Taman Nasional Komodo dan Konektivitas yang Mendesak untuk Diperbaiki

Taman Nasional Komodo dan Konektivitas yang Mendesak untuk Diperbaiki

  Jumat, 11 December 2015 08:01
Foto Nanang Prianto/Jawa Pos

   Keindahan Taman Nasional Komodo sudah begitu kondang. Minat turis untuk berkunjung ke tempat itu pun semakin tinggi. Sayang, gugusan 170 pulau tersebut masih sulit dan mahal untuk dinikmati.

     NANANG PRIANTO, Labuan Bajo

   

   DATANGLAH senja hari ke Pelabuhan Labuan Bajo. Dari tebing di bibir pantai, kemilau keemasan air laut yang berhias gugusan pulau akan terhampar di hadapan Anda.   Sapalah orang-orang di sana. Senyum semringah dan keramahan khas Flores akan menyambut Anda. Satu ucapan selamat datang yang sulit dilupakan.   Aura wisata begitu terasa di Labuan Bajo. Memang belum sebaik Bali. Bahkan, sangat jauh bedanya. Namun, geliat masyarakat setempat untuk menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak perekonomian begitu tampak. Di sepanjang jalanan meliuk yang membelah perbukitan Kota Labuan Bajo, bertebaran biro jasa yang menyediakan layanan wisata ke Taman Nasional Komodo (TNK).

   TNK adalah berkah tak terkira untuk Labuan Bajo. Bahkan Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) secara keseluruhan. Tahun ini saja, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor wisata di Labuan Bajo mencapai Rp 17 miliar.

   Itu jumlah yang besar jika melihat pendapatan asli daerah (PAD) Mabar hanya Rp 56,32 miliar. Angka kunjungan ke TNK pun semakin tinggi. Sudah menembus 70 ribu wisatawan setahun.   Potensi PNBP itu akan semakin besar dan terus membesar jika TNK sudah dikelola dengan baik. Baik dalam artian semakin mudah dinikmati wisatawan dengan tetap menjamin kelestariannya.

   Sabtu sore dua pekan lalu (28/11), tiga menteri berkunjung ke TNK. Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli, Menteri Pariwisata Arief Yahya, serta Menteri Perindustrian Saleh Husin.   Mereka datang untuk melihat kondisi terkini. Selanjutnya, memetakan apa saja yang dibutuhkan kabupaten paling barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu supaya lebih maju. Alam yang begitu indah seharusnya bisa menjadi modal utama untuk menyejahterakan rakyat di sana.     

   Masyarakat Mabar memang masih jauh dari kata sejahtera. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pendapatan per kapita di wilayah itu hanya Rp 5.451.043 pada 2013. Jika dibandingkan dengan Kabupaten Banyuwangi, pendapatan per kapita Mabar hanya sepertiganya.   Dari Bandara Komodo, Labuan Bajo, tidak butuh waktu lama untuk memotret kondisi perekonomian Mabar yang masih tertinggal. Sekitar sepuluh menit meninggalkan bandara, pada siang hari, sehari sebelum kedatangan rombongan menteri, belasan anak dengan setelan putih-hijau mengangkut pasir.

   Di bawah terik matahari yang menyengat, tangan-tangan kecil mereka tampak cekatan mengangkat karung yang diisi dua sekop pasir. Dari pinggir jalan di depan sekolah mereka, Madrasah Ibtidaiyah Al Khairiyah, menuju salah satu bangunan yang direnovasi.   Stefan Rafael, guru SMK Stella Maris Labuan Bajo, membenarkan bahwa kondisi pendidikan setempat masih minim. Siswa bekerja bakti membantu pembangunan sekolah seperti yang terjadi di madrasah itu adalah suatu hal yang biasa. "Karena kami tidak mau menyerah dengan keterbatasan yang ada,"katanya.

   SMK Stella Maris memiliki dua jurusan, perikanan dan pariwisata. Di sekolah, Stefan mengajarkan kepada siswanya cara mengelola bisnis wisata. Upaya penyelamatan di laut juga menjadi poin penting yang diajarkan.   "Karena wilayah kami mayoritas laut," ucapnya. "Disebabkan keterbatasan peralatan, kami ajarkan bagaimana menggunakan kain atau sarung menjadi pelampung," imbuh pria berkumis itu.

   Dalam benak Stefan, tidak seharusnya Labuan Bajo kekurangan dengan alamnya yang begitu indah. Baik dalam pendidikan, kesehatan, maupun bidang lain. Stefan berharap kedatangan tiga menteri ke Labuan Bajo bisa mengakselerasi terwujudnya harapan orang Mabar untuk lebih sejahtera.

   "Apabila lulus, siswa sekolah kami adalah tenaga siap pakai untuk bisnis pariwisata," yakin Stefan.   Meski tidak pernah bertemu, Rizal Ramli punya harapan dan tekad yang sama dengan Stefan bahwa sektor pariwisata harus menjadi andalan perekonomian Mabar.   "Impact industri pariwisata itu langsung. Kalau industri manufaktur butuh waktu lama untuk investasi dan lain-lain," katanya. "Seharusnya Mabar bisa seperti Yunani yang mayoritas penghasilannya dari sektor turisme," imbuhnya.

   Berbicara tentang keindahan Labuan Bajo tidak akan ada habisnya. Bagi kebanyakan orang, kadal raksasa komodo memang menjadi atraksi utama yang membuat ingin berkunjung ke Labuan Bajo dan TNK. Namun, ketika sampai di sana, akan ada begitu banyak hal yang membuat terkagum-kagum.   Pink Beach. Seperti namanya, pasir di pantai itu benar-benar berwarna merah muda. Karang berwarna pink yang hancur diterjang ombak membentuk pantai dengan warna yang begitu indah itu.

   Perairan di hadapan Pink Beach juga tidak kalah indah. Itu menjadi spot yang bagus untuk snorkeling. Ikan dan karang yang berwarna-warni serta beraneka bentuk hidup di perairan dangkal. Keindahannya sangat mudah dinikmati.   Bukit yang tepat di sisi Pink Beach juga begitu menggoda untuk dijadikan lokasi trekking. Dari atas bukit setinggi sekitar 100 meter itu, pemandangan Pink Beach dan beberapa pantai di sekitarnya benar-benar menyegarkan mata.

   Sensasi lain yang tidak kalah seru adalah berenang bersama pari manta. Ikan berbentuk pipih seperti kain berwarna hitam itu cukup bersahabat saat didekati. Ukurannya sangat besar, garis tengahnya mencapai 3 meter. Satu pengalaman yang unik bisa berenang beberapa meter di atas mereka.   Rizal, seperti dibenarkan Arief Yahya, mengakui bahwa masih ada beberapa kendala sehingga TNK belum maksimal. Konektivitasnya belum memenuhi standar daerah tujuan wisata. "Kalau peak season, sulit untuk mencari tiket ke Labuan Bajo," ucap Rizal.

   Salah satu penyebabnya, Bandara Komodo belum memiliki lampu di runway-nya. Akibatnya, aktivitas penerbangan hanya bisa dilakukan siang hari. "Paling mendesak memang lampu di landasan pacu bandara. Kami akan dorong Kemenhub untuk segera mewujudkannya karena merekalah pengelola bandara ini," papar Rizal.

   Landasan pacu yang pendek juga menghambat mobilisasi turis ke Labuan Bajo. Pesawat yang bisa landing di bandara itu masih yang berbadan kecil seperti ATR dan Bombardier. Pesawat sekelas Airbus A320 belum bisa mendarat di Bandara Komodo.

   Kondisi tersebut membuat harga tiket ke Labuan Bajo jauh lebih mahal jika dibandingkan ke luar negeri sekalipun. Bahkan, untuk orang Jakarta dan Surabaya, jauh lebih murah tiket ke Singapura, bahkan Thailand. "Karena itu, perpanjangan runway adalah hal penting lain, selain penyediaan lampu," tutur Arief saat mendampingi Rizal dalam kunjungan ke Pulau Rinca untuk menyaksikan atraksi komodo.

   Untuk menyaksikan komodo, Pulau Rinca saat ini lebih difavoritkan jika dibandingkan dengan Pulau Komodo. Lokasi Pulau Rinca lebih dekat dengan Labuan Bajo, separo perjalanan jika dibandingkan ke Pulau Komodo. Selain itu, di Pulau Rinca, populasi komodo lebih banyak. "Pulau Komodo lebih banyak dikunjungi turis yang naik kapal pesiar," kata Donatus Dala, kepala penjaga Pulau Rinca.

   Di tempat terpisah, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Arif Wibowo mengakui bahwa Labuan Bajo sekarang menjadi salah satu rute favorit wisatawan domestik maupun mancanegara. Buktinya, tingkat isian penumpang (load factor) tiga kali penerbangan dalam sehari ke Labuan Bajo sangat tinggi. "Sekarang load factor ke Labuan Bajo hampir 100 persen, apalagi kalau weekend," ujarnya melalui pesan singkat.

   Karena itu, dia menyambut baik usulan Rizal Ramli agar Garuda Indonesia menambah frekuensi penerbangan ke Labuan Bajo. Arif mengatakan bahwa Garuda masih melakukan riset untuk menentukan tambahan penerbangan yang bisa dilakukan ke Bandara Komodo. "Kami hitung dulu potensi penumpang, rotasi pesawat, slot, dan lain-lain. Kami harap secepatnya," kata Arif.       Ismail Ning, presiden komisaris PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk, menilai konektivitas TNK sudah sangat mendesak untuk diperbaiki. Perlambatan perekonomian Indonesia seharusnya menjadi momentum bagi pariwisata untuk menjadi mesin pertumbuhan baru, termasuk TNK.   "Selain lebih mahal, saat ini kita masih kesulitan untuk mencari tiket maupun paket berwisata yang nyaman ke TNK," jelasnya. (*)