TB Masih Mengancam

TB Masih Mengancam

  Jumat, 25 March 2016 12:43

Berita Terkait

PONTIANAK - Kemarin, Kamis (24/3), diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Di Kalbar, tuberkulosis menjadi perhatian serius. Terdapat 5.569 kasus penyakit tersebut sepanjang 2015.

“Jumlah kasus pada 2015 ini turun dua persen dari tahun sebelumnya,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Yulisus Jualang, kemarin.

Ia menjelaskan dari 5.569 kasus TB di Kalbar, sebanyak 3.968 kasus dinyatakan BTA positif pada penderita baru. Selain itu juga terdapat pasien TB yan menjalani pengobatan ulang karena kambuh kembali sebanyak 101 kasus, default 12 kasus, dan gagal empat kasus.(data lengkap lihat grafis).

Tuberkulosis atau TB yang dikenal juga dengan TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman TB yang masuk ke tubuh melalui pernafasan. Pasien TB  dapat sembuh, jika menyelesaikan pengobatan sampai tuntas.

“Upaya pertama berkenaan dengan TB ini adalah menemukan kasus,” ungkap Yulisus.

Setelah kasus ditemukan, dilakukan penanganan berupa pengobatan diantaranya TB reguler, TB HIV, dan TB MDR (multi drugs resistance). Semua penanganan ini melalui gerakan TOSS TB yakni Temukan Obati Sampai Sembuh. Peran keluarga menentukan suksesnya gerakan tersebut.

“Karena semangat dan kepatuhan pasien untuk minum dan menelan obat  ditentukan dukungan keluarga,” jelas Yulisus.

Di Kalbar, lanjut Yulisus, kendala yang dihadapi dalam penanganan TB berkaitan dengan anggaran untuk penemuan kasus. Selain itu, masih banyak masyarakat enggan memeriksakan dirinya.

“Kalbar juga hanya memiliki satu rumah sakit rujukan untuk TB yakni RSUD Soedarso Pontianak. Tahun ini akan ditambah dua lagi yaitu di Sintang dan Ketapang,” ungkap Yulisus.

Ia menambahkan sebagian besar pasien TB berasal dari masyarakat menengah ke bawah. Penderitanya banyak berusia produktif. “Penyakit TB berkaitan erat dengan lingkungan,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidik Handanu mengatakan, ditemukan sedikitnya 400 kasus TB temuan baru yang dinyatakan BTA positif. Pasien-pasien tersebut diobati hingga sembuh.

“Angka kesembuhan pasien TB di Kota Pontianak di atas 95 persen,” ujar Handanu, Kamis (24/3).

Menurut Handanu, pasien TB di Kota Pontianak tersebar merata di seluruh kabupaten/kota. Faktor yang mempengaruhi penularan penyakit tersebut sebagian besar di luar kesehatan seperti perumahan yang tak memiliki ventilasi, sanitasi tak layak, dan lainnya.

Dinas Kesehatan Kota Pontianak memasukkan TB dalam salah satu penyakit menular yang menjadi prioritas untuk ditangani, selain demam berdarah. “Penyakit TBC ini saya masukkan dalam 10 besar program Dinkes sehingga berapa pun biaya yang diperlukan akan dipenuhi,” katanya.

Ia menjelaskan sebagian biaya untuk menangani TB berasal dari pemerintah pusat terutama obat-obatan. Dinas Kesehatan Kota Pontianak hanya menganggarkan untuk penemuan penderita baru dan pemantauan pengobatan. Sejauh ini, lanjut Handanu, anggaran tersebut sudah dipenuhi.

Pelayanan berkenaan dengan TB juga mudah dijangkau masyarakat. Pemeriksaan TB bisa dilakukan di seluruh puskesmas yang ada di Kota Pontianak. “Kami juga menjalin kerjasama dengan UP4 Kalbar dan dokter spesialisnya,” ungkap Handanu.

Ia menyatakan pengobatan TB tak bisa dilakukan sembarangan. Harus menggunakan DOTS (directly observed treatment short-course) atau menjamin kesembuhan pasien. Pengobatannya harus sesuai standar yang ditentukan. Jika di luar ketentuan, risiko terjadi resistensi. Kuman TB akan resisten terhadap obat dan akan membahayakan pasien.

Handanu mengimbau masyarakat untuk memiliki kesadaran memeriksakan dirinya, jika terdapat gejala TB. Beberapa gejala TB diantaranya batuk lebih dari dua minggu, disertai demam ringan, kalau sudah lanjut lagi disertai penurunan berat badan, nafsu makan menurun, dan jika parah mengalami batuk darah.

Ia juga meminta kepada keluarga jika salah satu anggotanya dinyatakan BTA positif, harus meminum obat secara teratur dan tak boleh putus. Jika tidak mengonsumsinya dalam satu hari, dapat menimbulkan resistensi.

“Pasien TB juga harus dapat menjaga perilakunya. Diantaranya tidak membuang dahak di sembarang tempat,” kata Handanu.

Jika memiliki balita yang tak naik berat badannya, lanjut Handanu, harus segera diperiksakan ke puskesmas. Karena hal tersebut merupakan salah satu dari gejala TB. Terkadang orangtua anak tak menyadari bahwa dirinya menderita TB dan menularkan kepada anaknya.

“Banyak kasus TBC yang ditemukan berawal dari penemuan kasus pada anaknya. (Pemeriksaan) selain mantuk, ada indikator klinisnya seperti ada benjolan di leher,” tutur Handanu. (uni)

Berita Terkait