Tarian Maing Ban Terinspirasi dari Bermain Ban

Tarian Maing Ban Terinspirasi dari Bermain Ban

  Jumat, 14 Oktober 2016 09:30
TAMPIL: Tim penari Maing Ban usai tampil dalam World Culture Forum di Bali. SANGGAR ANDARI FOR PONTIANAKPOST

Berita Terkait

World Culture Forum di Denpasar, Bali

Tarian Maing Ban Terinspirasi dari Bermain Ban 

Gerak tari, baik modern maupun tradisional, dapat terinspirasi dari berbagai hal. Pernahkah terpikir, perpaduan antara permainan tradisional di Kalimantan Barat dan gerak tarik, dapat menghasilkan tarian yang indah. 

***

HAL ini yang dilakukan oleh Budi, penata tari dari Sanggar Andari Pontianak, pimpinan Kusmindari Triwati. Tarian ‘Maing Ban’ yang ia ciptakan, telah membawanya menjadi penata tari terbaik di nasional.

Senin lalu (10/10), tim kesenian dari Kalimantan Barat yang beranggotakan 15 orang tiba di Nusa Dua, Denpasar, Bali. Tim tersebut terdiri dari satu penata rias, Hendry Jurnawan. Satu penata tari, Budi. Tujuh penari, yaitu Nadya Fenisha Putri, Sasikirana Zakiyatul Wahdah, Zahratul Wardiah Fenza, Lathiifah Adila, Khansa Audya Zayzafinna, Handira Rima Wulandari, Anggia Putri Widi. 

Satu penata musik, Yusril Ehza Mahendra. Empat pemusik, yaitu Mukhlisul Amal, Yuni Syahroni, Sy Usman, dan Sy Badarudin. Mereka juga didampingi Pimpinan Sanggar Andari, Kusmindari Triwati; serta Albertus Benny dan Eko Akbar.

Keesokkan harinya, mereka tampil dihadapan para budayawan dari 60 negara. Mereka diminta Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk tampil dalam World Culture Forum, 10-14 Oktober 2016.

“Agustus kemarin, kami ikut lomba yang digelar Kemendikbud, Festival Nasional Tari 2016 di TMII Jakarta. Terus, kami menang kategori penata tari terbaik. Dari hasil itu, ternyata kemarin kami diundang Kemendikbud untuk mengisi acara World Culture Forum,” ujar Budi, belum lama ini.

Selain budayawan, World Cuture Forum juga mengundang pejabat negara dan akademisi. WFC ditujukan sebagai penguatan jati diri dan pembangunan karakter bangsa, serta memperkuat hubungan internasional. 

WFC diisi simposium 1-6 dalam bentuk diskusi panel yang diikuti pada 11-12 Oktober 2016. Tari ‘Maing Ban’ karya Budi akan ditampilkan pada Simposium 1, dengan tema revising culture for rural sustainability.

Kepada Pontianak Post, Budi menceritakan, tarian tersebut dia ciptakan dalam dua bulan. Permainan tradisional yang berkembang di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat menjadi inspirasinya menciptakan tarian tersebut. ‘Maing Ban’ berarti bermain ban. 

Tarian tersebut menceritakan tentang keceriaan dan kegembiraan anak-anak etnis melayu Kalbar memainkan ban yang tidak digunakan lagi. Ban, mereka injak, angkat, putar, gulingkan, dan dibuat saling balap-balapan.

“Kegembiraan masa anak-anak tergambar dalam tarian ini,” katanya.

Menurut Budi, garapan tari tersebut berpijak pada gerak-gerak tari tradisi melayu Kalbar. Antara lain, langkah jepin, inang, joget, serta pengembangan gerak yang disesuaikan dengan gerak permainan ban dan jiwa anak-anak.

Ia mengakui, keberhasilan prestasi penata terbaik di even nasional, serta kesempatan tampil dalam WFC dapat dicapai dengan dukungan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar. 

Tak hanya pada Tari Maing Ban, Budi juga mengantongi banyak prestasi, diantaranya penata tari terbaik se-Kalbar, juara 1 perwakilan Kalbar di Jakarta pada Lomba Tari Serampang 12, dan lain sebagainya.(*/r)

Berita Terkait