Temu Ilmiah Indonesia - Malaysia

Temu Ilmiah Indonesia - Malaysia

  Senin, 30 November 2015 09:47
FOTO BERSAMA: Peserta temu ilmiah kepala sekolah dan guru daerah perbatasan Indonesia – Malaysia foto bersama pejabat terkait. ISTIMEWA

PONTIANAK – Sebanyak 80 kepala sekolah dan guru dari daerah Perbatasan Indonesia (Kalimantan Barat) dan Malaysia (Kuching, Sarawak) saling bertukar pendapat, pemikiran, dan pengalaman selama empat hari, 28 November - 1 Desember 2015. Kegiatan digelar dalam bentuk temu ilmiah dua negara di Hotel Gajahmada Pontianak. Temu ilmiah menerapkan metode ceramah interaktif, diskusi kelas, presentasi, tanya jawab, dan kunjungan ke sekolah.

“Melalui temu ilmiah ini, peserta dari dua negara dapat memperluas wawasan, menumbuhkan gagasan baru, dan meningkatkan kompetensi,” ujar Dr Suhartono Arham MSi, Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Kalbar, saat membuka kegiatan. Menurutnya, kesamaan budaya yang ada memudahkan komunikasi dan interaksi para peserta. “Melalui kegiatan ini, para guru telah menunjukan prestasi yang baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Kalbar, terutama daerah perbatasan,” katanya.

Pembukaan turut dihadiri Kadis Pendidikan dan Kakanwil Kemenag Kalbar. Sementara dari pihak Malaysia hadir, Hj Salbiah binti H Seman mewakili Pengarah Pendidikan Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak; H Ibrahim bin Jamain, Yang Dipertua Persatuan Pengetua Sekolah Menengah Sarawak; dan H Abang Sapali bin H Abang Sepawi, Yang Dipertua Majlis Guru Besar Sarawak.

Hj Salbiah menyampaikan, kerja sama temu ilmiah telah dilakukan sejak 2010. “Ini tahun ke-5, dibuat selang-seling, tahun lalu digelar di Sarawak, tahun ini di Pontianak. Paling penting dari temu ilmiah ini adalah best practise, dari Indonesia dan Malaysia sampaikan materi, kenalkan pada rekan-rekan di sini dengan harapan bisa bantu pihak sekolah,” ujarnya.

H Ibrahim menambahkan, temu ilmiah memberikan dampak positif bagi perkembangan ilmu pendidikan di dua negara. “Selain saling bagi pandangan formal dan informal. Kami bisa bina jalinan dan jaringan sekolah. Saya percaya ini bentuk sinergi, win-win solution dengan tujuan tingkatkan kualitas pendidikan,” katanya.

Hj Salbiah menimpali, perlu ada kajian tersendiri untuk mengukur keberhasilan kerja sama temu ilmiah. “Tentu dua negara, jelas berlainan sistem pendidikan. Tetapi banyak juga persamaan, Indonesia mau martabatkan guru, kami juga mau. Profesionalisme guru penting ditingkatkan. Temu ilmiah ini bantu tingkatkan kepemimpinan kepala sekolah dan guru-guru kami, secara otomatis turut tingkatkan kualitas pendidikan dan para siswa,” jelasnya.Dalam kerja sama tahun terakhir ini, pihak Indonesia dan Malaysia akan meninjau kembali, apakah kerja sama serupa dapat dilakukan ke depannya. Meski hal tersebut belum diputuskan, kedua pihak berharap, kerja sama temu ilmiah dua negara dapat dilanjutkan kembali. (*)