Taman Nasional Betung Kerihun

Taman Nasional Betung Kerihun

Minggu, 24 January 2016 07:41   1

Leo Sutrisno

TAMAN Nasional Betung Kerihun (TNBK) merupakan salah satu dari kekhasan Provinsi Kalimantan Barat di tingkat dunia. Pada laman resmi Unesco-World Heritage Concervation, disebutkan bahwa pada tanggal 2 Februari 2004, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Indonesia mengusulkan TNBK menjadi ‘Transborder Rainforest Heritage of Borneo’. Transborder-lintas batas- merujuk pada wilayah yang mencakup dua taman nasional Sarawak-Malaysia, Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary (LEWS) dan Batang Ai National Park (BANP), serta satu taman nasional di Kalimantan Barat-Indonesia, TNBK. (Albertus Tjiu, M. Hermayani Putera dan Syahirsyah, 2013).

Dalam usulan itu disebutkan bahwa TNBK berada di Kabupaten Kapuas Hulu yang membentang di Kecamatan Embaloh Hulu, Embaloh Hilir, dan Putussibau seluas 800.000 Ha. Luas ini mencakup hampir 28% luas daerah Kabupaten Kapuas Hulu. Secara umum, TNBK memiliki curah hujan yang tinggi, menurut Kalsifikasi Schmidt and Ferguson termasuk Tipe A-basah dengan Q=2.6%.

Topografis TNBK membentang pada ketinggian antara 150 – 2.000m dpl- di atas permukaan air laut. Sekitar 38%-nya membentang pada  ketinggian 200-500 m dpl dan hanya sekitar 5% kurang dari 200m dpl dan 1% pada ketinggian di atas 1.500m dpl.

Karena hampir sekitar 61% kawasan ini memiliki kemiringan di atas 45 derajad maka TNBK juga terkesan berbukit-bukit / bergunung-gunung (179 bukit/gunung) di dalam  hamparan ratusan sungai-sungai. Beberapa gunung yang dikenal luas adalah gunung/bukit Betting (1.400m) dan Condong (1.240m) di DAS Embaloh, gunung Lawit (1.770m) di DAS Sibau, gunung Jemuki (1.300m) dan Cemaru (1.118m) di DAS Kapuas/Koheng, serta gunung Kerihun (1790m) dan Dayang (1.645m) di DAS Bungan.

Dalam The Jakarta Post, kontributor Pontianak, Lily G, Nababan (18 Maret 2014), menuliskan bahwa nama Betung Kerihun diambil dari nama gunung Betung (Betting?) di sebelah barat (DAS Embaloh) dan gunung Kerihun di sebelah Timur (DAS Bungan).  Pada mulanya kawasan ini lebih dikenal sebagai kawasan konsevari alam Bentuang Karikum yang mencakup sekitar 600.000 Ha wilayah (ditetapkan oleh Menteri Kehutanan, 1982). Pada tahun 1992, sepuluh tahun kemudian, kawasan dimekarkan menajdi 800.000 Ha. Sejak tanggal2 September 1999, nama Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) resmi digunakan. 

Dalam Laman resmi Taman nasional Betung Kerihun dinyatakan bahwa karena  bentang alam yang unik dan  keanekaragaman hayati yang tinggi, TNBK memiliki beberapa destinasi wisata yang menarik dan penuh tantangan bagi mereka yang senang dengan penjelajahan dan petualangan. Selain itu, TNBK juga memberikan kesempatan lebar bagi para peneliti untuk mengeksplorasi potensi keanekaragaman hayati atau mengkaji topik-topik tertentu (seperti antropologi, sosiologi, dll) di TNBK dan sekitarnya.

Laman resmi World WWF- "World Wildlife Fund" menyebut karena  ekossistem yang unik TNBK kaya akan keanekaragaman hayati. Ada beranekaragam tetumbuhan, binatang, burung dan ikan. Tercatat TNBK merupakan haabitat yang cocok bagi 1.200 spesies tetumbuhan, 44 spesies mamalia, 301 spesies burung dan 112 spesies ikan.

WWF juga mencatat ragam masyarakat yang bermukim di dalam dan di sekitar kawasan TNBK. Ada delapan kelompok etnis. Mereka itu adalah: masyarakat Dayak Iban, Tamambaloh, Taman Sibau, Kantu, Kayan Mendalam, Bukat Mendalam, Bukat Metelunai and Punan Hovongan. Masyarakat ini mendiami beberapa lokasi, baik di dalam taman - Nanga Bungan dan Tanjung Lokang dan di sekitar taman - Sadap, Banua Martinus, Ulu Palin, Nanga Potan, dan Nanga Ovaat.

Sebuah laporan penelitian dengan judul ‘Connecting Diversity People and Nature of Labian-Leboyan Corridor In the Indonesian Heart of Borneo’ (Tim Editor terdiri atas Peter Widmann dari Katala Foundation;  Albertus Tjiu, M. Hermayani Putera, Syahirsyah dan  Stephan Wulffraat dari WWF-Indonesia, 2012) memberikan sajian cukup rinci tentang keanekaragaman yang sangat tinggi di ‘koridor Labian-Leboyan’. Koridor Labian-Leboyan, merupakan sepotong sungai yang menghubungkan antara TNBK dan danau Sentarum sepanjang 90 km. Sajiannya tidak hanya membahas tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem-ekologinya, tetapi juga fungsi jamak dari koridor ini, termasuk hubungannya dengan manusia.

Bagi para peneliti, kawasan TNBK sungguh merupakan ‘padang pengembaraan yang tiada batas’. Sebagai ilustrasi, Hirokazu Tsukaya (Profesor Biologi dari Universitas Tokyo-Jepang) dalam kurun waktu 2011-2013 telah menerbitkan tiga temuan baru yang berasal dari TNBK. Pada tahun 2011, bersama Mutsuko Nakajima dan Hiroshi Okada (Systematic Botany 36(1):49-52) menemukan spesies baru dari marga (genus)  mycotrophic orchid-Orchidaceae yang diberi nama Kalimantanorchis nagamasui . Pada tahuan 2012, bersama-sama dengan Hiroshi Okada (Systematic Botany 37(1):53-57) ia menemukan spesies baru dari marga Thismiaceae yang diberi nama Thismia betung-kerihunensis. Dan, pada tahun 2013, mereka berdua mengunggah lagi temuan spesies baru dari marga Lecanorchis yang diberi nama Lecanorchis betung-kerihunensis.

Mudah-mudahan kiprah profesor Tsukaya seperti ini menjadi pendorong bagi para peneliti Kalimantan Barat, terutama dari Universitas Tanjungpura untuk ‘mengaduk-aduk’ harta karun kekayaan ilmiah yang tersembunyi di kawasan TKBK ini. Semoga!**

Leo Sutrisno