Taman Anggrek Hitam Selimbau Lebih Baik dari Taman Anggrek Peru

Taman Anggrek Hitam Selimbau Lebih Baik dari Taman Anggrek Peru

  Sabtu, 16 April 2016 07:03
PESONA: Anggrek hitam di Selimbau Kapuas Hulu.

Berita Terkait

TIDAK hanya memiliki jejak peninggalan sejarah kerajaan tertua di Kabupaten Kapuas Hulu, Kota Selimbau juga memiliki Taman Anggrek Hitam yang bagi siapa saja melihatnya pasti terpesona. Tak heran jika ada yang mengklaim Taman Anggrek Hitam Selimbau lebih baik dari Taman Anggrek di dataran tinggi Peru.

Sore itu, Abang Walidad mengajak saya untuk melihat makam para Raja Selimbau yang terletak tak jauh dari kediamannya. Tepat di belakang komplek makam itu, terdapat pintu gerbang yang bertuliskan Taman Anggrek Hitam Selimbau, sebuah pusat laboratorium alam.

Saya pun tertarik untuk melihatnya dari jarak dekat. Namun sayang, pintu gerbang terbuat dari kayu itu tergembok, sehingga harus meminta juru kunci untuk membuka gembok itu. Saya ditemani Anai, sang juragan kapal Bandong KM  Cahaya Borneo menemui Abang Hermansyah, sang juru kunci untuk mengambil kunci gerbang Taman Anggrek Hitam itu.

“Di sini, setiap tempat ada juru kuncinya. Seperti makam ini dan Taman Anggrek Hitam ini. Jadi setiap turis yang ingin masuk harus minta izin dari sang juru kunci,” ujar Abang Walidad.

Saya semakin penasaran. Setelah mendapat izin dari sang juru kunci dan mendapatkan kunci gerbang itu, kami pun bergegas kembali ke komplek makam para Raja Selimbau itu. Abang Walidad membuka gerbang. “Ini lah Taman Anggrek Hitam liar di sini,” tunjuk Abang Walidad.

Beberapa langkah melintasi pintu gerbang itu, saya langsung melihat serumpun anggrek tumbuh di batang pohon tua. “Ini Anggrek Hitam,” kata Walidad menjelaskan kepada saya.

Namun sayang, anggrek langka itu tidak sedang berbunga. Saya semakin penasaran. Walidad terus mengajak saya untuk semakin jauh ke dalam menyusuri taman yang diresmikan oleh Bupati Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2007 silam itu.

“Sepertinya ada sudah berbunga, tapi ada juga yang belum. Ini sudah ada buahnya. Dan di situ baru timbul kuncup. Calon bunga,” kata Walidad menjelaskan kepada kami. Menurut Walidad, musim bunga anggrek biasanya jatuh pada bulan April dan September. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi pergeseran musim.

Wah sayang sekali. Padahal saya berharap mekarnya Anggrek Hitam ini bisa mengobati rasa lelah saya selama perjalanan berhari-hari di atas Kapal Bandong menyusuri Sungai Kapuas.    

Setelah beberapa menit berkeliling menyusuri taman anggrek liar itu, Walidad pun mengajak saya untuk menyusuri sungai-sungai kecil tak jauh dari komplek pemakaman para Raja Selibau dengan menggunakan sampan. (arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait