Tembak Mati Gembong Narkotika

Tembak Mati Gembong Narkotika

  Sabtu, 30 July 2016 09:46

Berita Terkait

JAKARTA -- Gembong narkotika Indonesia, Fredi Budiman alias Budi bin Nanang Hidayat akhirnya meregang nyawa di moncong senapan tim jaksa eksekutor, Jumat (29/7) pukul 00.45 dini hari di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

 
"Karir" Fredi di dunia narkoba tamat. Sebelumnya, Fredi dinyatakan terbukti bersalah menyelundupkan 1,4 juta butir ekstasi ke Indonesia. Ia  divonis mati Pengadilan Negeri Jakarta Barat, yang kemudian dikuatkan di tingkat banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Kasasi Mahkamah Agung. Upaya Fredi lolos  dari hukuman mati lewat peninjauan kembali pun kandas. MA menolak PK Fredi pada 20 Juli 2016. Fredi pun langsung masuk daftar eksekusi mati jilid III.
 
Selain Fredi, ada tiga narapidana lain yang ditembak mati. Yakni, Seck Osmane asal Nigeria berpaspor Senegal. Dia ditangkap karena memiliki 2,4 kilogram heroin di Jakarta Selatan dan divonis mati PN Jaksel 2004.
 
Kemudian Michael Titus asal Nigeria. Dia ditangkap 22 Agustus 2002 di BSD Tangerang, karena kedapatan memiliki tiga kilogram heroin yang akan diedarkan di Indonesia.  Titus divonis mati PN Tangerang pada  Oktober 2003.
 
Berikutnya ada Humprey Ejike alias Doktor asal Nigeria. Dia ditangkap karena kedapatan menyimpan 1,7 kilogram heroin 2 Agustus 2003 di sebuah restoran Tanah Abang, Jakarta Pusat.  Doktor divonis mati pada 2004 di PN Jakpus.
 
"Eksekusi sudah dilakukan Jumat (29/7)  pukul 00.45 terhadap empat orang masing-masing Fredi, Humprey alias Doktor, Seck Osmane dan Michael Titus,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejaksaan Agung Noor Rachmad menjawab Pontianak Post, Jumat (29/7) dini hari.
 
Eksekusi kali ini hanya dilakukan terhadap empat terpidana. Meski sebelumnya beredar 14 nama yang masuk daftar eksekusi. Menurut Noor, eksekusi akan dilakukan pada periode berikutnya.
 
Informasi yang dihimpun, jenazah Fredi Budiman akan dibawa ke Makam Bharatu Sedayu Jalan Krembangan Baru VII nomor 6 A, Surabaya, Jawa Timur. Seck Osmane akan dibawa ke Rumah Sakit Santo Carolus, Jakpus. Sedangkan Humprey akan dibawa ke Krematarium, Banyumas, Jawa Tengah. Michael Titus akan dibawa ke RS Cikini, Jakpus.

Jaksa Agung Prasetyo mengatakan, awalnya jika tidak ada perubahan yang akan dieksekusi memang 14 orang.

Namun, kata dia, setelah Jampidum dan tim melakukan kajian akhirnya diputuskan hanya empat orang yang harus dieksekusi. "Sementara sepuluh lainnya akan ditentukan kemudian. Ditunda hingga saat yang tepat," kata Prasetyo, Jumat (29/7) di Jakarta.

Menurut dia, penangguhan ini dilakukan setelah melalui pengkajian yang sangat komprehensif dan detiail baik dari aspek yuridis maupun non yuridis. "Kami tidak mau aspek itu ada yang terlanggar," katanya.

Ia menegaskan, nanti pada saat yang tepat dan setelah melalui pengkajian semua aspek, maka eksekusi akan digelar lagi.
"Yang pasti kami tidak akan berhenti melakukan eksekusi mati terpidana narkotika," ujarnya.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Hamonangan Laolly mengatakan eksekusi mati merupakan pesan keras Indonesia terhadap bandar narkoba.

Dia berharap, eksekusi mati itu bisa memberikan efek jera kepada bandar narkoba untuk beroperasi di Indonesia.

"Ini memang diharapkan jadi pesan serius kepada pihak-pihak yang mencoba menggunakan orang-orang Indonesia atau siapapun jadi bandar," kata Yasonna di Jakarta, Jumat (29/7).

Ia menegaskan, pemerintah sangat berkomitmen memberantas narkoba di negeri ini. "‎Kami berharap ini pesan yang keras dari pemerintah Indonesia," kata dia.

Ia menjelaskan, pemerintah tidak akan berhenti memberangus narkoba meski sudah mengeksekusi sejumlah napi. Menurut Yasonna, upaya-upaya sistematik dan holistik  tetap harus dilakukan. "Semua harus terlibat dalam upaya mendidik untuk tidak menggunakan narkoba," kata Yasonna.

Sejak 2015, Kejaksaan Agung sudah tiga kali mengeksekusi terpidana mati perkara narkotika. Eksekusi jilid pertama digelar Januari 2015. Saat itu, ada enam terpidana mati yang meregang nyawa di tangan tim eksekutor. Yakni, Marco Archer Cardoso Mareira (Brazil), Daniel Enemua (Nigeria), Ang Kim Soe (Belanda), Namaona Dennis (Malawi), dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (Indonesia).   Lima napi ini dieksekusi di Lapas Nusakambangan. Sedangkan  satu napi lainnya, Tran Thi Hanh (Vietnam) dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah. Eksekusi jilid dua digelar April 2015. Delapan narapidana ditembak mati. Mereka ialah, Kedelapan terpidana mati yang dieksekusi adalah Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia), Martin Anderson, Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria), Rodrigo Gularte (Brasil); serta Zainal Abidin (Indonesia). Total sudah 18 narapidana yang dieksekusi sejak Januari 2015-Juli 2016. (ody)

Berita Terkait