 buah buku Memahami makna kerajaan Allah.

Sementara itu dari Jakarta dilaporkan, pengusutan kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan Gafatar menemukan fakta baru. Polri mendeteksi ada instruksi Ahmad Musadeq terkait perang. Namun, belum diketahui peperangan dengan siapa yang dimaksud.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menuturkan, keterangan Musadeq terkait perang itu memang ditemukan dan akan diverivikasi kebenarannya. ”Apakah benar memang seperti itu, harus diperjelas, kalau Cuma temuan itu banyak” paparnya.

Yang pasti, Ahmad Musadeq tentunya harus menjawab informasi tersebut. Namun, apakah akan diakui atau tidak, tentu belum diketahui. ”Yang penting ini harus ditindaklanjuti,’ ujarnya jenderal berbintang empat tersebut.

Bila ternyata benar, artinya hal tersebut menguatkan indikasi untuk membuat negara. Dia menjelaskan, tentunya semua itu akan menjadi pertimbangan penyidik dalam mengusut kasus tersebut. ”Ya bisa dikembangkan ke pidana makar atau tidak, tergantung pemeriksaan,” jelasnya.

Yang pasti, hingga saat ini penyidik Bareskrim masih terus bekerja. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan masuk dalam pendapat saksi ahli. ”Namun, masih ada fakta hukum lain yang harus didapatkan,” ujarnya.

Sementara Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Pengawasan Aliran dan Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Adi Toegarisma menjelaskan, surat keputusan bersama (SKB) larangan Gafatar sebentar lagi akan keluar. ”Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama dan Kejaksaan Agung dipastikan sudah sepakat. Tinggal tunggu waktunya,” terangnya.

Namun, sebenarnya masih ada masalah lainnya, yakni bagaimana bila ternyata Gafatar kembali mengubah nama dan mengajarkan ajarannya. ” Semua itu sedang dibahas bersama untuk ditemukan solusinya,” paparnya. Walau dengan nama yang berbeda, namun ajarannya sama tetap bisa dianggap melanggar pidana. Namun, begitu tetap harus dicarikan solusi agar tidak kembali terulang. ”Ya, pidana ini tidak akan manjur tanpa adanya pencegahan,” jelasnya.  Sementara Direktur Sosial dan Budaya Baintelkam Polri Brigjend Bambang Sucahyo sebelumnya sempat merancang untuk membuat Ahmad Musadeq mengakui kesalahannya dan kebohongan yang dilakukan. Hal tersebut menjadi dasar agar pengikutnya tidak lagi percaya pada Musadeq. ”Sumber dari ajaran itu yang harus mengakui kesalahan dan kebohongannya,” ujarnya.

Setelah itu, Musadeq sendiri juga perlu untuk mendapatkan hukuman yang berat. Sebab, dia telah mengulangi perbuatannya dengan mengajarkan ajaran menyimpamng. ”Inilah yang sedang diusahakan,” paparnya. (arf/idr)

Berita Terkait