Taksi Jangan Marah

Taksi Jangan Marah

  Jumat, 1 April 2016 10:02

Berita Terkait

SERAM melihat aksi mencekam para ribuan sopir taksi konvensional yang tumpah ruah di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, sambil mogok kerja pada 22 Maret kemarin. Mereka menuntut taksi berbasis aplikasi online, Uber dan GrabCar, diblokir. Mereka memprotes persaingan terhadap taksi berbasis aplikasi online yang katanya merugikan banyak pendapatan dari taksi konvensional itu sendiri. Sebab, banyak penumpang yang beralih ke taksi berbasis aplikasi online.

’’Sejak kehadiran taksi berbasis aplikasi online, pendapatan saya turun dari semula Rp 120 ribu menjadi Rp 50 ribu per hari,’’ ungkap Aris, salah seorang driver taksi konvensional biru di Surabaya.

Hmm. Pesatnya teknologi emang nggak bisa dibendung. Tapi, kalau kita nggak adaptif, terus harus nyalahin orang lain? Lihat tuh, Pak Pos aja nggak pernah marah sama e-mail, SMS, Line, dan BBM karena mengambil pelanggan mereka. Nah, apa sih yang diributkan para driver taksi konvensional?

Pertama, jumlah penumpang yang berkurang sehingga taksi konvensional khawatir rugi. Nah, penumpang bisa dengan gampang beralih ke taksi berbasis aplikasi online karena tarif yang jauh lebih murah. Menurut para driver, taksi berbasis online nggak dikenai pajak karena perizinan yang berbeda dengan taksi konvensional.

’’Berdasar pasal 139 ayat 4 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan di situ dijelaskan penyediaan jasa angkutan umum dilaksanakan BUMN, milik daerah, atau badan hukum lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Nah, taksi berbasis aplikasi online dinilai Kementerian Perhubungan belum memiliki status itu. Mereka tidak harus ikut uji kir, memiliki pangkalan, dan lainnya,’’ ujar Dr Zahry Vandawati Ch SH MH, dosen Hukum Transportasi Universitas Airlangga Surabaya.

Nah, hingga saat ini, Grab dan Uber udah mulai mengurus badan usaha mereka sebagai koperasi. Sayangnya, taksi berbasis aplikasi online dan konvensional emang belum bisa disetarakan karena regulasinya belum pas. ’’Uber dan Grab harus memperoleh perlindungan hukum. Regulasi soal itu tidak harus dibuat khusus. Hanya, harus ditambahkan dengan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang harus mengacu pada UU ITE,’’ jelas Vanda.

Setelah aksi protes dari sopir taksi konvensional, ternyata para pengemudi taksi berbasis aplikasi online juga nggak tenang. Mereka waswas terkait dengan pengoperasian layanan mereka. ’’Saat ini saya merasa resah. Sebab, terjadi gesekan antara pengemudi taksi konvensional dan taksi berbasis aplikasi online. Saya sering merasa dipojokkan. Padahal, kami sama-sama sedang mencari uang,’’ kata salah seorang driver Uber di Surabaya.

Tuh, intinya jangan marah. (har/c14/wka)

Berita Terkait