Tanjungbalai Mencekam, 8 Vihara Dibakar, 4 Dirusak Massa

Tanjungbalai Mencekam, 8 Vihara Dibakar, 4 Dirusak Massa

  Minggu, 31 July 2016 10:14
R USUH: Kerusuhan di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara tak terhindarkan. Kericuhan itu menyebabkan sejumlah rumah ibadah berupa vihara dan kelenteng dibakar massa, Jumat (29/7) sekira pukul 23.00 WIB. SUMUTPOS/JPG

Berita Terkait

TANJUNGBALAI-Suasana di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara Sabtu (30/7) dinihari, sekitar pukul 00.30 WIB mencekam. Puluhan ribu warga mengamuk dan membakar delapan rumah ibadah, sedangkan 4 lainya dirusak termasuk yayasan sosial etnis Tionghoa. Selain itu sebanyak 6 unit mobil, 4 sepedamotor serta sebuah becak bermotor juga menjadi sasaran amukan warga.

Informasi yang dihimpun, munculnya persoalan ini dipicu oleh satu keluarga etnis Tionghoa  yang bertempat tinggal di Jalan Karya, Kelurahan Karya, Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjungbalai yang merasa terganggu dengan pengeras suara aktivas di Masjid Al Maksun tepat di depan rumah keluarga tersebut.  Istri dari Atui (entis Tionghoa) yang bernama Meliana (41) menegur pengurus masjid kerena merasa terganggu istirahatnya. Kerena seringnya Meliana melakukan peneguran tersebut pihak pengurus masjid kemudian melakukan rembuk dengan warga serta kepala lingkungan untuk mendatangi kediaman Meliana bermaksud meluruskan permasalahan

Namun setibanya dikediaman keluarga tersebut, pihak pengurus masjid justru mendapatkan jawaban yang tak mengenakan sehingga terjadilah adu mulut dengan Meliana sehingga amarah warga pun memuncak lalu melempari kediaman Meliana.   Mendapati amukan warga Meliana dengan suaminya Atui kemudian dilarikan kepala lingkungan ke kantor lurah untuk menyelesaikan masalah. Namun ketika di kantor lurah Meliana dan warga tetap besitegang sehingga pihak kelurahan melarikan Meliana dan suaminya ke Mapolsek Tanjungbalai Selatan.

Setibanya di mapolsek lalu dilakukan pertemuan dengan melibatkan Ketua MUI, Ketua FPI, Camat, Kepling dan Tokoh masyarakat. Pada saat bersamaan massa mulai banyak berkumpul di depan kediaman Meliana di Jalan Karya. Melihat hal tersebut, warga sekitar dan petugas kepolisian dari Polres Tanjungbalai kemudian mengimbau masa untuk membubarkan diri karena Meliana dan suaminya sedang diproses dan akhirnya masapun membubarkan diri satu persatu .  Namun pada pukul 22.30 WIB konsentrasi massa kembali berkumpul di depan kediaman Meliana. Karena diduga telah mendapat informasi dari mulut ke mulut serta media sosial.

Mendapati hal tersebut kemudian selanjutnya massa bergerak menuju Vihara yang berada di Juanda berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Karya. Massa berupaya untuk melakukan pembakaran namun dihadang oleh personil Polres Tanjungbalai.

Tak berselang lama dari penghadangan tersebut, tiba-tiba lemparan batu melayang ke vihara dan masa bergerak maju sehingga pihak Polres Tanjungbalai tidak dapat berbuat banyak karena banyaknya jumlah massa sehingga Vihara tersebut mengalami kerusakan dan pembakaran. 

Selanjutnya massa bergerak melakukan tindakan pembakaran  di Jalan Asahan yang terdapat empat 4 Vihara. Massa kemudian mendatangi vihara di Jalan Imam Bonjol dan membakar 1 Vihara. Setelah itu massa bergerak ke Jalan Sudirman dan membakar 1 Vihara. Tak puas sampai disitu, massa berlanjut ke Jalan Hamdoko dan merusak 1 Vihara dan tempat pengobatan alternatif dan membakar 1 unit sepedamotor.Setelah itu masa memasuki Jalan KS Tubun merusak 1 Vihara berlanjut ke Jalan Nuri dan merusak bangunan Yayasan Putra Esa, lalu ke jalan Ade Irma membakar 1 Vihara. Kemudian massa memasuki Jalan MT Haryono merusak 2 Vihara.

Setelah itu masa berlanjut menuju Jalan Ahmad Yani dan merusak pagar Vihara dan berjalan ke Jalan WR Supratman merusak bangunan yayasan Sosial Etnis Tionghoa serta tiga mobil yang berada di dalamnya.  Aksi ribuan masa tersebut berhasil dikendalikan setelah Brimob melakukan swiping di jalan kepada para masa dan berhasil dibubarkan sekitar pukul 04.30 WIB.

Sementara itu hingga sabtu pagi petugas pemadam kebakaran dari Badan Penaganggulangan Bencana Daerah Kota Tanjungbalai dan Asahan  masih melakukan pemadaman dibeberapa titik api divihara yang terbakar.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan SIK ketika diwawancarai mengatakan, saat ini para masa telah terkendali dan pihak telah mengelar kekuatan ditempat-tempat yang rawan serta pengamanan antisipasi kembalinya adanya aksi lanjutan masa. Akibat aksi tersebut sejumlah ruas jalan di Kota Tanjungbalai sempat lumpuh. Puluhan ribuan warga terus berjalan mendatangi virahra dengan berjalan kaki. 

 Tujuh Penjarah Diamankan

Dalam aksi kericuhan yang terjadi di Tanjungbalai, pihak kepolisian mengamankan tujuh warga. Ketujuh warga yang dimankan karena melakukan penjarahan dalam kerusuhan.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting di Medan, Sabtu (30/7), mengatakan tujuh warga tersebut ketahuan mengambil manfaat dengan mengambil barang milik warga lain ketika kerusuhan berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari.  Ketujuh penjarah tersebut langsung diamankan ke Mapolres Tanjungbalai untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, termasuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun, Kombes Rina Sari belum menyebutkan identitas dan langkah lanjut yang akan dilakukan terhadap tujuh penjarah tersebut. Pihak kepolisian terus menyiagakan personel di berbagai lokasi untuk mengantisipasi terjadinya kerusuhan susulan atau tindak kejahatan lain yang merugikan masyarakat.

Pihak kepolisian juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi agar kerusuhan berbau SARA itu tidak berlanjut.  Menurut dia, pihak kepolisian dan pemerintah aderah setempat telah menyepakati pertemuan untuk membahas kerusuhan berbau SARA tersebut.

Selain unsur pemerintah dan Kementerian Agama, pertemuan itu juga melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan etnis, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjungbalai.

Sebelumnya, terjadi kerusuhan berbau SARA di Kota Tanjungbalai yang diduga karena adanya keberatan dari seorang etnis Tionghoa atas volume azan yang dikumandangkan di salah satu masjid.

Tanpa diduga, informasi itu cepat menyebar dan berujung pada kerusuhan yang berbau SARA. Perisitiwa itu menyebabkan sembilan rumah ibadah milik umat Buddha dirusak massa. (mag02/syaf)

Berita Terkait