Tebang Pohon Depan Rumah, Ameng Disanksi Tipiring

Tebang Pohon Depan Rumah, Ameng Disanksi Tipiring

  Kamis, 13 Oktober 2016 09:30
AMANKAN: Anggota Satpol PP Kota Pontianak mengamankan barang bukti batang pohon yang ditebang di kediaman Ameng, Jalan Suprapto VII. HUMAS PEMKOT FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Seorang warga Jalan Suprapto VII, Kelurahan Parit Tokaya, Kecamatan Pontianak Selatan, Ameng harus berhadapan dengan hukum akibat menebang pohon di pinggir jalan depan rumahnya, Selasa (11/10). Selain ditipiring ia juga mendapat teguran keras dari Wali Kota Pontianak Sutarmidji. 

Kepala Satpol PP Kota Pontianak, Syarifah Adriana menjelaskan, penebangan pohon tersebut, diketahui berawal dari laporan masyarakat melalui telepon ke Kantor Satpol PP Kota Pontianak pada, Selasa (11/10). Mendapat laporan tersebut, ia pun langsung turun ke lapangan bersama anggotanya untuk menindak pelaku. Dia menilai pelaku dengan sengaja dan seenaknya menebang pohon.  

“Saat kami tiba di lapangan, ditemukan sebanyak delapan batang pohon sudah ditebang. Kemudian kami langsung mengangkut orang yang menebang pohon beserta warga pemilik rumah yang memerintahkan orang itu, juga barang bukti pohon-pohon yang sudah ditebang,” jelasnya, Rabu (12/10).

Kemudian, lanjut dia, warga tersebut langsung dibawa ke Kantor Satpol PP untuk diproses dan dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Karena telah melanggar tindak pidana ringan (tipiring) yakni penebangan pohon tanpa seizin kepala daerah. 

“Kamis (13/10) besok (hari ini), yang bersangkutan langsung disidang di pengadilan. Sanksinya berupa denda yang nanti diputuskan oleh hakim pengadilan,” terangnya.

Selain dibawa ke Kantor Satpol PP, Adriana menyebut, yang bersangkutan juga sempat dibawa menghadap Wali Kota Pontianak, Sutarmidji di kediaman dinas. Orang nomor satu di Kota Pontianak itu menegur keras dan memarahi warga yang menebang pohon seenaknya tanpa izin dari dirinya itu.

“Selain sanksi tipiring, dia juga diwajibkan mengganti pohon yang sudah ditebangnya dan menanam kembali hingga pohon itu tumbuh seperti semula,” tambah Adriana.

Adriana mengatakan, yang bersangkutan berdalih menebang pohon-pohon yang berada di atas fasilitas umum (fasum) itu karena khawatir membahayakan keselamatan. Ditakutkan sewaktu-waktu pohon itu bisa saja tumbang. 

Namun menurut Adriana itu hanya alasan semata. Dugaannya pohon-pohon yang diperkirakan berusia 10 tahun itu ditebang karena menutupi rumah miliknya. 

“Jika memang dia melapor ke Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak tentu semua pembiayaannya gratis, biar Dinas Kebersihan yang memangkasnya, tidak boleh main tebang sembarangan,” tegasnya.

Belum lama ini juga sempat terjadi kejadian serupa, dimana sebuah pohon besar jenis Angsana yang tumbuh di depan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalbar, Jalan Sutan Syahrir ditemukan sengaja dibakar. Kejadian itu lantas membuat Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berang. 

“Pelaku yang membakar pohon itu sudah disidang tipiring dan dijatuhi sanksi serta membuat pernyataan jika masih mengulangi perbuatannya maka sanksinya akan lebih berat,” imbuh mantan Kepala Dishubkominfo ini. 

Sepanjang 2016, kata Adriana, hingga saat ini data pelanggar aturan yang sudah dijatuhkan tipiring tercatat sekitar 600 orang. Jenis pelanggaran pun berbagai macam, mulai dari penebangan pohon, buang sampah sembarangan dan tidak sesuai jadwal yang ditentukan, pembakaran sampah, tindak asusila, warnet yang melebihi ketentuan jam operasional, pelanggaran perizinan dan sebagainya. 

Dirinya mengimbau kepada seluruh warga agar mematuhi segala aturan sesuai ketentuan yang berlaku. Warga diminta tidak menebang pohon-pohon yang ada di pinggir jalan atau fasum. 

“Kalau masih saja ada yang melanggar, pasti kami kenakan sanksi tipiring,” pungkasnya.(bar) 

 

Berita Terkait