Tanamkan Rasa Cinta Tanah Air

Tanamkan Rasa Cinta Tanah Air

  Kamis, 18 Agustus 2016 09:30
SERU: Panjat pinang di Sungai Jawi, Kota Pontianak, dalam memeriahkan HUT ke-71 Proklamasi Kemerdekaan RI, menjadi hiburan tahunan masyarakat. Sorak sorai penonton menyemangati para pemanjat. MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan menghargai dan menghormati jasa para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu wujudnya adalah kecintaan terhadap tanah air. 

“Semakin bertambah usia Indonesia, maka semakin bertambah rasa kecintaan kepada tanah air, semuanya harus bertekad untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia apapun tawaran orang atau negara lain kepada kita,” ujarnya usai upacara pengibaran bendera merah putih memperingati HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Lapangan Keboen Sajoek, Rabu (17/8) pagi.

Orang nomor satu di Pemkot Pontianak ini juga angkat bicara ihwal isu dwikewarganegaraan yang saat ini santer diperbincangkan. Dia menilai hal tersebut menjadi salah satu indikator, sekaligus bukti lunturnya rasa kecintaan terhadap NKRI. Karena menurutnya, sehebat dan sepintar apapun mereka yang memiliki dwikewarganegaraan, artinya kecintaan terhadap negara sudah tidak 100 persen lagi.

“Misalnya, mereka yang mempunyai paspor ganda dwikewarganegaraan itu, kecintaannya pada republik ini sudah berkurang. Orang yang sudah berkurang kecintaannya pada negara ini, jangan ada tempat untuk dia berbuat sesuatu, apalagi untuk mengandalikan hal-hal yang vital di republik ini, meskipun dia hebat dan luar biasa,” tegas Sutarmidji.

Permasalahan hukum kewarganegaraan tidak boleh dieliminasi hanya karena ingin mendapatkan orang-orang pintar. Menurutnya, masih banyak orang-orang yang lebih pintar dan hebat yang cinta terhadap republik ini. Hanya saja mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. “Karena kecintaan pada negeri ini, semua harus menghormati dan menghargai apa yang ada pada negeri ini. Itu yang saya harapkan,” imbuhnya.

Untuk itu Sutarmidji mengajak generasi muda di Pontianak untuk bersama-sama membangun kota ini, tingkatkan kemampuan diri dan jaga kondisi keamanan tetap kondusif, mandiri dalam perekonomian dan punya integritas. “Sehingga kita akan menjadi orang yang bisa memberikan nilai tambah pada republik ini,” katanya. 

Ia mengaku prihatin karena masih ada segelintir masyarakat yang memperlakukan lambang-lambang negara seenaknya. Seperti contoh, setelah masa pengibaran bendera selesai, ada yang hanya menggulung bendera merah putih pada tiangnya kemudian meletakkannya begitu saja disembarang tempat. 

"Seharusnya, bendera tersebut dilipat dan disimpan di tempat yang baik. Meskipun bendera merah putih itu selembar kain dengan dua warna berukuran tertentu, tetapi itu adalah media pemersatu negeri yang sangat luas ini," imbuhnya.

Demikian pula lambang negara lainnya seperti Garuda Pancasila dan lain sebagainya, juga harus dihormati dan ditempatkan di tempat yang memang sudah ada aturannya. “Nah, itu salah satu wujud kecintaan kita kepada tanah air,” pungkasnya.

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menambahkan, secara angka, HUT Kemerdekaan ke-71 RI ini merupakan momentum yang menarik sebab Kota Pontianak lahir pada tahun 1771. Dia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lepas landas dengan ikut peduli membangun kota. 

“Jadi masyarakat bersama jajaran Pemkot dan seluruh stakeholder yang ada bersama-sama untuk membangun kota dengan cara masing-masinng, dari saya untuk saya dan untuk kita semua,” ucapnya.

Seperti diketahui Wali Kota Pontianak Sutarmidji, bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan HUT Ke-71 RI yang dimulai sekitar pukul 09.30. Detik-detik proklamasi dimulai dan  diawali dengan dentuman sirine, dilanjutkan dengan pembacaan Naskah Proklamasi oleh Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin. Upacara berlangsung sangat khidmat. 

Seperti yang dirasakan pembawa baki bendera merah putih, Sherli Oktaviana. Meski panas matahari begitu terik dengan debu di lapangan yang mengepul, langkahnya tetap sigap seirama petugas pengibar bendera yang lain. Gadis kelahiran Pontianak, 25 Oktober 2010 ini mengaku sangat senang menjadi bagian pengibar bendera. “Senang plus deg-degan juga,” ujarnya usai upacara.

Anak kelima dari lima bersaudara ini mengatakan sikap tegasnya di lapangan tak lepas dari dukungan keluarga. Disiplin memang jadi hal yang sehari-hari dilakukan. “Memang orang tua selalu menekankan untuk disiplin," ujar siswi kelas XI SMA Bina Utama ini.

Dia bercerita mengikuti seleksi Pasukan Pengibar Bendera di sekolahnya saat masih kelas X. Kemudian mengikuti seleksi dan terpilih untuk dikirim ke Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Pontianak. “Disiplin yang kuat, nggak lemah dan mudah mengeluh. Kalau capek semua pasti capek. Disiplin dan kebersamaan yang penting. Misalnya dari makan bersama,” ceritanya tentang persiapan sebelum pengibaran bendera.

Anak pasangan Kho Kim Tek dan Tan Tjai Hong ini ternyata juga hobi berolahraga. Hal itu tampaknya mendukung penampilannya yang tegap dan fisiknya yang kuat saat bertugas mengibarkan bendera.(bar)

Berita Terkait