Teka-Teki Terbesar Ranieri

Teka-Teki Terbesar Ranieri

  Sabtu, 20 Agustus 2016 09:38

Berita Terkait

LEICESTER – Arsenal itu seperti batu. Setidaknya batu yang nyaris mengganggu jalan Claudio Ranieri untuk mengangkat trofi juara Premier League pertamanya bersama Leicester City di musim lalu. Sebab hanya Arsenal-lah satu-satunya klub yang selalu mengalahkan The Foxes – julukan Leicester – di home ataupun away.

 
Leicester ketika bermain di King Power dipermak Arsenal dengan skor 2-5, 26 September 2015. Begitu bertandang ke Emirates lima bulan kemudian (14/2) lagi-lagi Ranieri harus dibuat bertekuk lutut dengan kekalahan 1-2. Nah, bagaimana dengan pertemuan pertama dua penghuni top two di musim lalu itu malam nanti?

Akankah Ranieri bertekuk lutut lagi untuk yang ketiga kalinya secara beruntun dari Arsenal saat lanjutan pekan kedua Premier League 2016-2017 di King Power Stadium, Leicester? ''Kami akan coba, dan mencari solusi terbaik untuk mengalahkannya (Arsenal),'' sebut The Tinkerman – julukan Ranieri – dikutip situs resmi klub.

Leicester mematok target bangkit di pertandingan ini setelah pekan lalu menyerah 1-2 di tangan Hull City. Minimal tidak sampai mengalami back to back tumbang di dua laga Premier League. Selama ini, hanya Manchester United yang mampu mengangkat trofi juara sekalipun tumbang di dua laga awal Premier League 1992-1993.

Ranieri mengaku sudah mempelajari permainan Arsenal. Tepatnya ketika Wenger dipermalukan Liverpool di depan publiknya sendiri dengan skor 3-4. Menurut Ranieri, Arsenal tetaplah Arsenal yang mampu bermain bagus sekalipun tidak dalam kondisi 100 persen. ''Yang dibutuhkan untuk menghadapi klub sekelas Arsenal hanya perlu lebih, lebih dan lebih konfiden lagi,'' lanjutnya.

Bedanya, Arsenal yang dihadapi Ranieri malam nanti bakal ketambahan beberapa amunisi lagi. Itu seiring dengan keputusan Arsene Wenger memanggil kembali Laurent Koscielny, Mesut Oezil, dan Olivier Giroud yang baru pulang dari liburan pasca Euro 2016. Koscielny akan menambah kekuatan di lini pertahanan Arsenal.

Sedangkan Oezil dan Giroud memperkuat daya dobrak Arsenal setelah ditinggal Aaron Ramsey yang absen tiga pekan karena cedera hamstring. Oezil dan Giroud-lah sosok di balik hegemoni Arsenal atas Leicester musim lalu. Oezil dengan bola-bola panjangnya di depan gawang Kasper Schmeichel, di depan sudah menanti Giroud yang siap mengeksekusi bola-bola atas Oezil tersebut.

Belajar dari pengalaman di KCOM Stadium – kandang Hull – pekan lalu, gol-gol yang merobek gawang Leicester bermula dari bola-bola atas. Dari corner kick dan crossing. Skema seperti itulah yang bisa saja dilakukan Oezil dan Giroud untuk menjebol gawang Schmeichel. Untungnya, di lini belakang juara bertahan Premier League itu sudah diperkuat Robert Huth.

Dibandingkan dengan Luis Hernandez yang dimainkan pekan lalu, Huth lebih bagus untuk jadi tameng bola-bola atas. Huth bagus dalam duel udara. Musim lalu, pemain yang berkebangsaan Jerman itu mencatatkan 63,3 persentase menang duel udara. Yang terbaik di antara back four Leicester musim lalu.

Untuk lini tengah, Nampalys Mendy sepertinya bakal menjadi starter setelah di pekan lalu Andy King belum nyetel dengan Danny Drinkwater. Kombinasi di antara Drinky – sapaan akrab Drinkwater – dan Mendy ini yang diyakini bakal banyak mengalirkan bola ke kuartet pemain menyerang Leicester. Demarai Gray, Riyad Mahrez, Ahmed Musa dan Jamie Vardy.

Dari sisi formasi permainan, Leicester masih tetap dengan 4-4-2-nya. Hanya, adanya Musa akan mengubah formasi cenderung jadi 4-4-1-1. Ranieri mengingatkan kepada pemainnya untuk cepat dalam melakukan transisi ketika bertahan dan menyerang. ''Saat saya merasa pemain sudah bekerja baik, saya selalu konfiden. Keseimbangan di tim selalu mudah untuk naik dan turun. Tapi yang terpenting skema permainan berjalan dengan baik,''  ungkap pelatih berkebangsaan Italia itu. (ren)

Berita Terkait