Tak Selalu Pria yang Bayar

Tak Selalu Pria yang Bayar

  Sabtu, 16 April 2016 09:11
Makan malam

Berita Terkait

Pacaran  bukanlah  untuk memiskinkan salah satu pihak. Jujurlah dengan pasangan, agar bisa saling memahami kondisi satu sama lain, termasuk soal uang. Tak ada salahnya wanita yang membayarkan makanan ketika kecan, ini pun tak lantas menurunkan harga diri seorang lelaki. Terutama ketika kondisi keuangannya lagi bermasalah. Oleh : Marsita Riandini

URUSAN membayar biaya saat kencan berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lainnya. Meski demikian, sebagian wanita menganggap hal itu merupakan kewajiban seorang pria. Ini terus berkembang dari tahun ke tahun, tak heran bila setiap mengajak sang pacar makan di suatu tempat, si prialah yang harus membayar. Lantas apakah ini sebuah keharusan? Atau perlukah dalam relationship atau PDKT, sebaiknya keseimbangan selalu harus ditanamkan. Tidak lagi ada istilah  “berat sebelah”, mulai dari hal usaha atau perjuangan mempertahankan hubungan, hingga masalah uang?

Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Ch.t., Psikolog mengatakan bahwa setiap hubungan yang di jalani antara satu pasangan dengan pasangan lain memang tidaklah sama. Ini juga bergantung dari konsep yang dipikirkan oleh masing-masing orang. “Ada yang menganggap bahwa saat makan, selalu pria yang membayar. Tetapi ada pula yang tidak masalah kalau wanita yang membayar. Ini tidak bisa digeneralisasi antara satu pasangan dengan pasangan lainnya,” ucap Psikolog di RS. Sultan Syarif Muhammad Alkadri ini.

Prinsip hidup masing-masing orang juga mempengaruhi hal tersebut. Dia menjelaskan ketika seseorang yang menganggap adanya kesamaan gender antara pria dan wanita, maka untuk soal membayar saat makan pun harusnya dia tidak mempermasalahkan siapa yang bayar, mau pria ataupun si wanitanya. “Persamaan gender itu khan berarti adanya kesamaan hak, juga ada tanggungjawabnya. Jadi ini tidak akan menjadi masalah, siapapun yang membayar saat makan bersama,” papar dia.

Tapi akan berberbeda kata dia, ketika seseorang masih memegang konsep kultur, bahwa lelaki berada di jenjang yang paling tinggi. Ada norma yang diyakini bahwa lelakilah yang bertanggung jawab pada banyak hal, terutama soal membayar ketika kencan. “Belum lagi jika dia berpegang pada keyakinan dan sebagainya. Jadi memang ini bergantung sudut pandang yang mana,” tambahnya.

Pahami pula bahwa ada pria yang merasa bahwa dia lebih percaya diri ketika dia yang membayar. “Ada pria yang merasa bahwa ketika membayar dia lebih di hargai. Bahkan ketika dia membayarnya langsung ke kasir. Bahkan ada pula pria yang tak membiarkan pacarnya membayar apapun” ucap dia.

Tidak menutup kemungkinan, lanjut Maria pasangan yang memiliki konsep yang berbeda. Si wanita merasa tidak apa-apa jika membayarkan makan malam yang dilakukan bersama, tetapi pria merasa itu harga dirinya. Dia enggan dibayarkan. Lantas bagaimana menghadapi situasi seperti ini? Tentu saja kata Maria setiap pasangan harus saling memahami dan menghargai satu sama lain. Komunikasi tetap menjadi jalan keluar terbaik untuk mengatasinya.  

Biasanya, soal bayar membayar saat makan bersama pasangan ini juga dijadikan tolak ukur, apakah pria tersebut sudah dinilai mapan untuk melangkah serius ke jenjang pernikahan atau tidak. Tetapi, hal tersebut ungkap Maria juga tidak bisa menjadi tolak ukur sepenuhnya. Sebab ada pria yang tiba-tiba bisa berubah setelah menikah. “Tadinya mungkin apa-apa dia yang bayar. Setelah menikah, ternyata berubah menjadi pelit. Apalagi jika tujuan awalnya karena si wanita kaya,” pungkasnya. **

Berita Terkait