Teknik Menggali Miskonsepsi Siswa

Teknik Menggali Miskonsepsi Siswa

Minggu, 24 April 2016 10:46   1

DALAM minggu ini, Saya (LS) terlibat diskusi dengan Ketua Prodi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tanjungpura, Dr. Stepanus Sahala S, M.Si, tentang berbagai cara menggali miskonsepsi terutama di kalangan para siswa. Mempertimbangkan isinya yang menyangkut salah satu bagian dari Kurikulum 2013 dan sifat diskusi yang cukup rinci dan mendalam, ada baiknya jika hasilnya diangkat di dalam kolom ini untuk mendapatkan tanggapan dari pembaca yang lebih luas.

Diskusi berangkat dari perhatian Dr. Stepanus tentang pelaksanaan kegiatan remedial yang dilakukan di sekolah. Dinyatakan, sistem pembelajaran Kurikulum 2013, menerapkan strategi belajar tuntas – ‘mastery learning’.  Dalam Wikipedia disebutkan bahwa strategi ‘belajar (dengan, sic!) tuntas’ didasarkan atas anggapan bahwa setiap orang dapat menyelesaikan (menuntaskan) semua materi yang harus dipelajari bila disediakan waktu yang cukup. Kurikulum yang menerapkan strategi belajar tuntas membagi materi menjadi sejumlah sub-materi yang disusun secara hirakis, satu sub-materi  menjadi prasyarat bagi sub-masalah yang lain. Siswa boleh meneruskan mempelajari sub-materi berikutinya jika sub-materi prasyaratnya sudah dikuasai, sudah tuntas dipelajari. Siswa yang belum tuntas diberi ‘tambahan’ kegiatan yang disebut kegiatan remedial. Karena salah satu penyebab belum tuntas adalah siswa memiliki sejumlah ‘kesalahan’ maka kegiatan remedial mesti diarahkan untuk ‘memperbaiki’ kesalahan itu.

Sejauh yang dapat ditangkap, kegiatan remedial yang diselenggarakan di sekolah, pada umumnya tidak diarahkan untuk ‘memperbaiki’ kesalahan sehingga manjadi benar tetapi diarahkan untuk menaikkan nilai sehingga memenuhi nilai minimal yang disebut sudah tuntas. Inilah yang menjadi perhatian Ketua Prodi Pendidikan Fisika itu. Praktek remedial tidak diarahkan untuk memperbaiki kesalahan tetapi untuk menaikkan nilai. Memang, nilai akan meningkat jika semakin sedikit jumlah kesalahannya. Tetapi, dengan memberi tes berkali-kali sehingga diperoleh nilai yang memenuhi syarat ketuntasan tidak berarti kesalahannya berkurang.

Kesalahan siswa itu didasarkan pada pandangan bahwa yang dilakukan siswa tidak sesuai dengan yang diharapkan para gurunya. Salah berarti tidak sama dengan yang dimiliki oleh guru. Dalam konteks literatur terkini, kesalahan siswa semacam ini diberi label miskonsespi. Jadi, siswa tidak tuntas karena memiliki miskonsepsi. 

Diskusi berlanjut pada cara menemukan miskonsepsi siwa, khususnya miskonsepsi di bidang IPA. Derya Kaltakci Gurel dari Universitas Kocaeli dan  

Ali Eryılmaz dari Universitas Tenologi Middle East, Turki  serta Lillian Christie McDermott, dari Universitas Washington, USA, 2015, mengumpulkan sejumlah teknik untuk menggali miskonsepsi siswa yang telah digunakan dalam 273 penelitian di bidang pendidikan IPA antara 1980 dan 2014. Mereka menemukan enam (6) cara untuk mengungkap miskonsepsi siswa di bidang IPA, yaitu: wawancara (53 penelitian), isian (34), pilihan ganda (32), Pilihan ganda 2-tahap –‘two-tier multiple choise’ (9), 3-tahap – ‘tree-tier multiple choise (3), dan lainnya (9 penelitian). Two-tier multiple choise berbentuk pilihan diikuti dengan alasan memilih jawaban yang dibuat. Tree-tier multiple choise terdiri atas pilihan, alasan dan keyakinannya memilih jawaban yang bersangkutan. Pada 2010, Imelda S. Caleon dan  R. Subramaniam dari Universitas Nanyang, Singapura, telah mengembangkan tes pilihan ganda 4-tahap (four-tier multiple choise). Setiap nomor dalam tes ini terdiri atas: pilihan jawaban, keyakinan memilih jawaban, alasan, dan keyakinan memilih alasan. 

Ada beberapa cara interview yang telah digunakan. Di antaranya adalah: Clinical interview, interview about instances, interview about events, prediction-observation-exploration, individual demonstration interview, teaching experiment, indivual interview, dan group interview (focus group discusion). 

Untuk membantu pembaca memahami lebih mendalam tentang miskonsepsi siswa berikut disajikan sekitar 41 istilah yang memiliki padanan miskonsepsi (Sutrisno, 1997).para peneliti miskonsepsi dapat dibagi menjadi dua kelompok: kelompok nomotetik dan kelompok ideografik. Kelompok peneliti nomotetik, mendalami kesalahan siswa  dengan cara membandingkan konsepsi siswa dengan konsepsi para ilmuwan (konsepsi ilmuwan  dianggap benar). Semua konsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi yang benar (yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmuwan) diberi label: error, naive conception, erroneous ideas, misunderstanding, pre-instructional ideas, persistent pitfalls, classroom mismatches, conceptual difficulties, children’s learning problems, preconceptions, limited propositional hierarchies, inappropriate propositional hierarchies, superstitious beliefs, children’s learning problems, student’s difficulties, pre-scientific conceptions, naive theories, incorrect generalizations, conceptual disorders, differential uptake of science, conflicting schemas, unfounded beliefs, mistakes, underlying sources of error, and misconception, misleading ideas, dan  misinterpretations of facts. 

Kelompok peneliti ideografik berangapan bahwa setiap siswa  memiliki

konsepsi sesuai dengan yang dibangun/dikonstruksi  sendiri. Para peneliti memberi label konsepsi-konsepsi siswa yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmuwan  sebagai: personal model of reality, pupil’s ideas, alternative conceptions, spontaneous ways of reasoning, alternative frameworks, multiple private version of science, developing conceptions, children’s science, commonsense theories, school children’s criteria, children’s view, personal constructs, children’s understanding, children’s knowledge, intuitive beliefs, everyday physical and chemical conceptions, serta naive conceptions.

Inilah rangkuman dari diskusi itu. Semoga dapat menambah wawasan para pembaca kolom ini. Diharapkan juga tanggapannya. Semoga! 

Leo Sutrisno