Tanjidor Bertahan dari Gempuran Musik Modern

Tanjidor Bertahan dari Gempuran Musik Modern

  Selasa, 11 Oktober 2016 09:30
TANJIDOR: Kesenian musik tanjidor yang kini sulit mendapatkan generasi baru sebagai penerusnya. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Di tengah gempuran jenis musik modern, Grup Tanjidor Tanjung Besiku, pimpinan Muhamad Saad, tetap eksis memainkan lagu-lagu dengan irama kental khas terompet. Lewat tanjidor juga dirinya bisa ke negeri orang. Di usia tak muda lagi, ia ingin ada generasi penerus memainkan tanjidor agar tak hilang ditelan zaman.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

SUARA khas terompet, saksofon, senar dan bas drum yang dimainkan lima orang pemain grup musik tanjidor Tanjung Besiku ikut mengiring kedatangan Wali Kota Pontianak, Sutarmidji di acara saprahan yang diadakan di Gang Bansir III, Sabtu lalu.

Lagu melayu yang dimainkan grup tanjidor itu mampu membuat suasana seketika riuh. Beberapa warga juga tampak asyik dengan iramanya. Saking asyiknya, berapa warga ikut bergoyang. Ada juga yang jaim, tapi nyatanya tak mampu menghindari kesaktian suara tanjidor itu. Meski tubuh diam, kaki mereka mengikuti hentakan irama.

Usai memainkan satu lagu, peluh keringat beberapa pemain bercucuran. Terang saja, alat musik tanjidor dimainkan tanpa bantuan tenaga listrik. Itu karena alat musik tanjidor didominasi dengan alat musik tiup. Sedangkan senar dan bas drum merupakan alat musik pengiring saja. Meski demikian suara yang dihasilkan tak kalah dengan alat musik modern.

Ketua Grup Musik Tanjidor Tanjung Besiku, Muhamad Saad (58) mengungkapkan, sudah memainkan musik tanjidor sejak ia kecil. Kemahirannya memainkan musik tanjidor didapat dari sang ayah. 

"Ayah saya juga pemain tanjidor. Nama grupnya Suka Raja, sudah ada sejak 1939. Saya bisa memainkan musik ini warisan ayah," ungkapnya.

Ia melihat perkembangan tanjidor di Pontianak teramat kurang. Menurutnya apabila tanjidor tak dilestarikan bisa punah. Maka dari itu, ia ingin ada regenerasi pemain tanjidor di Pontianak agar dapat berkembang. Diceritakan, untuk job jasa dalam minggu ini, Grup Musik Tanjidor yang berada di Jalan Tritura, Kecamatan Pontianak Timur ini, sudah penuh. Selain biasa mengisi di acara pernikahan, acara-acara kebudayaan khususnya melayu juga sering gunakan jasa grupnya. 

Sepanjang hidupnya bermain tanjidor, ia sudah malang melintang mengikuti lomba. Bahkan karena tanjidor ia bisa pergi ke negeri tetangga untuk bermain di sana. Kalau untuk even musik skala nasional, ia juga pernah jadi perwakilan Kalimantan Barat. Agar musik tanjidor tetap ada, ia ingin ada campur tangan pemerintah.

Dijelaskan dia, tanjidor bisa dimainkan lima orang. Tapi jika alat musiknya lengkap bisa dimainkan sampai sepuluh orang. Untuk alat tanjidor milikinya diakui sudah banyak tak ada karena rusak. Keterbatasan dana dan harga alat yang mahal masih jadi kendala grupnya untuk berkembang. Saat ini alat yang tersisa hanya bas drum, senar drum, beberapa terompet dan saksofon. 

"Saya pernah mengajukan bantuan peralatan tanjidor ke pemerintah tapi sampai saat ini belum ada kabar," unkapnya.

Kalau jumlah grup tanjidor di Pontianak sudah tak banyak lagi. Hanya 12 grup. Dengan satu kelompok berisikan lima sampai enam orang. Ia berharap kesenian ini dapat dilestarikan. Karena  musik tanjidor Pontianak miliki ciri khas dan berbeda dengan daerah lain. 

“Saya ingin tanjidor bertahan dan dapat lestari,” tutupnya.(*)

Berita Terkait