Target 21 Hari Gagal

Target 21 Hari Gagal

  Kamis, 22 Oktober 2015 10:27

PONTIANAK – Diguyur hujan beberapa hari lalu, tak membuat cuaca di Kalimantan Barat membaik. Empat hari terakhir, kabut asap disertai jarak pandang pendek kembali terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Supadio Pontianak mencatat 22 titik panas di Ketapang dan Kubu Raya.

Forecaster BMKG Supadio Pontianak Sri Ningsih mengatakan update data titik api sampai 21 sampai 22 Oktober 2015, terpantau setidaknya 22 titik api yang terkonsentrasi pada dua kabupaten berbeda di Kalbar. “Berdasarkan pencitraan sensor MODIS melalui satelit Terra dan Aqua sampai pada Selasa (21/10) update pukul 06.00, terpantau 22 titik panas. Hotspot tersebut menyebar pada dua wilayah berbeda di Kalbar,” katanya, Selasa(21/10) di Pontianak.

Menurut dia, kabupaten penyumbang titik api masih tidak bergeser seperti data-data beberapa waktu lalu. Kabupaten Ketapang yang dikenal sebagai salah satu daerah investasi perkebunan sawit dari pencitraan sensor modis terpapar sebanyak 19 titik panas. Jumlah ini berkurang dibandingkan beberapa waktu sebelumnya pernah terpapar sebanyak 442 titik panas. Untuk tiga titik panas berikutnya terpapar berada di Kubu Raya. Sementara kabupaten lainnya seperti Kayong Utara, Sintang, Sanggau belum terpapar titik api.

Sajian data hotspot berbeda justru disajikan dari pencitraan Satelit NOAA-18. BMKG Supadio Pontianak yang menyebutkan, proses update data terbarunya sampai pada Senin, (20/10) hingga pukul 17:00 sama sekali belum menemukan adanya titik panas. 

Sri melanjutkan mulai munculnya hotspot pada dua kabupaten berbeda di Kalbar, secara otomatis mulai membuat kondisi cuaca di Kalbar pekat. Kabut asap sejak hari Sabtu(18/10) mulai mengganggu jarak pandang yang semakin pendek. Jarak pandang pada pukul 07.00 hanya sekitar 500 meter saja. Sebelumnya pada pukul 06.00 sedikit membaik yakni 600 meter. Pada pukul 08.00 masih berkisar sekitar 600 meter. Selanjutnya pada pukul 09.00 sampai 10.00 menjadi 700 meter. Pada pukul 11.00 menjadi 900 meter dan sore harinya yakni pukul 15.00 membaik menjadi 1.200 meter.

Pendeknya jarak pandang pada pagi hari, sangat mungkin membuat jadwal penerbangan di Bandara Supadio Pontianak berubah. Budi (35), penumpang maskapai penerbangan menuju yang harus bertolak ke Jakarta pukul 07.00, terpaksa menunggu sampai jarak pandang menjadi normal.

Sri mengatakan peluang hujan masih tetap ada dan diprediksikan terjadi akhir Oktober sampai November. “Untuk hujan diprediksikan akan turun kembali pada 25-26 Oktober 2015,” ungkapnya seraya menjelaskan intensitas hujan diprediksikan masuk dalam kategori ringan, sedang, dan lebat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Sustyo Iriono mengungkapkan, berdasarkan pengamatan versi NOAA maupun Aqua/terra dalam sepekan terakhir, hotspot di Kalimantan Barat tidak begitu banyak. “Kenapa masih diselimut asap? Padahal hotspot di sini (Kalimantan Barat) sedikit. Setelah diamati, arah angin mengarah ke sini (Kalimantan Barat), itu artinya bukan berasal dari Kalbar, melainkan dari daerah tetangga,” katanya.

Sementara itu, dalam kasus pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat, BKSDA telah menerjunkan seluruh sumber daya yang ada, baik manusia maupun pembiayaan. Artinya tidak terbatas pada Manggala Agni.

Dikatakan Sustyo, terhitung hingga tanggal 20 Oktober 2015, BKSDA Kalbar sudah melakukan pemadaman sebanyak 223 kali, dengan sebaran di masing-masing Daops (daerah operasional). Daops Ketapang ada 59 kali, Daops Pontianak, 55 kali, Daops Singkawang, 40 kali dan Daops Sintang, 68 kali. “Itu meng-cover kejadian kebakaran yang luasnya diluar taman nasional. Yaitu seluas 285,86 hektare yang terdiri dari kawasan konservasi seluas 50, 44 hektare, perkebunan seluas 350 hektare, dan lahan masyraakat seluas 2450,42 hektare,” terangnya.

Menurut Sustyo, secanggih apapun alat untuk menanggulangi kebakaran di lahan gambut, tidak bisa maksimal. Karena karakter lahan gambut yang berbeda dengan karakter lahan lainnya. “Kelihatannya padam, sebenarnya tidak,” katanya.

Sementara itu, target pemerintah menyelesaikan persoalan kabut asap di Kalbar dalam 21 hari sejak kedatangan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada bulan lalu tak tercapai. Hingga kini kabut asap masih menyelimuti beberapa kabupaten kota di Kalbar.

“Target 21 hari itu tak terpenuhi karena lahan yang terbakar di seluruh Indonesia cukup luas,” ujar Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, Rabu (21/10).

Christiandy yang juga sebagai Komandan Satgas Penanggulangan Darurat Bencana Asap Kalbar ini menuturkan peralatan dan sumber daya manusia sudah diberdayakan secara maksimal. Kalbar pun dinilai baik dalam penanganannya sehingga kabut asap tidak meluas dengan titik api relatif sedikit.

“Tetapi asap yang banyak ini kiriman dari Kalteng. Ini berdasarkan data satelit maupun data titik api,” ungkap Christiandy.

Menurut Christiandy, dirinya menghadiri rapat pengurangan risiko bencana untuk pembangunan berkelanjutan di Surakarta pada 16 Oktober lalu. Rapat ini dihadiri Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, BNPB, DPD, duta besar, bupati,d an gubernur. Hal yang dibahas yakni membangun ketangguhan masyarakat dan pemerintah dalam menangani bencana.

“Mulai dari antisipasi atau pencegahan, penanganan bencana, sampai penanganan paskabencana. Pemerintah RI akan membangun penanganan, penurunan risiko, dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah,” jelas Christiandy.

Christiandy menuturkan upaya menangani bencana asap pada tahun ini menjadi pengalaman sangat berharga. Apalagi Pemprov Kalbar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah berupaya melakukan antisipasi sejak dini. Begitu pula dengan prediksi terjadinya kemarau panjang pada Januari hingga April tahun depan, sudah dilakukan upaya untuk mengatasinya. Diantaranya dengan pola mempersiapkan kesiagaan masyarakat desa agar segera mengatasi kebakaran, terutama di kabupaten yang lahannya berpotensi terbakar.

“Contohnya kami sudah menyerahkan bantuan berupa 15 unit alat pemadam untuk Kubu Raya. Alat ini bisa digunakan dan diupayakan juga bisa diberikan untuk kabupaten lainnya,” katanya.

Gubernur Kalbar Cornelis mengaku heran dengan bencana asap yang panjang pada tahun ini. Padahal Pemprov Kalbar sudah berupaya mengatasinya, bahkan ia turun langsung memberikan penyuluhan dan penjelasan kepada masyarakat.

“Saya sudah beri penyuluhan sampai ke desa, camat, bupati, dan masyarakat. Sampai (membuang) puntung rokok (sembarangan) pun saya larang. Kalau ada yang mau menggugat, apa boleh buat. Hadapi saja,” kata Cornelis ketika melantik Pengurus Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Masa Bakti 2015-2018 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (21/10).

Menurut Cornelis, saat ini dirinya belum mendapat laporan asal titik api. Tetapi saat ini sedang terjadi kebakaran lahan sangat luas di Kalimantan Tengah. “Ini tak pernah terjadi sejak saya tinggal di Kalbar. Sudah 63 tahun. Baru sekarang terjadi seperti ini,” katanya. (den/uni/arf)