Tampilkan Musik Heroik Mengenang Hasan dan Husein

Tampilkan Musik Heroik Mengenang Hasan dan Husein

  Senin, 8 Agustus 2016 09:27
PUKAU PENONTON: Dol Arastra asal Bengkulu saat tampil di Rainforest World Music Festival di Sarawak, Malaysia tadi malam. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dol Arastra asal Bengkulu ikut memeriahkan Rainforest World Music Festival (RWMF) 5-7 Agustus 2016 di Sarawak, Malaysia. Grup musik ini menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang tampil dalam even musik tahunan akbar itu.  

IDIL AQSA AKBARY dan SHANDO SAFELA, Sarawak

Tujuh buah gendang berukuran besar tersusun hampir memenuhi panggung utama (Jungle Stage), Rainforest World Music Festival (RWMF) di Sarawak Culture Vilage, Kuching, Sarawak, Malaysia, Jumat (5/8) malam. Waktu hampir pukul 22.00, teriakan penonton masih bergemuruh usai penampil sebelumnya di panggung yang bersebelahan (Tree Stage).

Tak lama berselang pembawa acara langsung menyapa penonton untuk pindah ke Jungle Stage. Penampil selanjutnya ini, menjadi yang ditunggu-tunggu penulis karena satu-satunya grup musik asal Indonesia.

Tanpa berlama-lama, gendang tradisonal khas Bengkulu yang disebut Dol itu langsung bergemuruh ditabuh para pemainnya. Sesekali tempo musik dimainkan, ritme tabuhan melambat kemudian kembali bergemuruh. Ribuan penonton yang memadati venue utama seolah terhipnotis, mereka menari mengukiti irama.

Para pemain, yaitu tujuh laki-laki yang mengenakan kostum merah-merah itu terlihat sangat atraktif. Dol yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan berat sekitar 25 kilogram dimainkan dan diangkat ke sana kemari. Kurang lebih selama 30 menit pertunjukan, mereka seolah trans. Hingga pertunjukan tuntas tak satupun terlihat kelelahan, mereka masih tersenyum menyapa para penonton di salah satu festival terbesar di Asia itu.

Ditemui usai pertunjukan, Manager dari Dol Arastra, Edy Utama menjelaskan, seni musik gendang Dol ini merupakan salah satu tradisi Islam atau ritual yang hidup di masyarakat Bengkulu. Kesenian ini dibawa dari timur tengah yang merupakan bagian dari budaya yang disebut Tabot.

Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein dalam peperangan. Upacara ini selalu diperingati tiap tahun. “Upacara ini memang menggambarkan ritual yang sangat heroik, untuk mengenang kepahlawanan Hasan dan Husein,” jelasnya.

Sebagai kegiatan budaya yang selalu ditunggu oleh masyarakat setiap tahunnya, pertunjukan ini dapat melibatkan semua elemen masyarakat dan menjadi tontonan bagi mereka. “Lahir dari timur tengah tradisi ini berkembang di dua tempat di Sumatera, selain di Bengkulu juga di Kota Pariaman,” ungkapnya. 

Seiring perkembangan zaman, selain untuk mengiringi upacara Tabot, permainan gendang Dol dikembangkan menjadi seni pertunjukan di luar ritual seperti dalam festival kali ini. “Dari prosesi kegiatan budaya, kemudian teman-teman mengambilnya menjadi musik pertunjukan,” katanya. 

Karena itu, permainan Dol berkembang melalui banyak eksplorasi. Namun beberapa pakem tetap dipertahankan sehingga identitas sebagai musik ritualnya masih kental terasa. “Jika mengikuti tradisi awal musiknya sangat monoton, variasi dan motifnya juga tidak banyak, untuk pertunjukan kami buat dengan dinamika yang lebih menarik,” ucapnya. 

Dia berharap melalui even skala internasional ini musik tersebut bisa dikenal lebih luas. “Semoga akan banyak even internasional lainnya bisa kami ikuti. Sehingga bisa saling mengenal sebab musik sangat universal,” imbuhnya.

Dia pun mengaku sangat bangga sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang tampil di even tersebut. Apalagi di sana mereka bisa dipertemukan dengan banyak suku bangsa dari seluruh dunia. Sekaligus membawa misi memperkenalkan seni budaya khas Indonesia. 

“Ada 16 negara yang hadir, tentu menjadi kebanggan bisa mewakili Indonesia. Apalagi ini merupakan fertival musik terbesar di Asia, kami dapat kesempatan tampil tentu luar biasa,” pungkasnya. 

Terkait persiapan menghadapi RWMF 2016, salah satu pemain Osha mengatakan, proses latihan menghadapi RWMF sudah cukup lama. Karena memang mereka sebelumnya sudah sering tampil di berbagai tempat. Latihan fisik menjadi utama kerena intensitasnya cukup tinggi. 

“Masyarakat Bengkulu berharap sekali musik ini bisa terkenal di seluruh dunia. Jadi ada salah satu alat musik khas dari Bengkulu yaitu Dol bisa dikenal oleh seluruh masyarakat dunia,” harapnya.

Seperti diketahui, sampai saat ini, Dol Arastra sudah beberapa kali tampil di berbagai fertival internasional dan nasional. Seperti di Solo International Music Etnik, Singapura Art Festival, Sawahlunto Art Festival dan banyak lagi even skala nasional lainnya. (*)

Berita Terkait