Tanpa Izin Edar dan Mengandung Bahan Berbahaya, Ribuan Jamu Ilegal Disita

Tanpa Izin Edar dan Mengandung Bahan Berbahaya, Ribuan Jamu Ilegal Disita

  Rabu, 12 Oktober 2016 09:30
BARANG BUKTI: BPOM Pontianak menggelar barang bukti berupa jamu dan kosmetik tanpa izin edar yang berhasil disita dari distributor. Jamu tradisonal dan kosmetik ini juga mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan tubuh. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Pontianak bersama Korwas PPNS Polda Kalbar menyita 1.847 kemasan jamu yang tidak memiliki izin edar dan mengandung bahan kimia obat (BKO) berbahaya. Ribuan botol jamu tersebut disita dari sebuah rumah di Pontianak Barat, Jumat (7/10).

Jamu berbahaya itu dikemas dengan merk Jamu Jawa Asli "Asam Urat" cap Dua Singa  dan Jamu Pegal Linu Husada Jawa cap Tawon Klanceng yang diproduksi CV. Rochman Jaya dan CV. Putri Husada Jatim. Petugas menyita barang tersebut saat akan dikirim menggunakan truk ke daerah pedalaman Kalbar.

"Hari Kamis (6/10) masuk dan transit di Jeruju, Pontianak Barat. Pada Jumat (7/10) sore akan didistribusikan ke daerah. Nah di situ lah kita tangkap," ujar Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Pontianak Corry Panjaitan, kemarin. 

Pihaknya mengamankan barang bukti sebanyak 124 dus, yang masing-masing berisi 12 botol dengan total 1.704 botol yang akan dijual ke pelosok. Selain itu juga disita produk yang sama dengan kemasan berbeda yakni 100 botol dan 43 produk lain.  

"Setelah dilakukan pemeriksaan dan uji lab, jamu dalam kemasan botol itu mengandung bahan kimia obat yang seharusnya digunakan dengan resep dokter. Kalau digunakan tidak sesuai dengan cara penggunaan yang benar, menyebabkan luka atau pendarahan pada lambung yang berakibat pada kematian," terang Corry.

Selain mengandung bahan kimia obat yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, jamu tersebut juga tidak memiliki izin edar. Meskipun secara kasat mata di luar kemasan tercantum izin edar dari Badan POM, namun nomor tersebut fiktif.  Produsen mencatut nomor izin edar dari jamu tradisional lain yang benar.

"Jika kita melihat kemasannya, di situ tertera atau mencantumkan nomor izin edar dari BPOM. Tapi itu merupakan izin edar fiktif atau tidak sesuai dengan penandaan yang disetujui BPOM. Jika tidak teliti maka masyarakat bisa terkecoh," paparnya.

Menurut Corry, sasaran produsen terhadap jamu ini adalah mereka yang bekerja kasar di daerah-daerah pedalaman, seperti di perkebunan sawit dan lainnya. Saat ini, lanjut Corry, pihaknya telah mengamankan seseorang berinisil RJ yang diduga kuat sebagai penanggung jawab. 

"Obat atau jamu ini sebenarnya sudah lama kita amati. Bahwa akan ada jamu tradisional yang akan masuk ke Kalbar yang mengandung bahan kimia obat dan tidak memiliki izin edar, dan ternyata benar," katanya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dijerat dengan pasal 197 Undang Undang Nomor 36/2009 tentang Kesehatan. 

Selain mengamankan ribuan kemasan jamu, BPOM Pontianak juga menyita 1.851 kemasan obat tradisional dan kosmetik ilegal pada Operasi Gabungan Nasional pada bulan September 2016 lalu. 

Operasi yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia tanggal 20-21 September 2016 itu menyasar sarana distribusi yang mengedarkan obat tradisional, makanan dan kosmetik yang diduga melanggar aturan.

Dalam operasi tersebut, BPOM menyita 84 item berbagai merk dengan jumlah 1.851 kemasan yang tidak memiliki izin edar dan mengandung merkuri. 

"Dari operasi ini kami mengamankan lima sarana, yaitu toko obat, butik dan toko kosmetik. Tiga di antaranya dilakukan pembinaan, sementara dua sarana yang diduga memenuhi ketentuan, langsung kita proses hukum," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Corry mengimbau warga untuk lebih teliti dalam penggunaan produk kosmetik maupun jamu tradisional. Soalnya, saat ini banyak beredar barang atau produk yang tidak memiliki izin edar dan mengandung bahan berbahaya. (arf)

Berita Terkait