Tangkap Tangan Pembalak Hutan

Tangkap Tangan Pembalak Hutan

  Kamis, 25 February 2016 09:34
TANGKAP TANGAN: Dua pembalak diamankan SPORC Brigade Bekantan BKSDA Kalbar saat melakukan aktivitas penebangan pohon di TWA Gubung Melintang.SPORC FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Dua pembalak hutan tertangkap tangan oleh tim patroli Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar saat sedang melakukan aktivitas pembalakan di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Melintang, Kabupaten Sambas. 

Kedua pelaku bernama Sya (48) dan Buh (36), warga Kecamatan Paloh, Sambas. Mereka disergap saat melakukan penebangan pohon dan membelah kayu menggunakan gergaji mesin (chainsaw) di kawasan TWA Gunung Melintang, di Desa Santaban, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas.Kepala Unit Operasi SPORC Brigade Bekantan TB Sibarani mengatakan, penangkapan terhadap dua pelaku illegal logging ini berawal dari informasi masyarakat tentang adanya aktivitas pembalakan liar di kawasan TWA Gunung Melintang, Sambas. Dari informasi itu, tim patroli SPORC yang dibantu personel TNI Denpom Singkawang Kodam XII Tanjungpura turun ke lapangan.

"Hari Jumat (19/2) kami turun ke Sajingan dengan jumlah personel 20 orang untuk melakukan observasi. Pada Senin (22/2) berhasil menyergap dua pelaku yang sedang melakukan aktivitas penebangan liar di dalam kawasan hutan TWA Gunung Melintang," kata TB Sibarani, kemarin.

Dari tangan pelaku, tim patroli menyita sejumlah barang bukti, diantaraya satu buah gergaji mesin (chainsaw), satu buah parang, satu buah jeriken dan 40 batang kayu ukuran 9 cm x 18 cm x 4 m jenis rimba campuran. "Kemudian barang bukti kayu kami musnahkan di lokasi, karena kayu hasil pembalakan liat di kawasan TWA tidak bisa dilelang. Sementara dua orang pelaku dibawa ke Pontianak untuk dilakukan pemeriksaan intensif," bebernya.

Dari pemeriksaan kedua tersangka secara maraton, maka penyidik (PPNS) menemukan dua alat bukti dan kedua pelaku ditetapkan sebagai tersangka. Kedua pelaku diduga melanggar Pasal 33 ayat (3) jo Pasal 40 ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan atau Pasal 50 ayat (3) huruf e jo Pasal 78 ayat (5) UU Nomor 41 Tahun 1999 UU Tentang Kehutanan dan atau Pasal 12 huruf c jo pasal 82 ayat (1) UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. "Saat ini keduanya kami titipkan ke Rutan Klas IIA Pontianak," tegasnya.

Dikatakan Sibarani, berdasarkan pengakuan tersangka, kayu hasil pembalakan rencananya akan dibawa ke Paloh. Namun tidak menutup kemungkinan kayu hasil jarahan hutan itu dijual ke Pontianak atau Jakarta.

Mengingat kawasan TWA Gunung Melintang berbatasan langsung dengan Malaysia, kata Sibarani, tidak yakin jika kayu-kayu tersebut dijual ke Malaysia. "Saya rasa tidak ada yang dijual ke sana (Malaysia), karena skalanya kecil dan jenis kayunya kurang bagus," katanya.

Kepala Balai KSDA Kalbar Sustyo Iriono mengatakan, langkah pengamanan kawasan TWA ini dilakukan sekaligus untuk mencegah agar tidak terjadinya kebakaran hutan kembali. Penindakan secara tegas kepada pelaku illegal logging perlu dilakukan karena illegal logging merupakan salah satu modus untuk melakukan perambahan kawasan hutan. "Kami masih ada empat lokasi yang menjadi target. Sekarang ini masih kami rahasiakan," katanya singkat.

Kawasan TWA Gunung Melintang ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan RTRWP Kalimantan Barat Tahun 1995 (Zonasi kawasan sebagai Taman Wisata Alam seluas 17.640 ha), SK Menhutbun RI No. 259/Kpts-II/2000 Tanggal 23 Agustus 2000 (Penunjukan sebagai Taman Wisata Alam seluas 17.640 ha), dilanjutkan dengan Penetapan melalui SK Menteri Kehutanan Nomor : 107/Menhut-II/2013 tanggal 12 Februari 2013 dengan luas 21.172 Ha.

Letak Geografis kawasan ini terletak di antara 01º 38’ 00” – 01º 47’ 00” LU dan 109º 20’ 00” – 109º 37’ 00” BT. Sedangkan secara administrasi pemerintahan TWA. Gunung Melintang terletak di Kecamatan Paloh dan sebagian kecil di Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas. Keadaan topografi secara umum adalah agak curam sampai dengan sangat curam berupa pegunungan dengan kelerengan 15% - 45%, ketinggian tempat antara 25 sampai dengan 340 meter dari permukaan laut (dpl).

Potensi Flora yang dominan oleh jenis-jenis dari family Dipterocarpaceae dengan kondisi hutan primer di bagian puncak. Sedangkan pada daerah kaki Gunung Melintang merupakan hutan sekunder akibat kebakaran, perladangan dan penebangan.

Potensi Fauna yang pernah dijumpai pada kawasan ini antara lain Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrina), Lutung (Presbitys sp), Rusa (Cervus unicolor), Binturung (Arctictis binturong), Babi Hutan (Sus barbatus),  Trenggiling (Manis javanica), dan Kelempiau (Hylobates sp). Untuk jenis reptilia seperti Ular Sanca (Phyton morulus), Ular Punai (Trimeresurus wagleri), Ular Hijau (Ahaetula nasuta). Untuk jenis burung antara lain  Enggang (Bucerotidae), beberapa jenis pelatuk (Picideae) dan beberpa jenis dari keluarga Meropidae, Columbideae dan Ardeideae. Adapun Habitat dan Tipe ekosistem pada kawasan ini adalah tipe vegetasi hutan rawa gambut, hutan dataran rendah, perbukitan dan vegetasi puncak.

Permasalahan adalah bahwa kawasan ini merupakan bekas HPH PT. Yamaker, Terdapat kebun sawit dalam kawasan seluas 915 Ha oleh PT. Kaliau Mas Perkasa II Tahun 2011, tepatnya di Desa Sentaban, Kec. Sajingan Besar, Kab. Sambas, dimana kasus penyidikannya ditangani oleh pusat dan sampai saat ini belum tuntas.

Terdapat jalan ABRI Masuk Desa (AMD) yang memotong kawasan TWA. Gunung Melintang tepatnya di Dusun Setinggak, Desa Sebubus, Kec. Paloh, Kab. Sambas, terdapat pemukiman penduduk yang sudah sejak lama dan jauh sebelum penunjukan batas tepatnya di Desa Sui. Bening dengan jumlah penduduk kurang lebih 120 KK berikut tanaman masyarakat yang sudah lama antara lain sahang, karet, durian dan aktivitas pelebaran jalan di Desa Sungai Bening, Kec. Sajingan Besar, Kab. Sambas dengan panjang ±6,4 km dan lebar kurang lebih 12 meter. (arf)

 
Pembalakan Taman Wisata Alam

* SPORC Brigade Bekantan menerima informasi dari masyarakat terkait pembalakan liar di TWA Gunung Melintang, Sambas.

* Jumat, 19 Februari 2016, sebanyak 20 personel SPORC turun ke Sajingan untuk melakukan observasi.

* Senin, 22 Februari 2016, SPORC dibantu TNI AD menyergap dua pelaku yang sedang melakukan penebangan liar di dalam kawasan hutan TWA Gunung Melintang.

* Tim patroli menyita barang bukti, diantaraya satu buah gergaji mesin, satu buah parang, satu buah jeriken dan 40 batang kayu ukuran 9 cm x 18 cm x 4 m jenis rimba campuran.

* Pelaku diduga melanggar Pasal 33 ayat (3) jo Pasal 40 ayat (2) UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan atau Pasal 50 ayat (3) huruf e jo Pasal 78 ayat (5) UU 41/1999 UU tentang Kehutanan dan atau Pasal 12 huruf c jo pasal 82 ayat (1) UU 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

 

 

TWA Gunung Melintang

* Ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan RTRWP Kalbar 1995 dengan zonasi kawasan seluas 17.640 ha

* SK Menhutbun No. 259/Kpts-II/2000 tanggal 23 Agustus 2000 menunjuk sebagai Taman Wisata Alam seluas 17.640 ha

* Dilanjutkan dengan Penetapan melalui SK Menhut No. 107/Menhut-II/2013 tanggal 12 Februari 2013 dengan luas 21.172 Ha.

* Kawasan ini terletak di antara 01º 38’ 00” – 01º 47’ 00” LU dan 109º 20’ 00” – 109º 37’ 00” BT.

* Administrasi pemerintahan TWA Gunung Melintang terletak di Kecamatan Paloh dan sebagian kecil di Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas

Berita Terkait