Tata Krama atau Basa-basi?

Tata Krama atau Basa-basi?

  Minggu, 15 May 2016 10:47   1

Oleh William Chang

DALAM dunia Timur, sikap saling menyapa dan menghormati termasuk awal suatu kegiatan bisnis. Menanyakan “apa kabar” termasuk suatu kepedulian akan keadaan orang lain. Kabar yang baik mendatangkan kegembiraan, sedangkan kabar yang tidak baik menimbulkan kegelisahan, ketidak-pastian dan kesedihan. Setelah mengetahui kabar seseorang, kita berusaha menolong atau membantu mereka. Pertanyaan “apakah sudah makan?” mengingatkan kesetiakawanan orang Asia. Dalam masyarakat tradisional yang sering ditimpa kesulitan hidup, makanan tidak selalu tersedia dalam setiap keluarga. Tidak semua keluarga memiliki makanan yang memadai. Biasanya, seseorang akan diajak untuk makan kalau dia memang belum memperoleh makanan. 

Mengulurkan tangan pada waktu bersalaman berarti siap memulai sebuah hubungan persaudaraan. Menepuk dada setelah bersalaman berarti menyimpan dan mengawetkan salam itu di dalam hati manusia. Melalui pertemuan dari wajah ke wajah atau per telefon atau per internet atau per email terjadi sebuah kontak awal. Kontak awal ini bisa dilakukan dengan bahasa-bahasa asing yang berlaku umum, seperti Inggris, Mandarin, Indonesia atau bahasa apa pun. Kontak awal mencerminkan usaha untuk memulai suatu jaringan kerja sama yang diharapkan bernasa depan dan berpengharapan. Tentu, kehati-hatian dan kewaspadaan selalu diperlukan dalam menjalin komunikasi dengan pihak lain yang belum dikenal.

Terkadang kata-kata sapaan biasa yang sederhana dan hangat bisa menjadi pembuka gerbang huhungan dalam dunia bisnis. Ucapan “Selamat Pagi”, “Selamat Siang”, “Selamat Sore”, “Selamat Malam”, “Maaf”, “Terima Kasih” dlsb akan menghangatkan suasana persaudaraan. Kata-kata itu bisa saja sangat sederhana dan bahkan seakan-akan bernada basa-basi, namun jenis komunikasi ini berdampak bersar dalam dunia bisnis. Setelah sapaan harian ini, kegiatan bisnis dapat dimulai atau diteruskan. Melalui sapaan ini hati si pelaku bisnis akan terbuka bagi pihak lain. Sebuah bisnis akan berjalan kalau interaksi pihak-pihak terkait bernada positif.

Tatakrama dengan kata, pembicaraan, perjumpaan dan hubungan kekerabatan akan menciptakan kondisi yang sejuk dalam kegiatan bisnis. Suasana yang tegang acapkali tercairkan melalui tatakrama yang menjunjung sikap saling mengerti dan pandangan positif mengenai pihak lain. Terkadang tatakrama ini dilengkapi dengan suguhan berupa minuman dan makanan ringan yang memperlancar komunikasi. Tentu, suatu tata krama yang sungguh muncul dari hati terdalam akan lebih bermakna daripada hanya sekadar basa-basi dan tertawa hura-hura. Keadaan hati yang bersih, baik dan jujur akan mewarnai seluruh proses komunikasi antarpihak yang ingin berbisnis. Tatakrama perlu disosialisasikan terus-menerus, karena perhatian generasi muda terhadap bidang tatakrama tampaknya sedang mengalami kemunduran. Pendidikan tatakrama terasa minim di dalam keluarga atau di sekolah.**