Teknik Manual dengan Goresan Warna Tipis

Teknik Manual dengan Goresan Warna Tipis

  Selasa, 3 January 2017 09:30
Leka Redha Putra, Visual Artist

Berita Terkait

NEW year, new trend. Setelah kelar gegap-gempita perayaan tahun baru, kita kembali beraktivitas dengan semangat yang baru. Bergantinya tahun berefek besar pada perkembangan selera masyarakat, khususnya trend visual art yang diminati. Jika dulu apresiasi orang awam terhadap karya visual belum optimal, maka dewasa ini dirasa semakin membaik. Sehingga visual artist pun tambah bersemangat untuk tetap berkarya, seperti Leka Redha Putra. Penggiat visual art asal Sanggau, Kalimantan Barat, ini tetap berkarya dengan imajinasi tak terbatasnya.

“Menurutku visual art itu seni yang dibuat untuk dinikmati oleh mata audiens. Bentuknya bisa lukisan, instalasi, kolase, atau gabungan semuanya. Jenis visual art yang aku suka itu visual yang surreal ya. Kenapa? Karena visual yang bertemakan fantasi seperti ini nggak ada batasannya, seluas imajinasi aja. Inspirasi visualnya juga bisa dari mana aja. Tapi kebanyakan artwork-ku terinspirasi dari  film fantasi terutama Disney. Aku penggemar Disney,” papar lelaki yang akrab disapa Leka ini.

Teknik yang digunakan Leka dalam menghasilkan suatu artwork masih condong ke teknik manual khususnya cat air. Doi merasa dapat mengeksplor keluwesan tangannya dengan gambar manual. Hasil yang dihasilkan pun memiliki ciri khas karena gambaran tangan merupakan karya dan tanda tulisan tangan. Setiap orang berbeda-beda ciri khasnya. Leka sendiri, menandai karyanya dengan garis-garis dan goresan warna yang tipis dan transparan. Goresan warna ini nggak bisa dihasilkan oleh teknik digital. 

Dalam mengerjakan suatu karya diperlukan lama waktu yang tergantung pada jelas atau tidaknya inspirasi. Sometimes Leka dapat berkarya dalam hitungan jam, kadang bisa berhari-hari. “Paling lama bisa tiga bulan, terutama untuk pameran karena butuh riset dan revisi.

Paling cepat satu jam. Tergantung deadline klien juga sih. Haha,” ujar visual artist yang artwork-nya menghiasi Cafe Botani ini.

Selama menggeluti visual art, Leka pun kerap menghadapi tantangan dan bad experience. Sometimes he have to meet some people who don’t understand how to appreciate the work of art. Mereka nggak tahu kalo sering kali artist harus kerja keras, belajar di workshop dan pake material yang nggak murah dalam menghasilkan suatu art. “Kadang orang-orang yang minta digambarin gratis itu bikin si artist, termasuk aku, ngerasa insulted, loh. Orang-orang ini nggak tahu proses pembuatan art itu gimana. It takes time and expensive materials sometimes,” tambahnya.

Bergantinya tahun diakui Leka turut mengubah trend visual art. Menurutnya jenis visual art yang berkembang pasti bakal bervariasi depends on the style of each artist. Luckily, udah banyak orang yang aware dengan karya seni dan tertarik untuk memiliki. Terutama di kalangan anak muda. Leka memprediksi tahun 2017 akan banyak karya seni artist lokal yang terjangkau karena permintaan pasar yang meningkat. (ind)

Berita Terkait