Tarif Listrik Naik Rp 2 Per kWh

Tarif Listrik Naik Rp 2 Per kWh

  Minggu, 9 Oktober 2016 11:03

Berita Terkait

JAKARTA--Tarif listrik dalam enam bulan terakhir memiliki kecenderungan untuk naik meski nominalnya bisa jadi tidak terlalu besar bagi konsumen individu. Seperti bulan ini, PLN menetapkan tarif dasar listrik (TDL) untuk pelanggan non subsidi naik Rp 2.02 per kWh.

Manajer Senior Public Relations Agung Murdifi kemarin mengatakan, untuk tarif tenaga listrik yang mengikuti mekanisme tariff adjustment memang memungkinkan untuk naik turun. Ada tiga faktor penentu harga listrik, yakni nilai tukar rupiah, harga minyak Indonesia (ICP), dan inflasi.

“Tarif bulan ini dipengaruhi stabilnya nilai tukar dan harga minyak,” ungkapnya. Dia lantas membuka data, nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika (USD) pada Agustus melemah Rp 46,18. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp 13.165 per USD menjadi Rp 13.118 per USD.

Turunnya nilai tukar, berbanding terbalik dengan harga ICP pada Agustus yang naik 0,41 USD per barrel. Data PLN, pada Juli harga ICP berkisar USD 40,70 per barel dan menjadi USD 41,11 per barel di Agustus. “Untuk inflasi Agustus turun 0,71 persen dari sebelumnya Juli 2016 sebesar 0,69 persen,” jelasnya.

PLN memang menggunakan perbandingan dua bulan sebelumnya sebagai penentu tarif listrik yang berjalan. Jadi, untuk tarif Oktober ditentukan dari struktur harga Agustus. Untuk segala aktifitas perubahan elemen pada bulan ini, dipakai menentukan tarif listrik Desember.

“Dengan mekanisme tariff adjustment, tarif listrik setiap bulannya memang dimungkinkan untuk turun, tetap atau naik. Tergantung pada perubahan ketiga indikator tersebut,”tambahnya. Mekanisme itu disebutnya sesuai Permen ESDM 31/2014Â yang diubah dengan Permen ESDM 09/2015. Intinya, menyatakan kalau penyesuaian diberlakukan setiap bulan.

Perubahan indikatoritu membuat tarif listrik Oktober untuk Tegangan Rendah (TR) menjadi Rp 1.459,74 per kWh. Pada Tegangan Menengah (TM) menjadi Rp 1.111,34 per kWh, Tegangan Tinggi (TT) Rp 994,80 per kWh, dan tarif listrik untuk Layanan Khusus menjadi Rp 1.630,49 per kWh.

Agung menegaskan, naiknya TDL hanya untuk 37 golongan dengan jumlah konsumen mampu 12,5 juta pelanggan atau 20 persen dari 62,6 juta konsumen. Dimulai dari rumah tangga daya 1.300 VA kantor pemerintah dengan daya di atas 200 kVA. Untuk 25 golongan tarif lainnya termasuk rumah tangga kecil daya 450 VA, dan 900 VA tidak ada perubahan.

“Di 25 golongan itu ada pelanggan bisnis, industri sampai social. Pelanggan golongan itu masih diberikan subsidi oleh pemerintah,” ucapnya. Jika dibandingkan dengan Oktober 2015, TDL untuk tegangan rendah turun Rp 47 per kWh. Sebab, pada Oktober 2015 tarifnya sebesar Rp 1.507 per kWh.

Jika melihat data lebih jauh, dalam enam bulan ini TDL dominan naik. Tercatat, penurunan sempat terjadi sekali pada tarif Agustus. Saat itu, turun Rp 2 per kWh dari tarif Juli sebesar Rp 1.416,66 per kWh menjadi Rp 1.410,12 per kWh. Pada awal 2016, TDL sempat berada di angka 1.409,6 per kWh atau naik Rp 50 dibandingkan tarif saat ini. (dim)

 

Berita Terkait