Tekan Harga Gas, Kurangi Ekspor

Tekan Harga Gas, Kurangi Ekspor

  Kamis, 22 September 2016 09:47

Berita Terkait

JAKARTA – Pemerintah berencana menurunkan secara bertahap ekspor gas alam cair (liquefied natural gas). Seluruh hasil produksi gas domestik akan digunakan untuk kebutuhan industri di dalam negeri.

 
”Energi kita tidak akan diekspor lagi, kecuali ke negara yang sudah komit (kontrak, Red). Nanti diproses dalam negeri,” kata Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan kemarin (20/9).

Saat ini gas dari Indonesia diekspor ke sejumlah negara. Antara lain, gas dari Blok Anambas dan Grissik yang diekspor ke Malaysia serta Singapura. Sedangkan gas dari Blok Mahakam dan Donggi-Senoro diekspor ke Jepang serta Korea Selatan. Demikian pula gas dari lapangan Tangguh, diekspor ke Tiongkok.

Sesuai rencana kebijakan energi, penghentian total ekspor gas baru bisa dilakukan pada 2032. Padahal, pada 2020, Indonesia diprediksi harus mengimpor gas alam cair untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. ”Gas Natuna akan kami bawa ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, sampai jadi petrochemical,” ucapnya.

Gas tersebut bakal digunakan untuk mendukung industri hulu dan industri-industri strategis di dalam negeri, terutama petrokimia. Kenaikan pasokan diharapkan juga memicu penurunan harga gas industri sehingga daya saing produk Indonesia di pasar ekspor meningkat.

Dia tidak ingin Indonesia sebagai negara produsen gas justru menikmati harga yang lebih mahal daripada negara tanpa sumber daya alam itu. Misalnya Singapura yang menikmati gas dari Blok Grissik sehingga mampu menjual gas industri seharga USD 5 per mmbtu.

Padahal, industri di Indonesia harus membeli gas seharga USD 11–14 per mmbtu. ”Sekarang sedang dibicarakan dengan Ibu Sri Mulyani berapa persen yang bisa dikurangi. Di hilir, industri butuh harga gas USD 5 atau USD 6 per mmbtu,” jelasnya.

Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani meminta pemerintah segera mengambil sikap tentang harga gas industri. Jika harga tetap dibiarkan mahal, hasil produksi dalam negeri tidak bisa bersaing dengan negara tetangga.

Rosan sepakat kalau pemerintah tidak lagi secara besar-besaran mengekspor gas supaya bisa berfokus menyediakan energi untuk industri dalam negeri. Menurut dia, sudah saatnya mengubah mindset sumber daya alam (SDA) digunakan untuk mendulang rupiah dari ekspor. ”Seharusnya gas bukan revenue driven, tapi sarana pendukung daya saing industri,” terangnya. (dim/c11/noe)

Berita Terkait