Teater Baret Pentaskan Tanda Cinta Si Jono

Teater Baret Pentaskan Tanda Cinta Si Jono

  Sabtu, 12 December 2015 09:20
TEATER: Salah satu adegan dalam pementasan drama teater. ISTIMEWA

Berita Terkait

Pementasan Drama teater berjudul Tanda Cinta Si Jono menceritakan perjuangan seorang pemuda menggapai cita menjadi tentara. Tiga hari berturut-turut, dari 10 hingga 12 Desember 2015 drama itu dipentaskan di Taman Budaya. Rupanya pementasan drama ini turut menyita perhatian Dandim 1207/BS Pontianak, Kol. Inf. Jacky Ariesanto. Apa hal sampai ia tertarik?  MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

 
 
HARI pertama pementasan Teater Baret, berjudul Tanda Cinta Si Jono, Kamis malam lalu begitu meriah. Pementasan yang dimulai pukul 20.00 itu diketahui hasil kerja sama antara Teater Baret, Sanggar Andari, Teater Tembak, dan Nada Serumpun dengan Kodim 1207/BS Pontianak.

Mugiono, penulis naskah sekaligus sutradara menuturkan bahwa Tanda Cinta Si Jono merupakan cerita seorang pemuda yang bercita-cita menjadi tentara. “Sejak kecil, Jono hanya tinggal bersama ibunya. Ayah Jono telah tiada. Jono kecil berperangai keras dan suka berkelahi. Ibunya, seringkali dibuat susah dengan kelakuan Jono. Demikianlah karakter Jono hingga duduk di bangku sekolah menengah. Jono mulai sadar dan berpikir masa depan kala berjumpa dengan seorang gadis bernama Kartika. Ia berjanji akan meminang Kartina ketika ia berhasil menggapai cita-cita sebagai anggota TNI,” cerita ketua Teater baret tersebut.

Dalampertunjukkan ini dimainkan tiga hari berturut-turut, dimulai hari Kamis, 10 Desember 2015 hingga Sabtu, 12 Desember 2015. Pada pementasan hari pertama itu, Dandim 1207/BS Pontianak, Kol. Inf. Jacky Ariestanto berkenan hadir dan memberi sambutan pembuka.

Jacky menjelaskan tentang Hari Juang Kartika. “Sejauh ini, yang dikenal masyarakat luas adalah HUT TNI ataupun hari jadi masing-masing angkatan. Sesungguhnya, ada hari penting yang lain yaitu Hari Juang Kartika. Pada tanggal 15 Desember nanti, diperingati Hari Juang Kartika yang ke-70. Hari Juang Kartika erat kaitannya dengan sejarah Palagan Ambara. Kolonel Sudirman, ketika itu, dengan semangat juang yang tinggi memimpin TKR mengusir NICA yang membonceng Sekutu, mundur ke arah Semarang,” jelasnya.

Semangat juang tersebut masih relevan untuk dimaknai di masa kini. “Rasa cinta terhadap nusa dan bangsa tetap harus ada meski tidak lagi ditunjukkan dengan angkat senjata seperti yang dilakukan Jenderal Sudirman, yang berlatar belakang guru agama. Perjuangan di masa kini dapat ditunjukkan dengan menghargai para pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Saat ini, bangsa harus merdeka dari narkoba, korupsi, dan kemalasan,” tambahnya.

Jacky menambahkan bahwa cerita ini diangkat agar masyarakat memiliki kesan lain terhadap anggota TNI. “Di satu sisi, anggota itu dikenal karena serem dan tegas. Melalui cerita ini, kami berharap masyarakat dapat melihat dari sisi humanis seorang tentara. Apalagi cerita ini dimainkan dengan ragam komedi. Mudah-mudahan masyarakat terhibur,” ungkap Kol. Jacky.

Senada dengan Dandim 1207/BS Pontianak, Danramil Pontianak Selatan, Mayor Kav. Anton menjelaskan bahwa dengan semangat juang yang dikobarkan Jenderal Sudirman dan laskar setianya, TNI mengajak kaum muda untuk menunjukkan siap konkret dalam memberikan pengabdian terhadap tanah air tercinta. “Kerja sama dengan aktivis teater untuk menampilkan lakon yang menginspirasi kaum muda adalah salah satu langkah yang ditempuh untuk menyemarakkan Hari Juang Kartika tahun ini.(*)

 

 

Berita Terkait