Taste Kuat Bikin Laris meski Mahal

Taste Kuat Bikin Laris meski Mahal

  Sabtu, 25 June 2016 09:26
ULET: Layyinatul Af’idah, pelaku usaha produk olahan hasil perikanan. FAJRIN MARHAENDRA BAKTI/JAWA POS

Berita Terkait

Bagi orang Indonesia, kerupuk bukan sekadar camilan di kala senggang. Kudapan crunchy yang umumnya berasa gurih tersebut juga menjadi teman pelengkap makanan utama. Layyinatul Af’idah menangkap peluang itu. Di rumahnya diproduksi kerupuk udang bercita rasa lezat.

FAJRIN MARHAENDRA BAKTI

UNTUK menuju Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, dibutuhkan perjalanan 5 kilometer dari Komplek In dustri & Pergudangan Sinar Buduran. Daerah itu termasuk pesisir timur Sidoarjo. Seperti daerah pesisir Sidoarjo lainnya, banyak didapati tambak. Selain bandeng, tambak di gunakan untuk memelihara udang windu. Jika ditambah hasil perikanan laut, hasil perikanan di kawasan tersebut cukup melimpah.

Hal itu mengilhami Layyinatul Af’idah, 44, untuk membuat produk olahan hasil perikanan. Mulai 2004, perempuan yang lebih akrab dipanggil Leni tersebut me manfaatkan hasil perikanan untuk dijadikan kerupuk dan terasi. Selain itu, dia bosan dengan kehidupan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Suaminya yang berprofesi sebagai nelayan jarang berada di rumah. Lebih sering di tambak dan di laut. Penghasilan yang tak menentu dari hasil tambak membuat dia harus berpikir untuk mencari alternatif tambahan pemasukan. Tambak yang digunakan untuk memelihara ikan tercemar. Produksinya pun menurun drastis. ’’Hasilnya menurun. Panennya juga lama. Minimal satu tahun baru bisa panen bandeng,’’ ungkapnya.

Perempuan yang mengaku tak bisa diam itu lalu berpikir untuk memulai usaha pembuatan kerupuk udang dengan memanfaatkan hasil petambak lain. Tidak memiliki keahlian dan pengalaman di bidang pembuatan kerupuk tidak membuat Leni putus asa. Setiap hari dia belajar membuat formulasi terbaik. Tak terhitung sudah berapa kali dia mencoba resep pembuatan kerupuk.

Sampai pada akhirnya, dia menemukan formula yang pas. Intinya, dia tidak mau membuat kerupuk yang asal-asalan. Kerupuk yang diproduksinya harus memiliki rasa udang yang kuat. Dengan taste yang kuat seperti itu, produknya cepat dikenal, meski harganya di atas kerupuk udang di pasaran. ’’Kerupuk saya tetap laris. Bahkan, kadang banyak pesanan sampai kewalahan,’’ katanya.

Omzet per bulan mencapai ratusan juta rupiah. Pelanggannya tersebar di seluruh Indonesia. Dengan bantuan enam pegawai, dia juga harus berbagi produksi dengan kakaknya agar bisa menyelesaikan pesanan. ’’Sekarang harus bagi-bagi pekerjaan dengan saudara dan tetangga agar cepat selesai,’’ ucapnya.

Karena usahanya berkembang semakin pesat, dia akhirnya berpikir untuk membuat merek dagang yang terdaftar. Sekitar 2008, dia melabeli kerupuknya dengan nama Qonja Madu. Nama itu adalah akronim dari empat nama anaknya, Qoni, Anjani, Marsha, dan Abdu. Berkembangnya usaha rumahan Leni tak lepas dari dukungan pihak-pihak terkait. Dia pun lantas membuat produk lain yang juga memanfaatkan hasil perikanan. Di antaranya, kerupuk ikan dan terasi. Dua produk itu juga mendapatkan respons positif konsumen.

Namun, masalah yang diterima agak berbeda. Sekarang dia kesulitan mencari bahan baku kerupuk ikan. Sebab, ikan yang digunakan untuk membuat kerupuk juga digunakan untuk bakso. Dia pun kerap kekurangan bahan untuk membuat kerupuk. ’’Sering rebutan sama penjual bakso, jadi kadang harus mengalah,’’ ujarnya.

Selain menjadi wirausahawan, dia juga kerap diminta untuk menjadi penyuluh swadaya perikanan. Dia berkeliling ke daerah-daerah di Jawa Timur untuk memberikan pelatihan seputar pembuatan produk perikanan. Dia tak segan mempraktikkan langsung cara membuat kerupuk. Leni mengaku tak khawatir jika semakin banyak orang yang memiliki usaha seperti dirinya. Bahkan, tak jarang berbagai kelompok masyarakat bertandang ke rumahnya untuk belajar langsung. Dia tak pernah pilih-pilih.

Siapa pun bisa belajar langsung darinya. ’’Kemarin ada yang dari Ambon, ada juga dari Sampit, mau belajar membuat kerupuk ikan,’’ ungkapnya. Dia mengaku senang dengan usahanya saat ini. Sebelumnya, tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya menjadi jujukan orang lain. Dia mengungkapkan bahwa perasaan senang terhadap pekerjaan menjadi kunci utama kesuksesannya. ’’Kalau kita kerja dengan senang, tanpa beban, akan sukses,’’ katanya. (*/c5/tia)

Berita Terkait